Lehitu, Maluku Tengah – Negeri Hitulama di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang memikat. Terletak sekitar 12,7 km dari pusat Kota Ambon, desa ini berada di pesisir Pantai Utara Pulau Ambon dan mayoritas penduduknya beragama Islam. Dikenal sejak lama sebagai bagian dari Kerajaan Islam Jazirah Leihitu, Negeri Hitulama juga memiliki pelabuhan bersejarah, Pelabuhan Huseka’a Hitu, yang pada masa lalu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah. Hingga kini, pelabuhan ini tetap aktif dan melayani rute penyebrangan dari Hitulama ke pulau-pulau lain di Maluku.
Pada Sabtu, 22 November 2024, Negeri Hitulama mendapatkan kehormatan sebagai lokasi pelaksanaan pelatihan “Desa Wisata Berbasis Digital” dari Pusat daya saing Badan Pengembangan Informasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Pusdaing BPI Kemendes PDT), dalam rangka implementasi program Desa Cerdas 2024. Pelatihan ini diadakan di SMPN 49 Maluku Tengah, dengan partisipasi aktif para pemuda-pemudi setempat.
Wakil Ketua Saniri Negeri Hitulama, Zei Wael, mengungkapkan apresiasinya atas terselenggaranya pelatihan ini. “Kami sangat bersyukur bahwa Negeri Hitulama terpilih untuk menerima pelatihan dari Kementerian. Semoga ini menjadi dorongan bagi para pemuda di Negeri Hitulama untuk lebih mempromosikan keindahan dan potensi negeri kami,” ujarnya.
Sementara itu, Arif Kurniawan, Perencana Pertama Pusat Pengembangan Daya Saing Kemendes RI, menyampaikan harapannya agar pelatihan ini dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan dan memprioritaskan desa mereka sebagai tujuan wisata unggulan.
Materi pelatihan mencakup teknik fotografi, videografi, jurnalistik, serta cara membuat konten media sosial yang efektif. Pelatihan ini dipandu oleh Ika Chairani, Bidang Komunikasi Publik dan Humas Relawan TIK Jawa Timur yang memiliki pengalaman sebagai pelatih public speaking dan seorang jurnalis.
Peserta pelatihan, yang sebagian besar terdiri dari pemuda-pemudi Negeri Hitulama, tampak antusias menyerap materi yang diberikan. Mereka juga langsung mempraktikkan ilmu yang didapat dengan mengunggah hasil karya mereka ke media sosial masing-masing, memulai langkah awal untuk mengenalkan pesona Negeri Hitulama ke dunia digital.
GORONTALO|Desa Kaaruyan, yang terletak di Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, merupakan salah satu desa yang mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi melalui penerapan digitalisasi. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat, mendorong perekonomian, serta memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Pada hari ini, 22 November 2024, Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK) bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) melaksanakan kegiatan bertajuk “Jejaring Kemitraan Implementasi Desa Cerdas Fase 2”. Kegiatan ini mengusung tema “Pelatihan Teknik Pengambilan Foto dan Editing Video untuk UMKM”, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas digital masyarakat di Desa Kaaruyan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.
Kegiatan ini menghadirkan Sri Hariati, narasumber dari Relawan TIK Jawa Timur (RTIK Jatim), yang memberikan paparan materi yang sangat relevan untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa. Adapun materi yang disampaikan mencakup:
Teknik pengambilan foto produk dan video konten, termasuk tata cara menonjolkan kualitas dan keunikan produk UMKM melalui visual yang menarik. Penggunaan perlengkapan dan peralatan sederhana yang dapat membantu proses pengambilan gambar dan video, baik dengan perangkat profesional maupun alat yang mudah dijangkau seperti ponsel. Teknik editing foto dan video konten menggunakan aplikasi populer seperti CapCut, Video Maker, dan InShot, yang dirancang untuk membantu pelaku UMKM menghasilkan konten kreatif dengan mudah.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat Desa Kaaruyan, di antaranya pemuda desa, Karang Taruna, perangkat desa, serta warga yang memiliki usaha kecil menengah. Semua peserta menunjukkan semangat yang tinggi selama pelatihan, terutama saat sesi praktik pengambilan foto dan pembuatan video. Para peserta juga mencoba langsung mengedit konten menggunakan aplikasi yang telah diajarkan, sehingga mereka dapat langsung memahami dan mempraktikkan ilmu yang diperoleh.
Sri Hariati menekankan pentingnya kemampuan digital dalam memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal. Dalam paparan beliau, dijelaskan bahwa memanfaatkan teknologi dengan optimal dapat menjadi kunci keberhasilan UMKM dalam era digital ini.
Warga Desa Kaaruyan menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap pelatihan ini. Mereka merasa kegiatan ini sangat bermanfaat dalam memberikan wawasan baru, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pengembangan usaha mereka. Peserta berharap agar pelatihan seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin, sehingga mereka dapat terus belajar dan mengembangkan kemampuan mereka di bidang digital.
Sebagai narasumber, kami dari Relawan TIK merasa bangga dapat berkontribusi dalam kegiatan ini. Besar harapan kami agar program serupa dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan di berbagai desa lainnya. Keterlibatan kami dalam digitalisasi desa merupakan wujud komitmen untuk mendukung kemajuan masyarakat di era digital. Kami percaya bahwa dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, desa-desa di Indonesia, termasuk Desa Kaaruyan, dapat semakin cerdas dan mandiri.
