Data Kegiatan

Penguatan Program Pendampingan Desa, Pengguna Internet Dini dan Talent TIK Berbasis Gender Jadi Acuan Kegiatan – Rakernas RTIK 2023

Surabaya, 26 Februari 2023 | Hasil Rapat Kerja Nasional Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia 2023 di Surabaya menghasilkan tujuh acuan kerja. Tiga dari tujuh acuan sangat terkait dengan kolaborasi kegiatan pendampingan di masyarakat desa. Rapat Kerja Nasional digelar secara Hybrid dan dihadiri oleh Pengurus Pusat, Wilayah dan Cabang. Rakernas sukses hasilkan tujuh acuan kerja untuk selanjutnya diterjemahkan dalam berbagai bentuk program kerja yang sudah dan akan berjalan.

“Acuan kerja ini bukan program, tetapi arah untuk menentukan Program Kerja Nasional yang mengakomodir seluruh masukan, kegiatan dan rencana kerja wilayah, daerah dan komisariat dengan target untuk Indonesia menjadi Lebih Digital“, ungkap Fajar Eri Dianto, Ketua umum Relawan TIK Indonesia.

Fajar Eri Dianto menyampaikan hasil Rakernas

Penguatan program pendampingan desa menuju desa cerdas (smart village) merupakan acuan kerja butir kelima. Selain tata kelola pemerintah desa yang berkaitan dengan aspek pemenuhan hak keterbukaan informasi, layanan masyarakat berbasis digital, layanan data dan pemetaan. Butir keenam, inklusi pemberdayaan masyarakat cerdas bagi kelompok wanita. Sehingga kelompok wanita desa harusnya jadi prioritas. Kelompok Wanita Tani (KWT), Koperasi Wanita (Kopwan) dan Penggerak PKK beserta Dasa Wismanya jadi fokus target bagi kegiatan gerakan literasi digital yang sebagian besar berada di desa.

Sehingga perlu dipastikan pengetahuan literasi digital bisa dinikmati secara inklusif oleh masyarakat desa, dengan mengatasi kendala geografis, keterbatasan infrastruktur telekomunikasi dan keberpihakan pada masyarakat rentan (dalam hal ini perempuan).

Sedangkan berdasarkan data, tahun 2030 di Indonesia akan terjadi Dependency Ratio mencapai titik terendah di 46,9%. Artinya di tahun tersebut kelompok usia produktif mencapai dua kali lipat dibanding yang tidak produktif (100/46,9). Sehingga butir keempat acuan kerja perlu secara bersama-sama memastikan kesiapan talenta digital menjelang bonus demografi di kisaran tahun 2030 – 2035.

Jika target adalah lulusan S1 (usia 22 tahun) pada tahun 2035, maka di tahun 2023 ini mereka sedang berusia 10 tahun, alias siswa kelas 4-5 SD. Sedangkan siwa SD dan SMP di Kabupaten Blitar sebagian besar berada di wilayah pedesaan, juga Sekolah-sekolah Negeri maupun swasta SD dan SMP berada di bawah naungan dan tanggung-jawab Dinas Pendidikan Kabupaten, maka arah penguatan literasi digital dan talenta TIK untuk mereka harus dirumuskan bersama antara Relawan TIK, Kader Digital Desa, Pemerintah Desa, dan khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten.

Donny Budi Utoyo, ketua umum Siberkreasi dalam Rakernas sebagai salah satu mitra strategis Relawan TIK Indonesia dalam Rakernas ini, menyampaikan paparan tentang fokus kegiatan yang bisa dikolaborasikan dengan Relawan TIK yang berbertajuk “Meniti Arah Literasi Digital Kita Kolaborasi Memangkas Kesenjangan”.

Donny Budi Utoyo, Ketua Umum Siberkreasi

Dalam paparannya Donny Budi Utoyo, yang biasa akrab dipanggil mas Donny BU itu menyampaikan empat hal arah kolaborasi kegiatan.

Pertama, perlunya meningkatkan capaian Literasi Digital dengan perhatian utama pada Indeks Pilar Aman Digital di posisi paling rendah pada 2022.

