Inisiatif Teknologi untuk Desa Cerdas di Blitar: Pemetaan dan Implementasi IoT

Blitar, 7 Maret 2025 – Kabupaten Blitar memulai langkah penting dalam pengembangan desa cerdas melalui kegiatan pemetaan potensi dan demografis yang berbasis pada enam pilar desa cerdas serta pengelolaan dana desa. Kegiatan ini diinisiasi oleh Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia, bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya (STIKOSA) AWS dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).

Kegiatan tahap awal yang berlangsung pada hari Jumat, 7 Maret 2025 ini, dihadiri beberapa pihak. Dari Relawan TIK Indonesia, hadir Hamzah Fathoni (Bidang Program Pengurus Pusat) dan Muhajir Sulthonul Aziz (Ketua Relawan TIK Jatim) beserta tim teknis. Sedangkan STIKOSA AWS dipimpin langsung oleh Ketuanya, Dr. Jokhanan Kristiyono, S.T., M.Med.Kom.

Rangkaian kegiatan diawali dengan paparan dan diskusi di kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar. Fokus utama adalah pengenalan kegiatan pemetaan dan riset, khususnya potensi pertanian, yang akan dilaksanakan oleh STIKOSA AWS dan Relawan TIK Jawa Timur. Selain itu, dibahas pula pengembangan aplikasi Sistem Informasi Data Mikro (sitrakro.com) untuk layanan administrasi desa, serta pemanfaatan data dalam pengembangan data mikro pertanian.

Di Dinas KPP, rombongan diterima oleh Himawan Prabowo, Kepala Bidang SDM, beserta staf. Pembahasan mendalam dilakukan mengenai desain riset, yang oleh Kabid SDM Dinas KPP diminta khusus selain untuk Kabupaten Blitar secara umum tetapi dibuat juga khusus untuk Sektor Pertanian dan pengembangan Balai Penyuluh Pertanian (BPP), pemetaan, dan aplikasi data mikro pertanian.

“Kami dari dulu memiliki mimpi, BPP yang kantornya ada di setiap Kecamatan itu bisa diperdayakan dan dimanfaatkan secara optimal. Khususnya sebagai data center, pengembangan teknologi pertanian, demplot IoT, membangun ekosistem perniagaan hasil pertanian dan upaya mengembalikan kaum milenial menjadi petani”, kata Himawan.

Setelah dari DKPP, kegiatan dilanjutkan ke Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro. Di sana, dilakukan penandatanganan Implementation Agreement (IA) antara STIKOSA AWS dan Kepala Desa Sawentar, Mujianto. Acara dilanjutkan dengan survei lokasi ladang yang akan dijadikan demplot implementasi Internet of Things (IoT) dan penggunaan pupuk teknologi nano.

Perjalanan berlanjut ke Desa Wates, Kecamatan Wates. Agenda serupa dengan di Desa Sawentar, yaitu penandatanganan IA antara STIKOSA AWS dan Kepala Desa Wates, Moh. Hamid Almauludi. Diskusi persiapan data dan format surat layanan untuk pengembangan aplikasi sitakro.com dengan fitur tambahan layanan administrasi secara digital, serta penandatanganan IA yang diikuti dengan survei lokasi ladang untuk demplot implementasi IoT dan pupuk nano.

Kegiatan ini menandai langkah awal penting dalam pemanfaatan teknologi untuk pengembangan desa di Kabupaten Blitar. Dengan pemetaan potensi dan demografis yang akurat, diharapkan desa-desa dapat merancang program pembangunan dengan menggunakan pendekatan Desa Cerdas yang lebih efektif dan efisien, serta mewujudkan enam pilar konsep Desa Cerdas yang akan dijadikan role model Nasional oleh Kemendes PDT sebagai bentuk praktik baik meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perdesaan.

Master of Training 2025 Seri #1 : Tingkatkan Kapasitas Pendampingan Desa Cerdas dalam Pengembangan Posyantek

Jakarta, 02 Februari 2025 – Bidang Program Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia bekerja sama dengan Pandu Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) telah sukses menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas seri Master of Training 2025 secara daring pada hari Minggu, 2 Februari 2025. Kegiatan ini mengangkat tema besar “Strategi Pengembangan Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) sebagai Pusat Kegiatan Inovasi yang Melibatkan Seluruh Elemen Masyarakat Desa”.

Kegiatan ini diikuti oleh 80 peserta dari seluruh Indonesia dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Bambang Tri Santoso, S.Sn., Koordinator Literasi Digital Komdigi, dan Hani Purnawanti, Ketua Umum Relawan TIK Indonesia. Dalam sambutannya, Bambang Tri Santoso menyampaikan apresiasi atas inisiatif Relawan TIK Indonesia dalam menyelenggarakan kegiatan ini dan berkolaborasi dengan Komdigi. Hani Purnawanti juga menekankan bahwa kegiatan ini diinisiasi oleh Bidang Program Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia sebagai upaya peningkatan kapasitas untuk mendukung implementasi Desa Cerdas di berbagai daerah.

Pelatihan ini dimoderatori oleh Zainul Hasan, M.E., Pandu Digital Tingkat Madya dan Ketua Bidang Program Relawan TIK Jember, Jawa Timur. Dua narasumber ahli dihadirkan untuk memberikan materi yang mendalam, yaitu Arif Purbantara, M.Kesos., dari Pusat Daya Saing (Pusdaing) Badan Pengembangan Informasi Desa (BPI) Kemendes PDT, dan Ridwan, M.T., Pandu Digital Tingkat Madya, yang juga Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia bidang Litbang SDM.

Arif Purbantara menyampaikan materi tentang “Arah Kebijakan Pemerintah Pusat dalam Pembinaan Posyantek melalui Gelar TTGN”. Dalam paparannya, Arif Purbantara menjelaskan berbagai permasalahan pengembangan Teknologi Tepat Guna (TTG), kriteria TTG, dan aspek strategis pengembangan dan penerapan TTG.

Sementara itu, Ridwan membawakan materi tentang “Peran Perguruan Tinggi sebagai Perantara Pengelolaan Posyantek”. Ridwan membahas tantangan dan kebutuhan teknologi di masyarakat desa, TTG sebagai solusi inovatif untuk masyarakat desa, serta bagaimana perguruan tinggi dapat mendukung Posyantek.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan bagi para peserta untuk dapat mendampingi implementasi Desa Cerdas, khususnya dalam pengembangan Posyantek sebagai pusat inovasi di desa.

Desa Wates Jadi Narasumber Implementasi Smart Farming Sebagai Praktik Baik Mewujudkan Desa Cerdas

JAKARTA | 12 – 14 September 2024, bertempat di Grand Mercure Harmoni Jakarta dilaksanakan Koordinasi Kegiatan pada Lokasi Beririsan Komponan 2 P3PD, Kementerian Desa PDTT yang mengundang berbagai Stakeholder. Termasuk Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar sebagai salah satu Lokus Program Desa Cerdas Kementerian Desa PDTT Fase I. Mohammad Hamid Almauludi, S.Pd.I, Kepala Desa Wates diundang sebagai narasumber untuk memaparkan Implementasi Smart Farming sebagai outcome, praktik baik dalam mewujudkan kegiatan Desa Cerdas.

Topik utama yang dibahas adalah “Konsep desa inklusi, sistem akuntabilitas sosial, dan desa cerdas saling terkait dan saling memperkuat”. Ketika ketiga elemen ini diintegrasikan dengan baik, maka akan tercipta sebuah desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Dalam Paparannya Mohammad Hamid Almauludi menjelaskan dari awal Desa Wates dipilih sebagai salah satu Lokus Desa Cerdas Kemendes PDTT Fase I. Bagaimana proses memahami dengan baik program Desa Cerdas ini, dimulai dengan banyak berdiskusi dengan Duta Digital sebagai pendamping dan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Blitar. Selanjutnya ditemukan pemahaman yang sama, bahwa untuk memulai implementasi berbagai kegiatan dalam mewujudkan Desa Cerdas harus dimulai dari kegiatan Pemetaan berupa Identifikasi Potensi, identifikasi permasalahan dan identifikasi tantangan yang ada di Desa Wates.