Kegiatan ini merupakan langkah awal yang signifikan dalam mengembangkan potensi digital masyarakat desa, sekaligus mendukung visi Desa Cerdas yang menjadi prioritas Kemendes PDT. Kami berharap, dengan semangat kolaborasi ini, Desa Kaaruyan dapat menjadi contoh desa yang sukses dalam mengimplementasikan digitalisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi local.
Lombok Timur – Relawan TIK Jawa Timur kali ini (22/11) mendapat bagian dalam kegiatan jejaring kemitraan Pusdaing BPI Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk menjadi Narasumber yang diselenggarakan di desa Montong Betok, kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur. Berkesempatan menjadi narasumber kali ini adalah ketua umum Relawan TIK Jawa Timur Muhajir Sulthonul Aziz, S.Kom, M.I.Kom, yang membawakan materi tentang Fotografi dan Videografi.
Dibuka oleh kepala Desa Montong Betok dengan dukungan dan semangat kepada para peserta yang hadir agar senantiasa meningkatkan pengetahuannya terkait transformasi digital, karena salah satu unsur yang bisa didorong untuk kemandirian desa melalui penciptaan lapangan kerja atau wirausaha oleh warga. Diikuti oleh 30an peserta yang berasal dari unsur pemuda dan pengusaha dilingkup desa Montong Betok tersebut.
Antusias peserta mendengarkan paparan yang disampaikan oleh pemateri sangat luar biasa, suasana interaktif terjadi dimana didalam materi fotografi tersebut juga ditambah dengan padangan bisnis didunia fotografi serta pariwisata agar pemuda desa dan warga bisa mendukung kemandirian desa Montong Betok sebagai implementasi salah satu pilar Desa Cerdas Kementrian Desa yaitu Ekonomi Cerdas.
Kudu Gantiang, 22 November 2024 – Kantor Desa Nagari Kudu Gantiang menjadi saksi pelaksanaan pelatihan kreatif bertema Photography dan Videography yang berlangsung dengan sukses hari ini. Acara ini menghadirkan Miftakul Huda, narasumber dari Relawan TIK Jawa Timur, yang membagikan ilmu seputar dunia fotografi, videografi, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Dalam pelatihan ini, peserta diajarkan berbagai teknik penting dalam fotografi dan videografi. Huda menyampaikan tips praktis untuk menghasilkan visual yang berkualitas, seperti pengaturan pencahayaan, komposisi gambar, dan pemilihan sudut pengambilan gambar yang menarik.
“Visual adalah medium yang sangat kuat untuk bercerita. Dengan memahami teknik dasar fotografi dan videografi, kita bisa menyampaikan pesan yang lebih efektif kepada audiens,” ujar Huda dalam sesi pelatihannya.
Lebih dari sekadar teori, pelatihan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta melalui sesi praktik. Para peserta diminta untuk mengaplikasikan ilmu yang baru mereka dapatkan dengan membuat foto dan video, kemudian mengunggahnya ke media sosial masing-masing. Hal ini bertujuan untuk memperluas jangkauan informasi agar dapat dilihat oleh lebih banyak orang dan media.
Salah satu keunggulan pelatihan ini adalah pengenalan teknologi AI dalam proses kreatif. Peserta diajarkan cara menggunakan AI untuk menulis naskah berita dan video secara cepat dan efisien. Selain itu, Huda juga memandu peserta untuk memanfaatkan AI dalam pembuatan konten video yang mudah dan praktis.
“AI bukan hanya alat bantu, tetapi solusi untuk meningkatkan produktivitas dalam menghasilkan konten kreatif. Dengan AI, proses pembuatan naskah dan video bisa menjadi lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas,” tambah Huda.
Peserta terlihat sangat antusias mengikuti setiap sesi pelatihan, dari materi hingga praktik langsung. Salah satu peserta mengungkapkan, “Pelatihan ini sangat bermanfaat. Kami tidak hanya belajar teknik fotografi dan videografi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mendukung pekerjaan kami sehari-hari.”
Pelatihan ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara narasumber dan peserta. Diharapkan, kegiatan ini mampu mendorong masyarakat Desa Nagari Kudu Gantiang untuk lebih kreatif dan inovatif, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital untuk berbagai kebutuhan, baik personal maupun profesional.
Melalui pelatihan ini, Desa Nagari Kudu Gantiang mengambil langkah maju dalam mempersiapkan warganya menghadapi tantangan era digital.
Maluku Tengah | Negeri Amahai, sebuah wilayah di Pulau Seram, Kecamatan Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, memiliki daya tarik tersendiri sebagai salah satu daerah potensial di Maluku. Pada hari Jumat, 21 November 2024, sebuah pelatihan bertajuk “Desa Wisata Berbasis Digital” digelar di gedung perpustakaan Mae Lau Eko di Kota Masohi, dengan tujuan memperkenalkan potensi wisata daerah ini ke tingkat nasional. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Desa (Kemendes) dan melibatkan Relawan TIK sebagai narasumber.