Kedua, perlunya terus menjaga toleransi dan demokrasi di ranah digital serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis netizen Indonesia dalam melawan disinformasi / hoaks, khususnya jelang tahun politik 2024.

Yang ketiga, perlunya bersama memastikan kesiapan talenta digital jelang bonus
demografi di kisaran tahun 2035.

“… sehingga Jika target adalah lulusan S1 (usia 22 tahun) pada tahun 2035, maka di tahun 2023 ini mereka sedang berusia 10 tahun, alias siswa kelas 4-5 SD”, kata mas Donny.

Yang Keempat, perlunya memastikan pengetahuan literasi digital bisa dinikmati secara inklusif oleh masyarakat, dengan mengatasi kendala geografis, keterbatasan
infrastruktur telekomunikasi dan keberpihakan pada masyarakat rentan (termasuk perempuan).

“Last but not least, dalam kegiatan kita perlu memastikan pengetahuan literasi digital bisa dinikmati secara inklusif oleh masyarakat, dengan mengatasi kendala geografis, keterbatasan infrastruktur telekomunikasi dan keberpihakan pada kaum perempuan”, kata mas Donny BU menjelaskan pada paparannya.

Pengembangan Kompetensi Literasi Digital Desa – Tata Kelola Website Desa Keren dan Informatif

Kecamatan Selopuro, 22 Februari 2023 | Bagian dari Kegiatan Pengembangan Kompetensi Literasi Digital. Kali ini dengan topik Tata Kelola Website Desa (Webdes) yang Keren dan Informatif sebagai salah satu komponen pilar tata kelola cerdas (smart governance) menuju desa cerdas (smart village). Bertempat di Kantor Kecamatan Selopuro, diikuti oleh delapan desa di wilayah Kecamatan Selopuro, Dinas Kominfo Statistik dan Persandian dan Relawan TIK Kabupaten Blitar melaksanakan kegiatan Sosialisasi tata kelola Webdes yang keren dan informatif.

Kegiatan ini dihadiri langsung Eko Susanto, ST. Msi. Kepala Dinas Kominfotik dan Persandian, Murlina, S.Sos, MM. Plt. Camat Selopuro, Hamzah Fathoni Ketua Umum Relawan TIK, serta Sekretaris Desa dan Perangkat Desa dari delapan desa di wilayah Kecamatan Selopuro sebagai peserta.

Dalam sambutan pengarahannya Eko Susanto menyampaikan, seiring perkembangan teknologi, media digital berupa Website Desa dan media sosial merupakan tools (alat) untuk branding dan pintu pamer profil desa beserta seluruh potensi yang ada di desa.

“Bisa jadi banyak sekali contoh, baik yang positif maupun kasus-kasus yang terjadi di desa bisa dipublish oleh Netizen di media sosial. Sehingga mari kita bangun dan kita kelola media digital yang ada untuk menyampaikan informasi desa kita kepada masyarakat secara luas”, kata Eko Susanto dalam pengarahannya.

Pada kesempatan ini Murlina Plt. Camat Selopuro dalam pengarahannya juga menyampaikan, desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Selopuro harus memulai untuk menampilkan wajah desanya melalui media Website Desa sebagai landing page yang juga didukung oleh konten-konten keren dan menarik secara official melalui media sosial desa.

Setelah acara seremonial berupa sambutan-sambutan, dilanjutkan dengan kegiatan utama berupa Sosialisasi tata kelola Webdes yang keren dan informatif, beserta fungsi dan pemanfaatannya sesuai pilar smart governance menuju smart village.

Materi pertama disampaikan oleh Asyik Fauzi, Kepala Bidan Aplikasi dan Informatika (APTIKA) Diskominfotik dan Persandian. Materi yang disampaikan lebih bersifat teknis tentang regulasi dan amanat UU Keterbukaan Informasi Publik, tata cara pendaftaran domain desa.id dan Server Hosting yang difasilitasi oleh Dinas Kominfotik dan Persandian Kabupaten Blitar.