Diagram Tahapan Implementasi Kegiatan

Dari pemetaan dan kajian yang dilakukan bersama Relawan TIK dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, ditemukan adanya beberapa potensi, yaitu :

  • Pertanian Hortikultura.
  • Pelaku IKM dan UMKM Desa (Industri emping mlinjo, dll.).
  • Banyak UMKM yang terdaftar PIRT, NIB, dan Sertifikat Halal.
  • Sumber daya manusia, seperti keahlian lokal, pemuda yang melek teknologi, dan ketersediaan akses internet.
  • Petani Milenial yang gigih.

Selain Potensi juga ditemukan berbagai permasalahan, yaitu :

  • Kesenjangan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
  • Kurangnya kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola teknologi.
  • Ketersediaan Anggaran Pengembangan Inovasi.
  • Kurang jelasnya regulasi dan kebijakan terkait Implementasi Desa Cerdas.

Demikian juga ditemukan berbagai tantangan, antara lain :

  • Perubahan iklim dan bencana alam.
  • Globalisasi dan disrupsi digital.
  • Keterbatasan sumber pembiayaan dan anggaran terkait mandatory Penggunaan Dana Desa.
  • Perlu adanya perubahan pola pikir masyarakat.

Sehingga akhirnya ditemukan, bahwa Pertanian hortikultura dan banyaknya para petani milenial yang masih gigih dan para pelaku IKM/ UMKM Desa terutama produksi emping mlinjo yang Sebagian besar sadar untuk memiliki perijinan berupa NIB, PIRT dan sertifikasi Halal. Kesemua ini sebagai potensi luar biasa yang harus diberdayakan, dan dicari Solusi inovatifnya untuk mengatasi berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi, terutama untuk sektor Pertanian.

Kajian lebih mendalam dilakukan dengan merunut perjalanan Panjang para petani di desa Wates dalam upayanya lebih sejahtera.

Diagram Perencanaan Implementasi Desa Cerdas

  • Tahun 1980 an : Pada tahun ini pertanian di wates keseluruhan menanam palawija dengan sistem tradisional dan masih bersifat konvensional. Belum ada teknologi khusus dalam penerapan pertanian diwilayah desa wates.
  • Tahun 1990 an : Pada tahun 90 an pertanian di desa Wates sudah mulai beragam dengan masuknya pertanian dengan pola dan jenis tanaman yang ditanam, seperti tanaman hortikultura cabe dan tanaman buah jeruk. Beberapa tahun perjalanan tanaman jeruk terkena semacam virus dan juga penyakit busuk batang dan jamur yang menyebabkan tanaman jeruk mati dengan sekala besar dan mayoritas petani gagal panen karena kualitas buah jeruk yang menurun dan gagal panen.
  • Tahun 2000 an : Para petani beralih ke pertanian hortikultura secara masif dengan tanaman cabe dan semangka. Ditengah perjalanan terjadi masalah dengan tanaman hortikultura dengan semakin banyaknya penyakit dan gangguan yang ada. Tanaman cabe mulai terkena penyakit yang berasal dari tanah dan penyakit antibodi. Busuk batang, kutu, ulat dan trip menjadi faktor kegagalan selain juga faktor harga pasar yang semakin murah.
  • Tahun 2007 : Pada tahun ini barulah masuk tanaman melon dengan sistem tanam yang sama seperti semangka namun nilai ekonomi dari tanaman ini bisa lebih baik daripada semangka dan cabe walaupun biaya produksi juga lebih tinggi.
  • Sistem hamparan dengan sekala besar masif di terapkan oleh beberapa petani sehingga tanaman ini menjadi booming dan hasil yang lumayan menjadikan taraf ekonomi para petani menjadi lebih baik.
  • Dengan sistem tanam hamparan dan treatmen yang masih sama dengan metode konvensional menjadikan faktor yang menghambat laju ekonomi petani muncul kembali seperti halnya penyakit, dan juga gagal panen menjadi faktor menurunnya hasil panen. Selain itu juga faktor cuaca menjadi penentu keberhasilan panen karena curah hujan yang terjadi menjelang masa panen di usia buah hampir matang menjadi salah satu faktor kegagalan panen melon pada masa ini.
  • Tahun 2015 an : Dimasa ini barulah teknologi masuk dengan sistem tanam yang mulai terpikirkan, pengaplikasian pupuk dan insektisida yg sudah mulai terukur dan menggunakan teknologi rumah kaca atau Greenhouse. Seiring berjalanya waktu sistem tanam ini masif digunakan dan bertahan sampai saat ini dan lebih berkembang lagi sampai pola tanam serta sistem tanam dengan teknologo hidroponik juga diterapkan.
  • Dari Identifikasi permasalahan yang dilakukan, faktor utama yang menjadikan banyak sekali permasalahan dan hambatan bagi para petani milenial adalah penggunaan pupuk yang tidak terukur yang menjadikan residu bagi tanaman.

Setelah ditemukan potensi, permasalahan dan tantangan yang dihadapi. Selanjutnya dirumuskan cara-cara inovasi untuk dijadikan Solusi. Tentu saja dengan melibatkan para petani dengan berbagai diskusi (FGD), musayawarah, yang juga tetap melibatkan pendampingan dari Relawan TIK Kabupaten Blitar dan mendatangkan Narasumber Petani Muda Keren (PMK) dari Desa Gobleg, Propinsi Bali. Tentu saja dalam proses inovasi dengan membangun Demplot penerapan Teknologi Internet of Things untuk irigasi dengan pendekatan Human Center Design (HCD) :

Melibatkan masyarakat dan Kelompok Tani: Melibatkan masyarakat dan Kelompok Tani dalam setiap tahap proses inovasi, mulai dari identifikasi masalah hingga monitoring dan evaluasi.

Membangun pemahaman : Dalam membangun pemahaman bersama, kami selalu melakukan Diskusi dan musyawarah dengan para Kelompok Tani dan Pelaku UMKM, juga bersama Mitra Strategis. Hal ini dilakukan melalui riset partisipatif, seperti wawancara, observasi, Forum Diskusi, dan pemetaan bersama para Kelompok Tani dan pelaku UMKM.

Berkolaborasi : Dalam membangun DEMPLOT Inovasi penerapan Teknologi Internet of Things (IoT) ini kami bekerjasama dengan Relawan TIK Cabang Kabupaten Blitar, ICT Watch, Kementerian Kominfo, Petani Muda Keren dan PPL Kecamatan Wates.

Berkelanjutan : Kegiatan inovasi kami dirancang berkelanjutan dan pengembangan dengan berbagai upaya berjejaring Kemitraan, terutama dengan Perguruan Tinggi untuk Program Kosa Bangsa 2024.

Fokus pada hasil : Kegiatan inovasi yang kami lakukan fokus pada pencapaian hasil yang nyata dan terukur berupa masuknya berbagai bantuan dari Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur berupa Bangsal produksi kripik melon, maupun dari Kementerian Pertanian berupa 4 titik Greenhouse untuk Kelompok Tani .

Sambutan Bupati Blitar Pada Kegiatan Pemberdayaan Pandu Digital Sektor Desa, UMKM Dan Pertanian Menuju Desa Cerdas

Alhamdulillah Desa Sawentar saat ini sudah mulai melakukan pemutakhiran data mikro yang terkait dengan SDG’s Desa dengan membangun aplikasi database SITAKRO.COM bersama Relawan TIK Kabupaten Blitar.