Pelatihan ini dihadiri oleh pemuda-pemudi Negeri Amahai yang antusias untuk mengembangkan keterampilan mereka dalam membuat konten digital. Mereka diajarkan berbagai teknik, mulai dari pengambilan gambar untuk videografi dan fotografi, hingga editing menggunakan aplikasi CapCut yang dapat diakses melalui ponsel mereka. Tak hanya itu, para peserta juga dibekali kemampuan untuk membuat konten promosi yang dapat diunggah di media sosial sebagai bagian dari upaya mengenalkan Negeri Amahai ke masyarakat luas di luar Maluku.
Salah satu fokus dari pelatihan ini adalah membangkitkan rasa percaya diri para peserta dalam mempromosikan destinasi wisata di wilayah mereka. Narasumber mengajak setiap peserta untuk menceritakan destinasi di wilayah masing-masing, dengan tujuan tidak hanya mengenalkan keindahan tempat mereka, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan wisata tersebut.
“Kedatangan tim dari Kemendes dan Relawan TIK sebagai NGO diharapkan dapat menambah wawasan para pemuda-pemudi di sini agar lebih mahir dalam memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan potensi wisata daerah kami,” ujar ibu Paulina selaku Sekretaris Negeri Amahai.
Selain mendapatkan materi tentang pembuatan konten dan optimalisasi media sosial, para peserta juga langsung terjun ke lapangan dengan membuat konten di objek wisata Air Kawa, yang memiliki arti “air cahaya.” Destinasi ini terletak tepat di depan lokasi pelatihan, sehingga memberikan kesempatan langsung bagi peserta untuk mempraktikkan ilmu yang mereka dapatkan.
Ika, salah satu narasumber dari Relawan TIK, menyampaikan kegembiraannya atas antusiasme peserta, “Antusias para peserta membuat saya senang. Semoga ilmu yang didapatkan dapat terus dimanfaatkan untuk mengenalkan potensi daerah masing-masing.”
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para pemuda Negeri Amahai semakin termotivasi untuk mempromosikan keindahan wilayah mereka dan membuka peluang pariwisata yang lebih luas bagi Negeri Amahai dan Pulau Seram.
Jakarta – Relawan TIK Indonesia berhasil menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) ke-IV pada Sabtu, 16 November 2024, yang digelar secara hybrid di Aone Hotel Jakarta secara luring dan via zoom secara daring. Acara ini dihadiri oleh Pengurus Pusat Relawan TIK periode 2020–2024 serta perwakilan dari 22 Pengurus Wilayah aktif yang dibuktikan dengan adanya surat pengesahan. Munas ini menjadi ajang silaturrahmi, koordinasi, evaluasi kinerja organisasi, penyusunan program kerja strategis, serta pemilihan Ketua Umum baru untuk masa bakti 2024–2028.
Usai rapat koordinasi sehari sebelumnya, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas penyelenggaraan Munas Ke-IV Relawan TIK Indonesia, dengan harapan organisasi ini dapat terus dan senantiasa menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan literasi digital masyarakat.
“Melalu kesempatan ini, saya titipkan salam kepada semua Relawan TIK dimanapun berada. Selamat dan sukses untuk Munas yang Ke-IV. Kita buat komunitas teknologi informasi dan komunikasi lebih bermakna, untuk kesejahteraan masyarakat.” ucapnya di kantor Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (15/11).
Dalam proses pemilihan Ketua Umum yang dipimpin oleh Samuel Toding (Ketua Relawan TIK Maluku) sebagai Ketua Presidium Sidang, dalam proses musyawarah mengerucut dari 4 kandidat menjadi 2 kandidat, yakni Hani Purnawanti (Jawa Barat) dan Eko Prasetya (Sulawesi Tenggara). Karena tidak adanya irisan visi misi dari kedua kandidat, sebagai jalan terakhir pemilihan presidium sidang memutuskan untuk menggunakan metode pemungutan suara. Hani Purnawanti berhasil meraih dukungan mayoritas dengan 14 suara, unggul 6 suara dari pesaingnya, Eko Prasetya, yang memperoleh 8 suara.
Dalam sambutannya setelah terpilih, Hani Purnawanti menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungannya dan tekad untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan organisasi.
“Kepercayaan ini adalah amanah dan tanggung jawab besar. Saya berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi, memperluas cakupan program literasi digital, dan meningkatkan peran Relawan TIK dalam transformasi digital di Indonesia,” ujarnya.
Ia pun melanjutkan dengan permohonan maaf kepada kandidat lain dan para pendukung agar tetap bersama-sama membangun Relawan TIK Indonesia dalam mewujudkan visi misi ke depannya.
“Mohon maaf Pak Eko, hasil ini bukanlah kemenangan saya. Namun kemenangan Relawan TIK Indonesia. Suksesnya Relawan TIK pastinya jika kita bersama-sama terus berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat. Mari bangun pemberdayaan TIK yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Yang menjangkau semua lapisan dan merata ke seluruh wilayah Indonesia. Kita tingkatkan penetrasi dan hak akses TIK kepada segmentasi perempuan, disabilitas, masyarakat pedesaan hingga 3T.”
