Pernahkah kita merasa gelisah atau cemas ketika melihat teman-teman mengunggah foto liburan di media sosial, membeli barang-barang terbaru, atau mengikuti tren yang sedang viral? Jika ya, kemungkinan besar Kita sedang mengalami FOMO, atau Fear of Missing Out. FOMO bukan sekadar perasaan biasa, melainkan sebuah fenomena psikologis yang membuat seseorang merasa takut ketinggalan momen, tren, atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.
Fenomena ini sangat marak di kalangan anak muda, khususnya Gen Z dan milenial. Media sosial, terutama TikTok, menjadi pemicu utama. Algoritma yang cerdas seolah tahu persis apa yang kita sukai, menyajikan konten-konten singkat yang memicu rasa penasaran dan keinginan untuk terus menggulir layar. Bayangkan, sebuah postingan sederhana dari idola K-Pop yang memamerkan boneka labu tiba-tiba membuat boneka tersebut menjadi barang buruan di berbagai negara. Ini adalah contoh nyata bagaimana FOMO bekerja, menciptakan permintaan masif hanya dalam sekejap.
Ketika FOMO Menjadi Ladang Bisnis dan Jebakan Finansial
FOMO tidak hanya memengaruhi psikologi, tetapi juga menjadi strategi jitu bagi para pebisnis. Istilah FOMO marketing lahir dari sini. Mereka memanfaatkan rasa takut ketinggalan kesempatan untuk mendorong konsumen melakukan pembelian secara impulsif. Penawaran produk dengan waktu terbatas atau diskon kilat adalah taktik umum yang membuat kita merasa harus segera membeli atau akan menyesal. Media juga ikut andil, menciptakan atmosfer di mana kita merasa harus memiliki sesuatu untuk bisa “masuk” atau dianggap up to date.
Dampaknya? Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 60% milenial membeli atau menyewa sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena FOMO. Budaya konsumtif ini pada akhirnya menjerat mereka dalam masalah finansial. Di sinilah pay later menjadi “obat penenang”. Prinsip “beli sekarang, bayar nanti” seolah memberikan kelegaan instan, padahal justru memicu utang yang membengkak. Tak heran jika 70% pengguna pay later adalah anak muda. Mereka terjebak dalam siklus memenuhi standar FOMO dan berakhir sebagai manusia yang bergantung pada pinjaman online (pinjol).
Media Sosial dan Ancaman Kesehatan Mental
Di balik hiburan yang ditawarkan, media sosial seperti TikTok menyimpan sisi gelap. Penelitian oleh Mardiana dan Maryana (2024) menunjukkan fakta mengejutkan: 70% anak muda yang sering menggunakan TikTok mengalami stres, dan 60% merasa cemas. Meskipun video pendek dan bervariasi sangat menarik dan sesuai dengan rentang perhatian yang cenderung singkat, penggunaan berlebihan justru membawa dampak negatif.
Rasa takut ketinggalan tren terbaru membuat mereka terus-menerus scrolling, menambah tekanan mental. Konten yang serba sempurna dan glamor juga memicu perasaan tidak cukup baik, membuat banyak orang rela mengikuti tantangan atau tren viral hanya agar terlihat keren, seksi, atau “kekinian”.
Algoritma yang kuat, yang seharusnya menjadi keunggulan, justru menjadi racun. Video yang diatur sedemikian rupa untuk terus menarik perhatian dapat menyebabkan brain rot, yaitu kondisi di mana otak menjadi tumpul akibat kecanduan konten-konten yang tidak berbobot. Kondisi ini semakin buruk pada seseorang dengan tingkat literasi rendah.
Apa itu Brain Rot?
Brain rot terjadi karena beberapa alasan. Pertama, dopamin rush. Konten-konten receh yang pendek dan lucu memicu pelepasan dopamin, membuat otak terbiasa mendapatkan “hadiah” instan. Ini yang membuat kita ingin terus menggulir layar. Kedua, tentu saja, FOMO itu sendiri, yaitu rasa takut ketinggalan tren viral. Dan yang ketiga, kemudahan akses. Cukup dengan satu sentuhan jari, kita bisa mendapatkan hiburan tanpa perlu berpikir keras.
Dampak dari brain rot sangat nyata. Rentang fokus (attention span) menurun karena terbiasa mengonsumsi konten singkat. Produktivitas menurun karena waktu habis hanya untuk scrolling. Dan yang tak kalah penting, kelelahan mental (mental fatigue) akibat otak yang kelebihan informasi tidak penting.
Mengatasi FOMO dan Mencegah Brain Rot
Kabar baiknya, Anda bisa mengatasi fenomena ini. Langkah pertama adalah membatasi waktu penggunaan media sosial. Tetapkan jadwal khusus, misalnya 30 menit di pagi hari dan 30 menit di malam hari. Kedua, kurasi konten Anda. Unfollow akun yang membuat Anda merasa tidak nyaman atau cemas, dan follow akun-akun yang inspiratif atau edukatif. Terakhir, ganti aktivitas dengan kegiatan yang lebih produktif, seperti membaca buku, berolahraga, atau bermeditasi.
FOMO mungkin sulit dihindari di era digital ini, tetapi kita bisa mengendalikan dampaknya. Dengan kesadaran dan disiplin, kita bisa memutus rantai FOMO yang menjerat dan kembali fokus pada kehidupan nyata yang lebih bermakna.