Membangun Desa sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menjadi titik awal perubahan dan pergerakan desa. UU Desa telah memberikan mandat kepada pemerintah desa untuk melakukan pembangunan desa secara mandiri. Sehingga desa adalah masa depan. Desa yang cerdas adalah desa yang mengikuti perkembangan zaman dan mampu mandiri namun tetap menjunjung tinggi nilai kebersamaan, gotong-royong dan spritualisme yang menjadi kekuatan nilai lokal. Di masa depan desa akan menghadirkan masyarakat yang tidak terpusat namun saling terhubung dengan pengembangan teknologi dalam berbagi informasi.

Salah satu konsep pengembangan desa yang cocok untuk era sekarang adalah konsep Desa Cerdas yaitu konsep pengembangan desa dengan memanfaatkan teknologi, baik untuk pelayanan publik dan pengembangan kawasan seperti infrastruktur, teknologi informasi, teknologi komunikasi, transportasi, zonasi, irigasi, drainase, dan energi.

Keluaran dari Desa Cerdas adalah transformasi desa melalui pemanfaatan teknologi digital, pemanfaatan ruang digital desa secara berkelanjutan, dan pemanfaatan data terintegrasi dalam membangun dan meningkatkan kualitas pemanfaatan dana desa untuk kesejahteraan masyarakat desa.

Dalam membangun desa cerdas harus mengacu pada tiga aspek, yaitu aspek Kebijakan, aspek potensi, permasalahan dan tantangan yang dihadapi, serta aspek prioritas. Sehingga sebagaimana dalam Permendesa No 7 Tahun 2021 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2022 Pasal 6 ayat 2, bahwa merencanakan dan membangun Desa, berbagai kegiatannya harus diarahkan pada pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sebagai salah satu sektor prioritas dalam penggunaan dana desa yang diprioritaskan untuk dapat mendorong pencapaian SDG’s Desa.

Kegiatan awal dalam merencanakan pembangunan Desa Cerdas harus dimulai dari review dan kajian terhadap Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES), yang merupakan pengejawantahan dari Visi dan Misi Kepala Desa atau Pemerintah Desa. Mengapa demikian? Karena RPJMDES harus mampu dijadikan sebagai Peta Jalan (roadmap) implementasi Desa Cerdas sebagai landasan utama dalam menyusun Rencana Kegiatan Pembangunan Desa yang berorientasi pada proses transformasi digital di Desa. 

Sebagaimana Konsep Desa Cerdas dalam upaya mewujudkan 6 pilar Desa Cerdas, landasan utamanya adalah keterlibatan stakeholder dan membangun Jejaring Kemitraan. Alhamdulillah pagi ini kita semua patut bersyukur, karena Desa Sawentar sebagai salah satu lokus Desa Cerdas Fase I Kemendes PDTT telah mampu menyelenggarakan kegiatan besar ini, sebagai rangkaian kegiatan keberlanjutan yang didukung oleh semua OPD dan berkolaborasi dengan Relawan TIK sebagai NGO, Pandu Digital Kementerian Kominfo, Pusat Daya Saing BPI Kemendes PDTT, dan Lembaga Perguruan Tinggi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.

Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Kepala Desa Sawentar, dan kami juga menyampaikan terima kasih kepada Relawan TIK Indonesia khususnya Cabang Kabupaten Blitar, Kementerian Kominfo, Kementerian Desa PDTT dan UPN Veteran Jatim yang telah mendukung pendampingan di salah satu desa kami, yaitu Desa Sawentar.

Sesuai dengan tema “Literasi Digital Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Transformasi Pemanfaatan Platform Digital”, kami yakin bahwa Desa Sawentar telah melakukan pemetaan dan kajian secara mendalam tentang potensi, permasalahan dan tantangan yang dihadapi. Sehingga bisa dilihat bahwa seluruh rangkaian kegiatannya berupa Pemberdayaan Pertanian, Perikanan, IKM/UMKM Desa, serta membangun Lingkungan Cerdas berbasis Teknologi Digital yang telah dilakukan pendampingan oleh Pandu Digital. 

Penyerahan Seragam Pandu Digital Badge Biru Kepada Bupati

Hal ini sangat penting, karena Pertama, untuk mempertahankan dan meningkatkan ketahanan pangan, serta mengajak kaum milenial dan generasi Z untuk kembali bertani sehingga perlu didukung oleh teknologi IoT di sektor hulu dan data Mikro di sektor hilir. Kedua, karena PDB terbesar Nasional saat ini 61,07% dari UMKM, maka para pelaku IKM/ UMKM Desa harus ditingkatkan kapasitasnya agar mampu naik kelas. Ketiga, bahwa Isu global saat ini tentang Perubahan Iklim, maka kelompok masyarakat desa harus diarahkan membangun linkungan hijau yang cerdas dengan peraturan kebijakan desa, bimbingan, serta melakukan capturing kepada kelompok-kelompok peduli lingkungan yang ada di desa. Keempat, yang paling penting adalah upaya kegiatan pemutakhiran data mikro di desa, terutama yang berkaitan dengan pemutakhiran (update) data Pendidikan, Kesehatan, Usaha Ekonomi, Pertanian, IKM dan UMKM. Alhamdulillah Desa Sawentar saat ini sudah mulai melakukan pemutakhiran data mikro yang terkait dengan SDG’s Desa dengan membangun aplikasi database sitakro.com bersama Relawan TIK Kabupaten Blitar. 

Sumber :
Bagian PROKOPIM Kabupaten Blitar

Inisiatif Pemberdayaan Desa Sawentar: Kunci Sukses Desa Cerdas

Kegiatan di Desa Sawentar (08/05/2024) hari ini rabu, mengingatkan pada tahun 2021, Desa Sawentar awal masuk sebagai salah satu lokus Desa Cerdas Fase I Program Kemendes PDTT di Kabupaten Blitar. Saat itu Relawan TIK atau Pandu Digital Kabupaten Blitar, bersama Kementerian Kominfo menyelenggarakan Kegiatan Seminar dan Workshop Pemberdayaan Pandu Digital di Kampung Coklat, dilanjutkan dengan kegiatan Roadshow Literasi Digital untuk masyarakat di 16 desa yang terpilih sebagai Lokus Desa Cerdas, termasuk di Desa Sawentar. 

Dari sini awal Relawan TIK Kabupaten Blitar berkomunikasi dengan 2 (dua) lokus Desa Cerdas Fase I Kemendes PDTT di Kabupaten Blitar. Yaitu Desa Wates, Kecamatan Wates dan Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, hingga berlanjut diskusi tentang berbagai potensi, tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh ke dua desa tersebut dalam upaya mengimplementasikan berbagai kegiatan menuju Desa Cerdas. 

Relawan TIK selalu memberikan advokasi dalam melakukan Pemetaan berbagai potensi, tantangan dan permasalahan yang ada, selanjutnya juga ikut merumuskan secara bersama berbagai bentuk kegiatan berkelanjutan agar bisa menghasilkan output dan outcome sebagaimana praktik baik yang telah dilakukan oleh Desa Wates, yang lebih awal dalam pendampingan. Hingga Desa Wates berhasil mendapatkan Penghargaan Transformasi Digital Desa terbaik saat Festival TIK Nasional 2022 di Pontianak. Sedangkan saat Festival TIK Nasional 2023 di Semarang Desa Wates dan Desa Sawentar meraih Penghargaan Transformasi Digital Desa terbaik.  Puncaknya Desa Wates berhasil meraih Juara I Lomba Desa Cerdas tingkat Nasional “Unesa Award tahun 2023”. 