Hani Purnawanti yang sebelumnya menjabat Kepala Bidang Kemitraan dan Legal Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia Masa Bhakti 2020-2024 adalah sosok perempuan yang mandiri dan tangguh. Ia telah berhasil memimpin sebuah perusahaan mutinasional di bidang TIK yang telah bermitra dengan puluhan instansi pemerintah pusat dan daerah. Sepak terjangnya di Relawan TIK telah berperan aktif lahirnya Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Program Roadshow Edukasi Indonesia Makin Cakap Digital, Pandu Digital, dan berbagai inovasi lainnya seperti REGOS (Relawan TIK Goes to School) yang telah menyabet predikat champion pada World Summit on the Information Society (WSIS Prize) 2018 dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) International Telecommunication Union (ITU) di Jenewa, Swiss.
Dalam Sambutannya, Ketua Umum periode 2020-2024 Fajar Eri Dianto menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan dalam pengelolaan organisasi berbasis teknologi informasi. “Transformasi digital tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia yang siap mengelola perubahan. Relawan TIK harus menjadi motor penggerak yang mampu menjembatani masyarakat dengan teknologi. Terus semangat dan bangga sebagai Relawan TIK, cukup dengan satu alasan karena kita semua adalah manusia yang memiliki kepekaan sosial,” ujar Fajar dalam pidatonya penuh semangat.
Ia juga mengapresiasi semangat demokrasi dalam Munas kali ini. “Proses pemilihan yang berlangsung lancar menunjukkan kedewasaan organisasi ini dalam mengambil keputusan secara kolektif dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Hamzah Fathoni, Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar sekaligus juga sebagai Dewan Penasehat Relawan TIK Pengurus Wilayah Jawa Timur berharap dari hasil Munas akan memunculkan Kepengurusan baru yang mampu memberdayakan para anggota di seluruh cabang Kabupaten/ Kota yang ada di Indonesia.
“Alhamdulillah, dalam proses pemilihan Ketua Umum telah berjalan secara demokratis dan lancar. InsyaAllah Ketua Umum baru periode 2024-2028 akan segera membentuk kepengurusan yang akan melibatkan seluruh personel terbaik dengan kapasitas dan kapabilitas dari berbagai unsur Wilayah Propinsi maupun Cabang Kabupaten/ Kota, sehingga diharapkan bisa membawa Relawan TIK Indonesia semakin baik”, kata Hamzah Fathoni yang juga sebagai Master of Trainer Program Desa Cerdas Kementerian Desa PDT.
Munas Ke-IV ini juga membahas berbagai program strategis yang akan menjadi fokus organisasi ke depan. Beberapa poin prioritas meliputi penguatan literasi digital di daerah tertinggal, pemberdayaan masyarakat melalui teknologi, serta peningkatan kapasitas anggota Relawan TIK di seluruh Indonesia. Dengan terpilihnya Hani Purnawanti, Relawan TIK Indonesia diharapkan mampu semakin memperkokoh perannya sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang inklusif.
Wlingi, 31 Oktober 2024 – Pusat Pengembangan Anak (PPA) IO-0750 Ephata Wlingi, Kabupaten Blitar, bersama dengan Relawan TIK Kabupaten Blitar sukses menggelar workshop pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan konten dan website sebagai media pemasaran online. Acara yang berlangsung di Gereja Kristen Ephata ini bertujuan untuk membekali para siswa PPA dengan keterampilan digital yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam workshop ini, para peserta diajak untuk mengenal lebih dekat tentang teknologi AI dan berbagai aplikasinya dalam dunia digital. Materi yang disampaikan meliputi cara membuat konten menarik menggunakan AI, desain grafis dengan bantuan AI, hingga membangun website sederhana tanpa perlu coding. Para peserta antusias mengikuti sesi praktek dan tanya jawab bersama para narasumber yang merupakan ahli di bidang teknologi informasi. Karena materi yang disampaikan lebih fokus pada bagaimana teknologi ini dapat diterapkan dalam pembuatan konten yang kreatif dan menarik. Materi yang disampaikan meliputi :
* Dasar-dasar AI : Peserta diperkenalkan dengan konsep dasar AI, cara kerja, dan berbagai jenis AI yang ada.
* Alat AI untuk Pembuatan Konten : Peserta diajarkan cara menggunakan berbagai alat AI seperti generator teks, gambar, dan video untuk membuat konten yang unik dan menarik.
* Pembuatan Website dengan AI : Peserta diberikan pengetahuan tentang cara membuat website yang profesional dan menarik dengan bantuan AI, tanpa perlu keahlian coding yang mendalam.
* Strategi Pemasaran Online : Peserta diajarkan bagaimana cara memanfaatkan konten yang dihasilkan dengan AI untuk mempromosikan produk atau jasa secara efektif di media sosial dan platform digital lainnya.
Dian Triwiyono, S.Pd.Gr., Ketua Bidang Komunikasi Publik Relawan TIK Kabupaten Blitar selaku pemateri dalam workshop ini, mengungkapkan, “Kegiatan Literasi Digital tematic di PPA IO-7050 Wlingi kali ini ditujukan kepada anak remaja umur 15 – 18 tahun, agar jadi bekal mereka dalam mengembangkan usaha”.
Pemateri kedua, Nuryan Dwi Saputri, S.Sos., dari Pandu Digital Indonesua mengaku sangat bangga bisa membagi ilmu kepada para peserta yang sebagian besar masih muda, “Mereka sangat antusias mengikuti materi yang diberikan berkaitan dengan penggunaan Artificial Inteligence dalam membuat konten dan menyusun Bisnis Model Canvas”.
Workshop ini diharapkan dapat menginspirasi para siswa PPA Ephata Wlingi untuk terus belajar dan mengembangkan diri di era digital. Dengan bekal keterampilan yang diperoleh, mereka diharapkan mampu menjadi generasi muda yang kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Sriati, koordinator PPA Ephata Wlingi berkomitmen untuk terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serupa guna mendukung pengembangan potensi siswa yang menjadi binaan PPA.
JAKARTA | 12 – 14 September 2024, bertempat di Grand Mercure Harmoni Jakarta dilaksanakan Koordinasi Kegiatan pada Lokasi Beririsan Komponan 2 P3PD, Kementerian Desa PDTT yang mengundang berbagai Stakeholder. Termasuk Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar sebagai salah satu Lokus Program Desa Cerdas Kementerian Desa PDTT Fase I. Mohammad Hamid Almauludi, S.Pd.I, Kepala Desa Wates diundang sebagai narasumber untuk memaparkan Implementasi Smart Farming sebagai outcome, praktik baik dalam mewujudkan kegiatan Desa Cerdas.
Topik utama yang dibahas adalah “Konsep desa inklusi, sistem akuntabilitas sosial, dan desa cerdas saling terkait dan saling memperkuat”. Ketika ketiga elemen ini diintegrasikan dengan baik, maka akan tercipta sebuah desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Dalam Paparannya Mohammad Hamid Almauludi menjelaskan dari awal Desa Wates dipilih sebagai salah satu Lokus Desa Cerdas Kemendes PDTT Fase I. Bagaimana proses memahami dengan baik program Desa Cerdas ini, dimulai dengan banyak berdiskusi dengan Duta Digital sebagai pendamping dan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Blitar. Selanjutnya ditemukan pemahaman yang sama, bahwa untuk memulai implementasi berbagai kegiatan dalam mewujudkan Desa Cerdas harus dimulai dari kegiatan Pemetaan berupa Identifikasi Potensi, identifikasi permasalahan dan identifikasi tantangan yang ada di Desa Wates.
Diagram Tahapan Implementasi Kegiatan
Dari pemetaan dan kajian yang dilakukan bersama Relawan TIK dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, ditemukan adanya beberapa potensi, yaitu :
Pertanian Hortikultura.
Pelaku IKM dan UMKM Desa (Industri emping mlinjo, dll.).
Banyak UMKM yang terdaftar PIRT, NIB, dan Sertifikat Halal.
Sumber daya manusia, seperti keahlian lokal, pemuda yang melek teknologi, dan ketersediaan akses internet.
Petani Milenial yang gigih.
Selain Potensi juga ditemukan berbagai permasalahan, yaitu :
Kesenjangan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Kurangnya kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola teknologi.
Ketersediaan Anggaran Pengembangan Inovasi.
Kurang jelasnya regulasi dan kebijakan terkait Implementasi Desa Cerdas.
Demikian juga ditemukan berbagai tantangan, antara lain :
Perubahan iklim dan bencana alam.
Globalisasi dan disrupsi digital.
Keterbatasan sumber pembiayaan dan anggaran terkait mandatory Penggunaan Dana Desa.
Perlu adanya perubahan pola pikir masyarakat.
Sehingga akhirnya ditemukan, bahwa Pertanian hortikultura dan banyaknya para petani milenial yang masih gigih dan para pelaku IKM/ UMKM Desa terutama produksi emping mlinjo yang Sebagian besar sadar untuk memiliki perijinan berupa NIB, PIRT dan sertifikasi Halal. Kesemua ini sebagai potensi luar biasa yang harus diberdayakan, dan dicari Solusi inovatifnya untuk mengatasi berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi, terutama untuk sektor Pertanian.
Kajian lebih mendalam dilakukan dengan merunut perjalanan Panjang para petani di desa Wates dalam upayanya lebih sejahtera.
Diagram Perencanaan Implementasi Desa Cerdas
Tahun 1980 an : Pada tahun ini pertanian di wates keseluruhan menanam palawija dengan sistem tradisional dan masih bersifat konvensional. Belum ada teknologi khusus dalam penerapan pertanian diwilayah desa wates.
Tahun 1990 an : Pada tahun 90 an pertanian di desa Wates sudah mulai beragam dengan masuknya pertanian dengan pola dan jenis tanaman yang ditanam, seperti tanaman hortikultura cabe dan tanaman buah jeruk. Beberapa tahun perjalanan tanaman jeruk terkena semacam virus dan juga penyakit busuk batang dan jamur yang menyebabkan tanaman jeruk mati dengan sekala besar dan mayoritas petani gagal panen karena kualitas buah jeruk yang menurun dan gagal panen.