Relawan TIK berharap tahun 2024/ 2025 Desa Sawentar bisa berprestasi lebih tinggi. Sehingga rumusan tema besar kegiatan di Desa Sawentar hampir sama dengan di Desa Wates, yaitu “Pemberdayaan Pertanian, Perikanan, IKM/ UMKM Desa, Lingkungan Cerdas dan pembangunan Database Mikro berbasis data SDG’s Desa”. Sehingga implementasi dari program kegiatannya berupa :

(1) Membangun Aplikasi Layanan Administrasi secara Mandiri.
(2) Membangun Pertanian Cerdas dan perikanan Cerdas Berbasis teknologi Internet of Things (IoT) untuk sektor hulu dan database perniagaan pertanian di sektor hilirnya.
(3) Pendampingan pemberdayaan IKM dalam hilirisasi produk pertanian dan pelaku UMKM Desa dalam membangun ekosistem ekonomi lokal menuju Nasional dan bahkan Global.
(4) Membangun Lingkungan Cerdas berbasis Tata Kelola Bank Sampah dan Pemeliharaan lingkungan.
(5) Membangun pemutakhiran Data Mikro dan Data SDG’s Desa guna mempermudah Perencanaan Pembangunan Desa dan pemberdayaan sektor hilir Pertanian, Perikanan dan penataan ekosistem UMKM Desa.

Implementasi dari rangkaian kegiatan tersebut, diawali dengan kegiatan Sosialisasi dan Kick Off “Pemberdayaan Pertanian, pelaku IKM/UMKM Desa dan Implementasi aplikasi Layanan Mandiri”, yang telah dilaksanakan pada 22 – 23 Juli 2023 https://beritahu.co/desa-sawentar-blitar-dibina-menjadi-smart-village/.

Kegiatan dilanjutkan Workshop dan Pelatihan Teknis di Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD) dengan menggunakan Anggaran Operasional RKDD Lokus Desa Cerdas Fase I dari BPI Kemendes PDTT pada tanggal 05, 08 dan 09 Desember 2023 dengan materi Pelatihan :

(1) Membangunan Perikanan Cerdas Berbasis Teknologi Internet of Things,
(2) Konten Kreator, Fotografi dan Videografi untuk Milenial Desa,
(3) Membangun Pertanian Cerdas Berbasis Teknologi Internet of Things,
(4) Pelatihan Foto Produk dan Tata Kelola Bisins Online bagi para Pelaku IKM dan UMKM Desa.

Kegiatan hari ini (08/05/2024) yang sebagian besar dibiayai oleh Kementerian Kominfo, merupakan rangkaian dari Implementasi program kerja Relawan TIK Kabupaten Blitar bersama Desa Sawentar untuk mencapai indikator Desa Cerdas sesuai Keputusan Menteri Desa PDTT Nomor 55 tahun 2024. Malam harinya akan diadakan acara hiburan sambil meliterasi digital masyarakat desa, dengan menggelar pertunjukan Wayang Kulit yang juga sebagian besar biaya dari Kominfo. Setelah kegiatan hari ini (08/04/2024) dan Pergelaran Wayang kulit, akan dilanjutkan dengan kegiatan yang bersifat sustainable, yaitu :

  • Pendampingan Implementasi update data mikro dengan Aplikasi SITAKRO.

  • Pendampingan Tata kelola lingkungan para pegiat lingkungan hidup Desa Sawentar oleh Fasilkom UPN Veteran Jatim.

  • Instalasi pemasangan Demplot penerapan IoT Pertanian Cerdas di lahan Asset Desa Sawentar.

Dengan berkolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Blitar, Relawan TIK Indonesia, Kementerian Kominfo, Kementerian Desa PDTT dan UPN Veteran Jatim, akan menjadi praktik baik membangun Desa Cerdas dengan landasan utama “Jejaring Kemitraan dan Stakeholder”. 

Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD): “Membangun Perikanan Cerdas Berbasis Internet of Things”

Kabupaten Blitar (sambungdesa.com), Hari Selasa malam (05/12/2023) di gedung pertemuan Kantor Desa Sawentar dilaksanakan Pelatihan dan Diskusi di Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD) dengan tema “Membangun Perikanan Cerdas Berbasis Teknologi Internet of Things”. Kegiatan yang merupkan bagian dari program pemberdayaan lokus Desa Cerdas Kemendes PDTT ini, diselenggarakan oleh Kader Digital Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar dengan menampilkan dua orang pemateri, yaitu Hamzah Fathoni, Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar, yang juga Leader Desa Cerdas Relawan TIK Indonesia dan Sugiarto, S.Kom., M. Kom., Kepala Program Studi Bisnis Digital, Fasilkom UPN Veteran Jawa Timur.

Kegiatan ini dibuka oleh Mujiyanto, Kepala Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Dalam sambutannya, Mujiyanto menyampaikan bahwa kegiatan malam ini merupakan rangkaian dari Desa Sawentar yang telah ditetapkan oleh Pusdaing Kemendes PDTT sebagai salah satu lokus Smart Village (Desa Cerdas) Fase pertama. Dimana ada beberapa pilar dari program Desa Cerdas, yaitu Masyarakat Cerdas, Ekonomi Cerdas, dan Kehidupan cerdas yang harus dicapai dengan berbagai bentuk kegiatan seperti pada malam hari ini.

“Untuk mencapai ketiga pilar yang saling berkaitan, setelah melalui kajian dan pemetaan potensi yang ada di Desa kita, perikanan bagian dari sektor pertanian dan UMKM Desa harus diberdayakan. Agar tercapai peningkatan produksi perikanan yang efektif dan efisien menggunakan Teknologi Digital, sehingga ekonomi di desa kita bisa kuat. Jelas kegiatan malam ini merupakan bagian dari Literasi Digital agar terbentuk Masyarakat Cerdas terlebih dahulu sebagai pengguna dari teknologi penunjang tersebut”, dijelaskan oleh Mujiyanto, Kades Sawentar.

Selanjutnya Hamzah Fathoni, Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar, sebagai pemateri yang sekaligus pendamping Desa Sawentar dalam implementasi program Smart Village, menyampaikan penjelasan tentang program Desa Cerdas dan berbagai bentuk kegiatan dalam upayanya mencapai indikator dan sub-indikator dari masing-masing pilar Desa Cerdas dalam mewujudkan pencapaian SDG’s Desa yang telah diamanatkan Kemendes PDTT RI.

Sugiarto, S.Kom., M.Kom., Kaprodi Fasilkom UPN Veteran Jawa Timur, sebagai pemateri kedua menyampaikan papapran pengenalan kepada peserta yang hadir tentang Teknologi Ineternet of Things (IoT) dan penerapannya pada kegiatan hulu di sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan sektor yang lainnya yang ada di perdesaan.

Berbagai pertanyaan dan permasalahan yang diajukan oleh beberapa peserta yang sehari-harinya adalah peternak ikan lele, ikan koi dan ikan nila, dijawan oleh para narasumber dengan bentuk diskusi dua arah.

Desa Wates Raih Juara Pertama Lomba Desa Cerdas Nasional

Surabaya (sambungdesa.com) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Pusat Studi Pengembangan Pedesaan, LPPM memberikan penghargaan Unesa Village Award 2023 kepada desa cerdas nasional, Kamis (30/11/2023).

Acara ini dihadiri dan diapresiasi langsung oleh Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar. Menurutnya, ajang ini berdampak langsung pada pembangunan daerah dan pengembangan kualitas hidup masyarakat pedesaan.

Strategi pembangunan nasional negara di dunia, lanjutnya, menggunakan desa cerdas yang dapat mendorong percepatan pembangunan dari 40 tahun menjadi 10 tahun.

“Kalau manual butuh waktu 40 tahun untuk perkembangan desa. Dengan digital kita hanya butuh 10 tahun. Kita hemat 30 tahun atau 1 generasi. Itulah, di Kementerian Desa terus digalakkan desa cerdas, desa digital bahkan kita juga melakukan pelatihan terhadap duta digital dan kader digital desa,” ucapnya.