Tahun 2000 an : Para petani beralih ke pertanian hortikultura secara masif dengan tanaman cabe dan semangka. Ditengah perjalanan terjadi masalah dengan tanaman hortikultura dengan semakin banyaknya penyakit dan gangguan yang ada. Tanaman cabe mulai terkena penyakit yang berasal dari tanah dan penyakit antibodi. Busuk batang, kutu, ulat dan trip menjadi faktor kegagalan selain juga faktor harga pasar yang semakin murah.
Tahun 2007 : Pada tahun ini barulah masuk tanaman melon dengan sistem tanam yang sama seperti semangka namun nilai ekonomi dari tanaman ini bisa lebih baik daripada semangka dan cabe walaupun biaya produksi juga lebih tinggi.
Sistem hamparan dengan sekala besar masif di terapkan oleh beberapa petani sehingga tanaman ini menjadi booming dan hasil yang lumayan menjadikan taraf ekonomi para petani menjadi lebih baik.
Dengan sistem tanam hamparan dan treatmen yang masih sama dengan metode konvensional menjadikan faktor yang menghambat laju ekonomi petani muncul kembali seperti halnya penyakit, dan juga gagal panen menjadi faktor menurunnya hasil panen. Selain itu juga faktor cuaca menjadi penentu keberhasilan panen karena curah hujan yang terjadi menjelang masa panen di usia buah hampir matang menjadi salah satu faktor kegagalan panen melon pada masa ini.
Tahun 2015 an : Dimasa ini barulah teknologi masuk dengan sistem tanam yang mulai terpikirkan, pengaplikasian pupuk dan insektisida yg sudah mulai terukur dan menggunakan teknologi rumah kaca atau Greenhouse. Seiring berjalanya waktu sistem tanam ini masif digunakan dan bertahan sampai saat ini dan lebih berkembang lagi sampai pola tanam serta sistem tanam dengan teknologo hidroponik juga diterapkan.
Dari Identifikasi permasalahan yang dilakukan, faktor utama yang menjadikan banyak sekali permasalahan dan hambatan bagi para petani milenial adalah penggunaan pupuk yang tidak terukur yang menjadikan residu bagi tanaman.
Setelah ditemukan potensi, permasalahan dan tantangan yang dihadapi. Selanjutnya dirumuskan cara-cara inovasi untuk dijadikan Solusi. Tentu saja dengan melibatkan para petani dengan berbagai diskusi (FGD), musayawarah, yang juga tetap melibatkan pendampingan dari Relawan TIK Kabupaten Blitar dan mendatangkan Narasumber Petani Muda Keren (PMK) dari Desa Gobleg, Propinsi Bali. Tentu saja dalam proses inovasi dengan membangun Demplot penerapan Teknologi Internet of Things untuk irigasi dengan pendekatan Human Center Design (HCD) :
Melibatkan masyarakat dan Kelompok Tani: Melibatkan masyarakat dan Kelompok Tani dalam setiap tahap proses inovasi, mulai dari identifikasi masalah hingga monitoring dan evaluasi.
Membangun pemahaman : Dalam membangun pemahaman bersama, kami selalu melakukan Diskusi dan musyawarah dengan para Kelompok Tani dan Pelaku UMKM, juga bersama Mitra Strategis. Hal ini dilakukan melalui riset partisipatif, seperti wawancara, observasi, Forum Diskusi, dan pemetaan bersama para Kelompok Tani dan pelaku UMKM.
Berkolaborasi : Dalam membangun DEMPLOT Inovasi penerapan Teknologi Internet of Things (IoT) ini kami bekerjasama dengan Relawan TIK Cabang Kabupaten Blitar, ICT Watch, Kementerian Kominfo,Petani Muda Kerendan PPL Kecamatan Wates.
Berkelanjutan : Kegiatan inovasi kami dirancang berkelanjutan dan pengembangan dengan berbagai upaya berjejaring Kemitraan, terutama dengan Perguruan Tinggi untuk Program Kosa Bangsa 2024.
Fokus pada hasil : Kegiatan inovasi yang kami lakukan fokus pada pencapaian hasil yang nyata dan terukur berupa masuknya berbagai bantuan dari Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur berupa Bangsal produksi kripik melon, maupun dari Kementerian Pertanian berupa 4 titik Greenhouse untuk Kelompok Tani .
Kabupaten Blitar – Bertempat di Kantor Pos Cabang Pembantu (KCP) Wlingi selama dua hari 09 – 10 September 2024 dilaksanakan Pelatihan bisnis berbasis Digital bagi para Pelaku UMKM, Kopreasi dan BUMDes oleh Relawan TIK Kabupaten Blitar bersama Bank Indonesia, Pos Indonesia dan Kementerian Kominfo. Pelatihan tersebut jadi bagian dari kegiatan aktivasi Program Pos Edukasi Keuangan Bersama guna membantu para pelaku UMKM di Kabupaten Blitar, untuk mendapatkan kemudahan akses keuangan dan pemanfaatan teknologi digital.
Kegiatan pelatihan ini diawali dengan acara pembukaan yang dihadiri oleh Koordinator Nasional Literasi Digital Sektor Pendidikan Kementerian Kominfo Bambang Tri Santoso, Kepala Kantor Pos Indonesia Cabang Biltar Dani Firmansyah, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Blitar Sri wahyuni, Camat Wlingi Kabupaten Blitar Suwito, dan Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar, Hamzah Fathoni sebagai pelaksana kegiatan.