Unesa Village Award 2023 berhasil didapat desa dengan skor terbaik. Juara 1 diraih Desa Wates, Kabupaten Blitar dengan skor 541. Kemudian juara 2 didapat Desa Papayan, Tasikmalaya dengan skor 494, dan juara 3 Desa Sendangagung Lamongan dengan skor 426.

Adapun Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar yang ditetapkan sebagai juara 1 merupakan salah satu lokus Desa Cerdas Kemendes PDTT yang menjadi Desa dampingan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Blitar sejak tahun 2020 dengan implementasi program pemberdayaan Smart Village Internet Sambung Desa.

Dalam kesempatan ini Hamzah Fathoni, Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar, yang sekaligus sebagai Leader Pendampingan Desa Relawan TIK Indonesia menyampaikan, bahwa dengan diraihnya Juara 1 Desa Cerdas Nasional ini, diharapkan bisa dijadikan inspirasi sekaligus motivasi bagi Desa-desa lainnya yang ada di Indonesia, khususnya di Kabupaten Blitar dalam Transformasi Digital menuju Desa Cerdas.

“Banyak hal yang akan diraih Desa dalam mplementasi program Desa Cerdas dari Kemendes PDTT ini, terutama terkait dengan berbagai bentuk kegiatan untuk mencapai 6 (enam) pilar yang jadi konsep Desa Cerdas dalam mencapai SDG’s Desa. Misalnya dengan naiknya status Desa menjadi Desa Mandiri, membangun jejaring kemitraan dengan NGO, stakeholder, maupun berbagai pihak, serta suksesnya Literasi Digital menuju Masyarakat Cerdas (smart people)”, kata Hamzah Fathoni menjelaskan.

Sawentar dan Wates, Dua Desa Kabupaten Blitar Sabet Predikat Transformasi Digital Desa Terbaik di Festival TIK 2023

Semarang (26/10/2023), Bagian dari rangkaian kegiatan Festival Teknologi Informasi dan Komunikasi (FesTIK) tahun 2023 yang diselenggarakan di Kampus IV Universitas PGRI Semarang adalah Malam Anugerah Award bagi segenap Relawan TIK Indonesia, Stakeholder dan Mitra.

Dalam acara yang dinamakan malam Gala Diner, dibuka dengan tarian jawa, makan malam bersama dan puncaknya adalah penentuan penerima penghargaan untuk sembilan kategori terbaik yang akan ditetapkan bagi seluruh Relawan TIK Indonesia secara nasional, Mitra Pemerintah Daerah dan Mitra Nasional.

Kabupaten Blitar yang dimotori oleh Relawan TIK Kabupaten Blitar, berhasil memborong tujuh penghargaan untuk enam kategori, yaitu : (1) Mitra Kolaborasi Pemerintah Kabupaten Terbaik; (2) Program Inovasi Relawan TIK Terbaik; (3) Pandu Digital Relawan TIK Terbaik; (4) Transformasi Digital Desa Terbaik – Desa Sawentar Kabupaten Blitar; (5) Transformasi Digital Desa Terbaik – Desa Wates Kabupaten Blitar; (6) Leader of The Year Relawan TIK; (7) Produk Inovasi Terbaik – SITAKRO untuk Desa Sawentar Kabupaten Blitar.

Penyampaian penghargaan diawali dengan kategori Mitra Kolaborasi Pemerintah Daerah terbaik, dan Pemerintah Kabupaten Blitar menjadi salah satu penerima penghargaan tersebut, diterima oleh Herman Widodo, SH, Kepala Dinas Kominfo Statistik dan Persandian Kabupaten Blitar.

Selanjutnya Kategori Transformasi Digital Desa Terbaik dianugerahkan kepada Desa Sawentar dan Desa Wates Kabupaten Blitar, yang diterima oleh Mujiyanto, Kepala Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro dan Moh. Hamid Al Mauludi, S.Pd.I, Kepala Desa Wates, Kecamatan Wates.

Kedua desa tersebut merupakan dampingan dari Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Blitar, yang juga merupakan Lokus Program Desa Cerdas (Smart Village) Kementerian Desa PDTT Fase pertama.

Kedua desa ditetapkan sebagai pemenang untuk kategori Transformasi Digital Desa Terbaik dalam Implementasi menuju Smart Village (Desa Cerdas). Keduanya mendapat pendampingan dari Relawan TIK dalam membangun Pertanian Cerdas berbasis Internet of Things, Pemberdayaan UMKM Desa, dan kegiatan Pemutakhiran Layanan Data SDG’s terkait Data Pendidikan, Data Kesehatan, Data Pekerjaan, Data Marginal (Disabilitas), dan Data Pertanian.

Khusus Desa Sawentar saat ini sedang mengembangkan program Lingkungan Cerdas yang didampingi oleh Relawan TIK Kabupaten Blitar dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Hal ini ditandai dengan diterimanya bantuan dari Dinas Lingkunhan Hidup Propinsi Jawa Timur berupa dua buah Kendaraan box merk Viar.

Kick off Pemberdayaan UMKM Desa Dan Pertanian Desa Sawentar

Kabupaten Blitar, 22 – 23 Juli 2023 | Kegiatan Lokakarya Smart Village di awali Kick off Pemberdayaan UMKM Desa dan Petani di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar dengan tema “Pemberdayaan UMKM Desa dan Pertanian Melalui Pemanfaatan Platform Digital” dilaksanakan selama dua hari dengan peserta pelaku UMKM Desa dan Kelompok Tani (poktan), yang juga dihadiri oleh Sugiarto, M.Kom, Ketua Program Studi Bisnis Digital UPN Veteran Jatim, Duta Digital Kabupaten Blitar, Pendamping Lokal Desa dan Kepala Desa dari Desa Wates, Desa Banggle dan Kepala Desa Ngoran beserta Ketua BPD.

Kegiatan ini merupakan awal rangkaian dari pendampingan yang dilakukan oleh Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Kabupaten Blitar dalam implementasi mewujudkan Kehidupan cerdas di Desa dengan membentuk Masyarakat Cerdas, membangun Tata Kelola Pemerintahan Desa Cerdas dan Ekonomi Cerdas.

Rangkaian kegiatan nantinya akan diawali Kegiatan Literasi Digital dan Pelatihan Dasar bagi para pelaku UMKM Desa dan para Petani, dilanjutkan dengan kegiatan Workshop dan Pelatihan Teknis bagi para pelaku UMKM Desa, para Petani, Perikanan, Peternak dan Pemberdayaan Perempuan Desa (KWT, Kopwan, Dasa Wisma dan PKK Desa). Puncaknya adalah Praktek Impmentasi dan Instalasi Peralatan IoT Pertanian dan Perikanan di lahan percontohan.

Di hari kedua (23/07/23) dalam Sambutannya, Dr. Lucik sebagai Duta Digital pendamping Desa Sawentar sebagai lokus Desa Cerdas menyampaikan bahwa kegiatan dua hari ini merupakan Kick off dari Pemberdayaan UMKM Desa dan Para Petani. Dr. Lucik juga menjelaskan bahwa desa memiliki asset yang tidak nampak (intangible) berupa data update tentang potensi pertanian, potensi ekonomi para pelaku usaha desa, serta data SDM yang sangat luar biasa di desa Sawentar jika dibanding dengan desa-desa lain yang ada di Kabupaten Blitar.

“Oleh sebab itu dalam rangkaian kegiatan ini akan dilakukan pendampingan membangun layanan data dan layanan administrasi bagi warga desa secara cepat, aman dan lebih nyaman, yaitu dengan adanya aplikasi online”, kata Dr. Lucik.

Pada kegiatan hari pertama (22/07/23) UPN Veteran Jawa Timur yang di wakili oleh Ketua Program Studi Bisnis Digital, Sugiarto, M.Kom menyampaikan bahwa komitmen institusi/universitas dalam membangun desa merupakan salah satu kegiatan dosen dan civitas akademika guna menerapkan hasil riset yang ada di kampus. Kendati program studi Bisnis Digital ini adalah Program Studi baru, tetapi tidak menghambat model penerapan hasil riset dan pengabdian ke desa untuk bisa membangun desa menjadi desa mandiri dan membangun ekonomi masyarakat desa menjadi lebih baik. Ekonomi berbasis kekayaan lokal akan bisa lebih bagus nilai jualnya ke luar dengan proses dan pemasaran yang lebih luas.

“Melalui teknologi digital ini ayo bersama-sama kita bangun bahwa Desa Sawentar ini bisa mengembangkan ekonominya melalui UMKM yang mampu Naik Kelas dan pengolaan hasil pertanian dan perkebunan untuk bisa dijual dengan harga tertinggi”, kata Sugiarto.

Mujiyanto, Kepala Desa Sawentar dalam sambutannya sangat berharap bahwa Relawan TIK Kabupaten Blitar melakukan pendampingan secara menyeluruh, mulai dari upaya desa dalam membangun Aplikasi Layanan Administrasi kepada warga dan layanan data secara online, sampai dengan pendampingan para pelaku UMKM Desa agar naik kelas, serta mendampingi para petani dan perikanan di Desa Sawentar untuk menggunakan teknologi modern agar lebih efisien dalam proses pertanian Hulu dan memberikan nilai tambah bagi pertanian Hilir dengan aplikasi data perniagaan maupun transaksi digital hasil pertanian, peternakan dan perikanan.

“Mohon kami desa Sawentar jangan ditinggal ya pak, agar desa kami bisa dikenal oleh para mitra, stake holder dan pihak luar, sehingga akan banyak yang akan membantu dan berkunjung ke desa Sawentar”, demikian pesan Kepala Desa Sawentar kepada Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar.

Mengawali materi dengan topik “Pemberdayaan UMKM Desa dan Pertanian dalam membangun Smart Economy menuju Desa Cerdas (Smart Village)”, Hamzah Fathoni, Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar berusaha berdialog dengan ibu-ibu peserta yang mayoritas pelaku UMKM Desa dan bapak-bapak dari kelompok tani (poktan) dengan sebuah pertanyaan : “Siapkah njenengan semua untuk bersama-sama menjadikan Sawentar akan banyak dikunjungi orang dari luar desa untuk belajar sekaligus menghabiskan uangnya ke desa Sawentar ?”, yang dijawab oleh para peserta dengan “Siaaapp!”.

Selanjutnya Hamzah Fathoni, menjelaskan bahwa konsep desa wisata itu tidak harus memiliki air terjun, tidak harus memiliki pantai dan view gunung untuk jadi obyek kunjungan (wisata). Karena dengan upaya pemberdayaan pertanian dan perikanan melalui penggunaan teknologi modern yang berhasil, serta pertanian presisi (precision farming), sehingga mampu mengolah lahan dan mengelola produksi pertanian secara efisien dan efektif akan banyak dikunjungi untuk studi tiru dan belajar.

“Konsep Desa Wisata itu sebenarnya berupaya menarik banyak orang dari luar untuk datang berkunjung dalam rangka belajar dan studi tiru, selanjutnya mereka akan menghabiskan (membelanjakan) uangnya dan berlama-lama karena sekaligus difasilitasi dengan kenyamanan akomodasi maupun kuliner khas di desa yang dikunjungi tersebut”, lanjut Hamzah Fathoni.

Selanjutnya Muhajir Sulthonul Azis, M.I.Kom, Ketua Umum Relawan TIK Surabaya sebagai Narasumber utama dalam menyampaikan materinya lebih banyak memberikan motivasi dan upaya-upaya merubah Mindset para peserta pelau UMKM Desa dan para Petani.

“Untuk merubah mindset mereka, kita harus melakukan apa yang sering disebut dengan Brain Washing, yaitu mencuci otak para peserta agar mulai mengikuti perubahan yang kita harapkan dalam pendampingan pemberdayaan ini”, demikian kata Muhajir menjelaskan.

Dalam kesempatan ini para kepala desa lain yang hadir, Pendamping Desa dan dari UPN Veteran Jawa Timur yang diwakili oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) Bisnis Digital, Kaprodi Studi Ekonomi Pembangunan dan Kaprodi Teknologi Pertanian yang juga hadir berkumpul di ruang Kepala Desa Sawentar bersama Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar untuk berdiskusi dan curah pendapat tentang pendampingan dan bentuk-bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis Teknologi yang di setiap desa tidak sama permasalahan yang dihadapi.

Pemberdayaan UMKM Desa dan Pertanian Melalui Transformasi Pemanfaatan Platform Digital

Pemetaan : Penilaian dan identifikasi UMKM di desa

Langkah awal dalam mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di suatu desa adalah dengan melakukan pengkajian dan identifikasi secara menyeluruh terhadap UMKM yang ada. Proses ini melibatkan pengumpulan data tentang jumlah UMKM, jenis bisnisnya, produk atau layanannya, tingkat adopsi digitalnya saat ini, serta kebutuhan dan tantangan spesifiknya. Penilaian ini membantu menciptakan pemahaman yang komprehensif tentang lanskap UMKM di desa, memungkinkan pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan program intervensi dan dukungan yang ditargetkan. Dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing UMKM, sumber daya dapat dialokasikan secara efektif untuk memberikan bantuan, pelatihan, dan sumber daya yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus mereka. Asesmen awal ini menjadi landasan penting bagi langkah selanjutnya dalam keseluruhan rencana untuk mengangkat UMKM di desa.

Pelatihan dan pendidikan digital bagi Pelaku UMKM

Untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa, mereka perlu diberikan pelatihan dan pendidikan digital. Inisiatif ini bertujuan untuk membekali pemilik UMKM dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk memanfaatkan alat dan teknologi digital secara efektif. Program pelatihan dapat mencakup berbagai topik termasuk literasi komputer dasar, manajemen media sosial, strategi pemasaran online, platform e-commerce, dan sistem pembayaran digital. Dengan memberikan pelatihan dan pendidikan digital kepada pemilik UMKM, mereka dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang praktik bisnis online, meningkatkan kehadiran digital mereka, dan memperluas basis pelanggan mereka. Pada akhirnya, ini akan memungkinkan pemilik UMKM untuk beradaptasi dengan lanskap bisnis yang berkembang dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital.

Pengembangan platform digital bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) untuk mempromosikan dan menjual produk mereka merupakan langkah penting dalam meningkatkan kehadiran pasar mereka dan memperluas basis pelanggan mereka. Dengan menciptakan platform online yang user-friendly dan intuitif, pemilik UMKM dapat memamerkan produk mereka ke khalayak yang lebih luas, termasuk calon pelanggan di luar lingkungan terdekat mereka. Platform digital ini dapat menggabungkan berbagai fitur seperti katalog produk, deskripsi terperinci, gambar berkualitas tinggi, dan ulasan pelanggan untuk memberikan informasi lengkap tentang produk kepada calon pembeli. Selain itu, platform dapat menawarkan opsi pembayaran yang aman dan nyaman, memastikan proses transaksi yang lancar. Dengan memanfaatkan kekuatan teknologi digital, UMKM dapat mengatasi keterbatasan geografis dan memasuki pasar yang lebih besar, sehingga meningkatkan potensi penjualan dan pendapatan mereka.