Penandatanganan Keagenan Layanan Pos
Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar, Hamzah Fathoni menyampaikan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh Bank Indonesia ini sangat penting, karena berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) tantangan utama yang dihadapi UMKM terbesar saat ini 51 persen adalah akses keuangan dan modal.
“Sedangkan yang 35 persen terkait akses pasar, pemasaran dan promosi. Sisanya 9 persen adalah akses bahan baku, alat produksi dan teknologi. Serta yang 5 persen lagi, menyangkut regulasi yang kompleks dan keterbatasan ketrampilan,” ujar Hamzah Fathoni.
Dijelaskannya kegiatan utama dalam aktivasi Pos Edukasi Keuangan Bersama di setiap Kantor Cabang maupun Cabang Pembantu Pos Indonesia, mencakup pelatihan bagi para pelaku UMKM, BUMDes, dan Koperasi Wanita.
“Guna memperluas wawasan dan keterampilan pelaku usaha kecil, dalam mengelola keuangan bisnis dan digital,” jelasnya.
Sementara itu dalam sambutannya Kepala Pos Indonesia Cabang Blitar, Dani Firmansyah memaparkan secara detil bahwa program ini melibatkan berbagai stakeholder, dalam upaya membantu para pelaku UMKM. Untuk mempermudah akses keuangan dan kemanfaatan informasi dan permodalan, serta penguatan bisnis menggunakan teknologi digital.
“Dari kegiatan yang dilakukan di KCP Wlingi ini, nantinya akan direplikasi ke setiap Kantor Cabang dan KCP Pos Indonesia di setiap kecamatan, agar bisa diakses oleh para pelaku UMKM di seluruh Kabupaten Blitar,” papar Dani.
Berikutnya mewakili Direktorat Jenderal APTIKA Kominfo, Bambang Tri Santoso mengatakan bahwa kegiatan hari ini merupakan awal dari 10 piloting di berbagai wilayah, yang direncanakan oleh Kolaborasi Kominfo, Bank Indonesia, dan Pos Indonesia. Serta berbagai lembaga keuangan, termasuk OJK dan perbankan.
Diharapkan dapat dijadikan sebagai jejaring informasi dan komunikasi antar pelaku bisnis lokal, khususnya pelaku UMKM yang selama ini masih sangat sulit dalam akses keuangan dan permodalan serta strategi pengembangan di era digital.
“Saya mau cerita bahwa saya dan istri saya saat pandemi Covid pernah merintis usaha bisnis online produk cosmetik dan kecantikan. Alhamdulillah terus berkembang sampai hari ini, jadi perkembangan teknologi digital merupakan dukungan paling luar biasa mempermudah usaha kita secara luas,” kata Bambang.
Terakhir sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Blitar, Sri Wahyuni menuturkan bahwa kegiatan hari ini merupakan sebuah awal yang baik, membantu Pemerintah Kabupaten dalam upaya peningkatan kemampuan UMKM untuk naik kelas.
Sehingga diharapkan para pelaku UMKM di Kabupaten Blitar, selain mampu memproduksi dan menjual produk harus juga memiliki kapasitas dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik. Terutama dalam akses informasi keuangan dan tata kelola usaha, menggunakan teknologi digital yang sudah menjadi keharusan seiring perkembangan zaman.
“Mohon kegiatan hari ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pelaku UMKM, Koperasi dan BUMDes dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan usahanya masing-masing”, kata Sri Wahyuni.
Peserta terus semangat mengikuti Pelatihan selama 2 hari
“Apa yang hari ini telah difasilitasi oleh BI, Pos Indonesia dan Kementerian Kominfo yang juga dibantu oleh relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Pandu Digital ini tidak muspro atau sia-sia nggih,” pungkasnya.
Kegiatan pembukaan ini diakhiri dengan penandatanganan simbolik dokumen Perjanjian Kerjasama keagenan antara Pos Indonesia dengan BUMDes Kemirigede, BUMDes Ngoran dan salah satu Koperasi Wanita (Kopwan).
Kegiatan dilanjutkan dengan Pelatihan luring selama dua hari, tanggal 09 – 10 September 2024 dengan Fasilitator Sertifikasi DEA dari BPSDMP Kementerian Kominfo.
SURABAYA | 07 September 2024, bertempat di Hotel Swiss-Belinn Tunjungan, Surabaya, diadakan kegiatan Perumusan Modul Implementasi Smart Village dan Recana Peningkatan Kapasitas Pendampingan. Kegiatan yang berlangsung sepanjang hari ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan para Relawan TIK Indonesia dalam pendampingan implementasi konsep Desa Cerdas.
Sesi awal dimulai dengan paparan dari Hamzah Fathoni, Leader Pendampingan Smart Village Nasional Relawan TIK Indonesia, yang mempresentasikan tentang Rencana Aksi Praktik Baik Pendampingan Implementasi Smart Village. Dalam paparannya lebih pada penjelasan tentang kosep Desa Cerdas, Regulasi dan berbagai kebijakan, Membangun ekosistem, serta langkah-langkah strategis yang perlu diambil dalam menyusun Rencana Pembangunan Desa dengan pendekatan Smart Village (Desa Cerdas).