Terwujudnya sistem pembayaran digital untuk keamanan transaksi merupakan komponen penting dalam mendukung dan memberdayakan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di desa. Dengan menerapkan sistem pembayaran digital, pemilik UMKM dapat menawarkan pelanggannya cara yang nyaman dan aman untuk bertransaksi. Sistem ini akan memungkinkan UMKM menerima berbagai bentuk pembayaran digital, seperti mobile payment, online banking, dan e-wallet. Dengan merangkul pembayaran digital, UMKM dapat mengurangi ketergantungannya pada transaksi tunai yang berisiko dan merepotkan. Selain itu, sistem pembayaran digital dapat membantu pemilik UMKM melacak penjualan dan catatan keuangan mereka dengan lebih efisien, memungkinkan mereka membuat keputusan bisnis yang tepat. Selanjutnya, dengan mengintegrasikan gateway pembayaran yang aman, UMKM dapat membangun kepercayaan dengan pelanggannya dan menarik basis pelanggan yang lebih luas. Pembentukan sistem pembayaran digital akan berkontribusi pada pertumbuhan dan keberlanjutan UMKM secara keseluruhan, memfasilitasi integrasi mereka ke dalam ekonomi digital dan memperluas peluang pasar mereka.

Integrasi UMKM ke dalam platform e-commerce merupakan langkah krusial dalam memperluas jangkauan pasar usaha kecil dan menengah di desa. Dengan memanfaatkan platform e-commerce, pemilik UMKM dapat memanfaatkan basis pelanggan yang lebih luas di luar komunitas lokal mereka. Integrasi ini memungkinkan UMKM untuk memamerkan produk atau layanan mereka kepada audiens yang lebih besar, meningkatkan visibilitas dan potensi penjualan mereka. Selain itu, platform e-commerce menyediakan cara yang nyaman dan mudah diakses bagi pelanggan untuk menelusuri, membeli, dan menerima produk UMKM, menghilangkan hambatan geografis. Dengan mengintegrasikan UMKM ke dalam platform e-commerce, bisnis ini dapat melampaui batasan fisik dan menjangkau pelanggan secara nasional atau bahkan global. Perluasan jangkauan pasar ini tidak hanya mendongkrak potensi pendapatan UMKM tetapi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi desa secara keseluruhan.

TANTANGAN UMKM DESA

UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan Pertanian merupakan sektor ekonomi yang memiliki peran penting dalam perekonomian di desa. UMKM mencakup berbagai jenis usaha seperti peternakan, perkebunan, industri pengolahan hasil pertanian, dan kerajinan tangan. 

Di era digital, sektor UMKM juga mengalami perkembangan yang signifikan. Digitalisasi telah mempengaruhi cara UMKM di desa beroperasi, termasuk dalam hal pemasaran, manajemen keuangan, dan akses ke informasi. Dengan adanya teknologi digital, UMKM di desa dapat memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Namun, digitalisasi juga membawa tantangan baru yang harus dihadapi oleh UMKM di desa, seperti keterbatasan akses infrastruktur teknologi, kurangnya pengetahuan dan keterampilan digital, serta persaingan dengan pelaku usaha besar. Oleh karena itu, strategi yang tepat diperlukan untuk menghadapi tantangan tersebut dan memanfaatkan peluang yang ada dalam era digital bagi UMKM di pedeesaan.

Perkembangan teknologi digital telah memberikan dampak signifikan pada sektor UMKM. Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi telah memungkinkan UMKM di desa untuk mengadopsi berbagai alat dan aplikasi digital yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas mereka. Contohnya, para pelaku UMKM sekarang dapat menggunakan platform e-commerce untuk menjual produk mereka secara online, mengakses informasi pasar secara real-time, dan memanfaatkan teknologi sensor untuk memantau dan mengelola pertanian mereka dengan lebih efektif. Selain itu, teknologi digital juga telah memungkinkan para pelaku UMKM di desa untuk mengoptimalkan proses produksi dan distribusi mereka melalui penggunaan sistem manajemen rantai pasokan yang terintegrasi. Dengan adopsi teknologi digital, para pelaku UMKM di desa dapat mengurangi biaya operasional, meningkatkan akses ke pasar yang lebih luas, dan meningkatkan daya saing mereka dalam era digital.

Tantangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM, khususnya di pedesaan di era digital adalah : 

  1. Adanya kesenjangan digital. 
  2. Banyaknya pelaku UMKM di pedesaan dan sektor pertanian masih menghadapi kendala dalam mengakses teknologi digital. 
  3. Keterbatasan infrastruktur, kurangnya akses ke internet. Serta kurangnya pengetahuan dan keterampilan digital. 
  4. Para pelaku UMKM di desa dan para pertani juga menghadapi tantangan dalam memasarkan produk mereka secara online dan mencapai pasar yang lebih luas. 
  5. Kurangnya pengetahuan tentang pemasaran digital dan keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan pelaku UMKM di desa dan para petani dalam menghadapi era digital. 
  6. Persaingan dengan korporasi besar yang memiliki sumber daya yang lebih besar juga menjadi tantangan bagi pelaku UMKM di desa dan para petani di era digital ini.

Strategi menghadapi tantangan yang ada dapat melibatkan beberapa langkah penting : 

  1. Pengembangan keterampilan digital menjadi hal yang krusial bagi para pelaku UMKM di desa. 
  2. Meningkatkan pemahaman tentang teknologi digital, seperti penggunaan platform e-commerce, pemasaran online, dan manajemen data, dapat membantu UMKM di desa untuk bersaing di pasar yang semakin kompetitif. 
  3. Kolaborasi antara pelaku UMKM di desa juga menjadi strategi yang efektif. 
  4. Melalui kerjasama dengan pihak lain, seperti perguruan tinggi atau lembaga riset, UMKM di desa dapat memperoleh bantuan dalam mengembangkan inovasi dan meningkatkan daya saing mereka. 
  5. Peran pemerintah dalam membantu UMKM  menghadapi tantangan digital. Dukungan kebijakan yang memfasilitasi akses ke teknologi digital, pelatihan, dan pendanaan dapat membantu UMKM di desa untuk mengatasi hambatan dalam mengadopsi teknologi digital. 
  6. Terakhir, penting bagi para pelaku UMKM, khususnya di pedeesaan untuk terus mengikuti perkembangan teknologi digital dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

TANTANGAN PERTANIAN DI ERA DIGITAL

Penggunaan teknologi digital dalam pertanian telah menjadi tren yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi digital, seperti sensor, drone, dan sistem pemantauan otomatis, telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian. Dengan adanya teknologi digital, petani dapat memantau dan mengelola tanaman mereka dengan lebih efektif, termasuk pemantauan suhu, kelembaban tanah, dan kualitas air. Selain itu, teknologi digital juga memungkinkan adanya penggunaan presisi dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman, sehingga mengurangi penggunaan pestisida secara berlebihan. Dalam hal ini, teknologi digital membantu meningkatkan hasil panen dan mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh faktor eksternal. Dengan demikian, penggunaan teknologi digital dalam pertanian memberikan potensi untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi ketimpangan dalam distribusi sumber daya pertanian.

Peningkatan efisiensi dan produktivitas pertanian dengan teknologi digital telah menjadi fokus utama dalam menghadapi tantangan pertanian di era modern. Penggunaan teknologi digital, seperti sensor, drone, dan sistem manajemen data, telah membantu petani dalam mengoptimalkan proses pertanian. Dengan adanya teknologi digital, petani dapat memantau kondisi tanah, cuaca, dan kebutuhan air secara real-time, yang memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan yang lebih tepat dan efisien dalam penggunaan sumber daya. Selain itu, teknologi digital juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian melalui penggunaan otomatisasi dan robotika dalam proses penanaman, pemeliharaan, dan panen. Hal ini dapat mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia dan meningkatkan efisiensi produksi. Dengan demikian, penggunaan teknologi digital dalam pertanian dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pertanian.