Kegiatan juga dihadiri oleh team dari Direktorat APTIKA Kominfo
Acara di awali dengan arahan dari Fajar Eri Dianto, Ketua Umum Relawan TIK Indonesia dan Hani Purnawanti, Ketua Bidang Kemitraan Relawan TIK Indonesia dilanjutkan dengan sesi Curah Pendapat dari ketua Umum Relawan TIK Wilayah Jawa Timur, serta para anggota team perumus Modul yang terdiri dari 7 (tujuh) orang, yaitu : Mei Santi, Mohammad Ismanu Roziqi, Zainul Hasan, Mohammad Yunus, Erlin, Subana, dan Miftakhul Huda.
Pembahasan Modul 1: Pembangunan Desa dengan Pendekatan Desa Cerdas
Konsep Desa Cerdas – Memahami konsep dasar pembangunan Desa Cerdas. Menemukenali aspek-aspek pemberdayaan masyarakat desa dalam Pengembangan Desa Cerdas. Merumuskan strategi mengintegrasikan pengembangan model desa cerdas dengan pencapaian SDGs Desa.
Regulasi dan Kebijakan Pembangunan Desa Cerdas – Memahami regulasi arah kebijakan pengembangan model desa Cerdas. Memahami makna dari “Pembangunan Desa” berdasarkan Permendes No 6 Tahun 2023 tentang perubahan atas Permendes No 21 Th 2020 tentang Pedoman Umum Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.
Ekosistem Desa Cerdas – Mampu menjelaskan pengertian serta tugas dan fungsi kelembagaan desa. Mampu mengidentifikasi lembaga-lembaga yang ada di desa maupun pada tingkat supra desa. Mampu menyusun rencana pengembangan kemitraan antar lembaga yang ada di desa maupun kemitraan antar desa dan kemitraan desa dengan lembaga-lembaga lain di luar desa, Mampu merumuskan out put dan out come yang ingin dicapai melalui pengembangan jejaring kemitraan.
Pembahasan Modul 2: Pilar dan Indikator Capaian Desa Cerdas
Pilar Desa Cerdas adalah sebuah program atau inisiatif yang dapat memiliki berbagai manfaat penting dalam memajukan desa-desa di Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberikan pelatihan, panduan, atau sumber daya kepada masyarakat desa dan pemerintah desa untuk meningkatkan kualitas hidup dan pembangunan di wilayah pedesaan yang merupakan bagian dari tujuan utama Pembangunan Desa Cerdas.
Enam pilar Desa Cerdas yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Masyarakat Cerdas, yaitu investasi dalam keterampilan dan pengetahuan dasar dalam pemanfaatan internet secara efektif untuk meningkatkan kreativitas dan kesejahteraan;
Tata Kelola Cerdas, atau di mana teknologi digital mendukung tersedianya layanan dasar secara efektif dan layanan publik;
Ekonomi Cerdas, dimana teknologi digital menjadi alat bantu dalam membuka akses pasar dan informasi, serta jalur produksi dan distribusi;
Lingkungan Cerdas, dimana teknologi digital mendukung tujuan pelestarian lingkungan melalui konservasi dan peningkatan kesadaran mempromosikan pemanfaatan sumber daya alam yang lestari dan efisien;
Mobilitas Cerdas, atau di mana teknologi digital dapat meningkatkan keterhubungan daerah pedesaan dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia; dan
Kehidupan Cerdas, atau kesejahteraan, difokuskan pada investasi pengembangan sumber daya manusia dan sosial-budaya.
Pembahasan Modul 3: Perencanaan Pembangunan Desa Cerdas
Kegiatan awal dalam merencanakan Pembangunan Desa Cerdas harus dimulai dari pemetaan dan kajian terhadap berbagai potensi, permasalahan dan tantangan sebagai landasan dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES), yang merupakan pengejawantahan dari Visi dan Misi Kepala Desa atau Pemerintah Desa. Karena RPJMDES harus mampu dijadikan sebagai Peta Jalan (roadmap) implementasi Desa Cerdas sebagai landasan utama dalam menyusun Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKPDES) yang berorientasi pada proses transformasi digital di Desa.
Modul 3 tentang Perencanaan Pembangunan Desa Cerdas ini, berisikan 4 Pokok Bahasan (PB) antara lain :
Metode Pemetaan Potensi, Permasalahn dan Tantangan, Serta Kebutuhan Penanganannya.
Membangun Data Mikro dan SDG’s Desa.
Penggunaan Sumber-sumber Pendapatan Desa Untuk Membangunan Desa Cerdas.
Membangun Komunitas Digital Desa.
Setelah merumuskan 3 Modul utama dan ditambah SOP tentang tata cara introduce (Pengenalan) ke desa yang akan dijadikan lokus. Juga ditambahkan Modul 4 : Metodologi tentang Pemetaan Identifikasi Potensi, Permasalahn dan Tantangan yang dihadapi di Desa yang menjadi lokus dampingan Relawan TIK.
Sehingga kegiatan ini akan menjadi langkah nyata dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan dengan pendekatan Smart Village yang mengedepankan Teknologi dan inovasi yang berkelanjutan.