Tantangan regulasi dan keamanan data dalam pertanian digital menjadi isu penting yang perlu diperhatikan. Dalam era digital, pertanian semakin mengandalkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Namun, penggunaan teknologi digital juga membawa risiko terhadap keamanan data pertanian. Regulasi yang tepat diperlukan untuk melindungi data pertanian dari penyalahgunaan dan akses yang tidak sah. Selain itu, tantangan keamanan data juga meliputi perlindungan terhadap serangan siber dan kebocoran data yang dapat merugikan petani dan industri pertanian secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah, sektor pertanian, dan lembaga terkait untuk mengembangkan regulasi yang memadai dan menjaga keamanan data dalam pertanian digital.

Peningkatan akses dan inklusi digital di sektor pertanian merupakan hal yang penting untuk memastikan pertumbuhan dan kemajuan sektor ini di era digital. Dengan adanya teknologi digital, petani dapat mengakses informasi terbaru mengenai praktik pertanian yang efektif, bahan baku, dan pasar. Selain itu, teknologi digital juga memungkinkan petani untuk mengakses layanan keuangan, seperti pinjaman dan asuransi, yang dapat membantu meningkatkan keberlanjutan usaha pertanian. Namun, tantangan yang harus dihadapi adalah ketidaksetaraan akses digital di daerah pedesaan dan kurangnya keterampilan digital di kalangan petani. Upaya inklusi digital harus dilakukan dengan memastikan akses yang merata dan memberikan pelatihan yang diperlukan kepada petani agar mereka dapat memanfaatkan teknologi digital dengan baik. Dengan meningkatkan akses dan inklusi digital, sektor pertanian dapat mengoptimalkan potensi teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan pertanian untuk memperkuat program ketahanan pangan.


PEMBERDAYAAN SEKTOR EKONOMI DAN PERTANIAN DESA

Peningkatan keterampilan dan pengetahuan petani melalui pelatihan dan pendidikan merupakan langkah penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pertanian di desa. Melalui pelatihan, petani dapat memperoleh pengetahuan baru tentang teknik bertani yang lebih efektif, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan penerapan teknologi modern dalam sektor pertanian. Selain itu, pendidikan juga memberikan akses kepada petani untuk memperluas pengetahuan mereka dalam bidang manajemen usaha, pemasaran, dan keuangan. Dengan meningkatnya keterampilan dan pengetahuan petani, mereka dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja, mengurangi kerugian hasil pertanian, serta menghadapi tantangan yang muncul dalam sektor pertanian. Pentingnya pelatihan dan pendidikan bagi petani tidak hanya berdampak positif pada tingkat produksi dan pendapatan petani, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan di desa.

Pemberian akses modal dan kredit kepada pelaku usaha di sektor UMKM dan pertanian merupakan salah satu langkah penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pertanian di desa. Melalui pemberian akses modal dan kredit, pelaku usaha Mikro dan pertanian dapat memperoleh dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha mereka. Hal ini dapat membantu meningkatkan produksi pertanian, diversifikasi usaha, dan memperluas pasar. Selain itu, akses modal dan kredit juga dapat membantu petani dan pelaku usaha di desa untuk memperoleh peralatan, teknologi, dan input produksi lainnya yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Dengan demikian, pemberian akses modal dan kredit dapat memberikan dorongan signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan pertanian di desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Penyediaan infrastruktur yang mendukung kegiatan ekonomi dan pertanian di desa merupakan salah satu aspek penting dalam upaya pengembangan sektor pertanian dan ekonomi di wilayah pedesaan. Infrastruktur yang memadai seperti jalan, irigasi, listrik, dan telekomunikasi dapat meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas antara desa-desa dengan pasar serta pusat kegiatan ekonomi lainnya. Dengan adanya infrastruktur yang memadai, petani dan pelaku usaha di sektor pertanian dapat mengoptimalkan produksi dan pemasaran produk mereka. Selain itu, infrastruktur yang baik juga dapat meningkatkan efisiensi dalam distribusi bahan-bahan pertanian dan pengangkutan hasil panen ke pasar. Dengan demikian, penyediaan infrastruktur yang mendukung kegiatan ekonomi dan pertanian di desa merupakan langkah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Pengembangan pasar lokal dan pemasaran produk pertanian desa adalah salah satu aspek penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pertanian di desa. Dengan mengembangkan pasar lokal, petani dan pelaku usaha di desa dapat memperluas jangkauan pasar mereka dan meningkatkan pendapatan mereka. Melalui pemasaran produk pertanian desa, produk-produk lokal dapat dipromosikan dan dijual secara efektif kepada konsumen. Hal ini dapat memberikan keuntungan ganda, yaitu meningkatkan pendapatan petani dan mendukung keberlanjutan ekonomi desa. Pengembangan pasar lokal juga dapat mendorong kerja sama antara petani dan pelaku usaha di desa, sehingga menciptakan peluang kolaborasi dan pertumbuhan yang lebih baik. Dalam konteks ini, penting untuk mengimplementasikan strategi yang tepat, seperti penggunaan teknologi modern dalam pemasaran, pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan keterampilan pemasaran, serta akses informasi dan komunikasi yang memadai bagi pelaku ekonomi dan pertanian di desa.

Penggunaan teknologi modern dalam sektor ekonomi dan pertanian di desa merupakan faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Teknologi modern seperti sistem irigasi otomatis, sensor tanah, dan perangkat lunak manajemen pertanian dapat membantu petani meningkatkan hasil panen mereka dan mengurangi kerugian akibat penyakit tanaman atau gangguan cuaca. Selain itu, teknologi modern juga dapat membantu dalam manajemen inventaris, pemantauan pasar, dan pemasaran produk pertanian desa. Dengan adanya akses dan penerapan teknologi modern, petani dan pelaku usaha di desa dapat meningkatkan daya saing mereka, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan pendapatan. Penting bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk menyediakan pelatihan dan pendampingan dalam penggunaan teknologi modern bagi petani dan pelaku usaha di desa, sehingga mereka dapat memanfaatkan potensi teknologi tersebut secara optimal.

Pengembangan kerjasama antarpetani dan pelaku usaha di desa adalah salah satu aspek penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pertanian di wilayah tersebut. Melalui kerjasama yang kuat antara petani dan pelaku usaha, mereka dapat saling mendukung dan memanfaatkan keahlian serta sumber daya yang dimiliki untuk mencapai hasil yang lebih baik. Kerjasama ini dapat meliputi pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan teknologi antarpetani, sehingga petani dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam mengelola usaha pertanian. Selain itu, kerjasama dengan pelaku usaha di desa juga dapat membantu petani dalam hal pemasaran produk mereka, sehingga mereka dapat memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pendapatan. Dengan adanya kerjasama yang baik antarpetani dan pelaku usaha di desa, dapat diharapkan terciptanya sinergi yang positif dalam pengembangan ekonomi dan pertanian di wilayah tersebut.

Pengimplementasian kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan pertanian di desa merupakan langkah penting dalam mencapai tujuan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Kebijakan ini melibatkan upaya pemerintah dan stakeholder terkait untuk menciptakan regulasi yang memfasilitasi pertumbuhan sektor ekonomi dan pertanian di desa. Hal ini dapat dilakukan melalui penyusunan kebijakan yang mendukung investasi, pengembangan pasar, dan pemberian insentif kepada pelaku ekonomi dan petani di desa. Selain itu, pengimplementasian kebijakan juga melibatkan pemantauan dan evaluasi terhadap implementasi kebijakan yang telah ditetapkan, guna memastikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertanian di desa. Dengan adanya pengimplementasian kebijakan yang tepat, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan pertanian di desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara keseluruhan.

Loader Loading…
EAD Logo Taking too long?

Reload Reload document
| Open Open in new tab

Toolbar Disabilitas