Sedangkan Materi kedua disampaikan oleh Hamzah Fathoni, Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar. Materi yang disampaikan menjelaskan tentang konsep desa cerdas (smart village) Kemendes PDTT, terutama terkait dengan pilar tata kelola cerdas (smart governance) pemerintahan desa cerdas. Dimana penyediaan Sistem Informasi Desa (SID) berupa website desa merupakan bagian utama dalam pilar tata kelola cerdas :

  • Menyediakan Sistem Informasi – Tata Kelola Website Desa
  • Penyediaan Pelayanan Masyarakat
  • Penyediaan Layanan Potensi Desa
  • Penyediaan Layanan Data Kemiskinan
  • Penyediaan Layanan Data Marginal
  • Penyediaan Layanan Data Aset Desa
  • Penyediaan Layanan Keuangan Desa
  • Penyediaan Layanan Desa Mandiri

Dalam penjelasannya Hamzah Fathoni menyampaikan bahwa website desa itu ibarat “Rumah” / balai Desa kita di internet, dimana orang lain bisa mengunjunginya kapan saja, menggunakan komputer maupun gadget, seperti ponsel, tablet,dll.

“Website desa berfungsi sebagai media publikasi dan interaksi, berisi tulisan, gambar, audio hingga video yang dapat dikelola untuk kepentingan desa”, kata Hamzah menjelaskan lebih lanjut.

“Website desa yang keren sekaligus informatif itu bisa terhubung dengan media sosial, seperti facebook, twitter, youtube dll.”, lanjut Hamzah dalam upaya meyakinkan peserta tentang pentingnya website desa.

Akhirnya kegiatan yang dimoderatori oleh Subana, S.Kom, Wakil Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang disambut antusias dengan banyaknya pertanyaan dari para peserta, terutama para perangkat dan kader dari kalangan generasi muda milenial.

Bimtek Pengembangan Kompetensi Literasi Digital di Desa Jimbe

Kabupaten Blitar, 08 Februari 2023 | Bertempat di Balai Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar diselenggarakan kegiatan Bimbingan teknis terkait upaya pengembangan kompetensi gerakan literasi digital desa. Kegiatan ini terselenggara atas inisiasi Pemerintah Desa Jimbe, Dinas Kominfotik dan Persandian, serta bekerjasama dengan program Internet Sehat Telkom Blitar dan Relawan TIK Kabupaten Blitar.

Kegiatan di Balai Desa Jimbe ini dihadiri oleh Asyik Fauzi, Kepala Bidang Aplikasi dan Informatika Dinas Kominfotik dan Persandian, Fendi Gira Santoso, Kepala Desa Jimbe, dan Subana, Wakil Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar. Sementara dari Telkom Blitar adalah Rafa, Manager Marketing.

Telkom, Diskominfo, Kades Jimbe, dan Relawan TIK

Dalam sambutannya Asyik Fauzi, Kepala Bidang Aplikasi dan Informatika (APTIKA) Dinas Kominfotik dan Persandian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tindak-lanjut dari hasil Musrenbang desa Jimbe tahun 2022, berupa program pembinaan bidang literasi digital untuk kelompok masyarakat di desa.

“Kegiatan ini akan dikemas sedemikian rupa sebagai gerakan literasi digital bagi masyarakat desa, yang akan dilakukan secara masif dalam bentuk roadshow di seluruh desa/ kelurahan di luar lokus desa cerdas Kemendes PDTT”, kata Fauzi, Kepala Bidang APTIKA Diskominfotik dan Persandian Kabupaten Blitar.

Pemateri dan para peserta Bimtek

Sedangkan Fendi Gira Santoso, Kepala Desa Jimbe dalam sambutannya lebih menekankan pada ungkapan terima kasih kepada Diskominfotik dan Persandian Kabupaten Blitar yang telah berkenan menindaklanjuti program hasil musrenbang desa Jimbe.

“Kami juga berharap, dari kegiatan ini akan ada peningkatan wawasan literasi digital untuk seluruh masyarakat desa Jimbe khususnya, dan masyarakat desa-desa di seluruh Kabupaten Blitar secara umum”, kata Fendi, Kepala Desa Jimbe.

Dari Relawan TIK, membawakan pilar Digital Culture dengan materi “Budaya Digital Pancasila di Ruang Digital”. Materi ini disampaikan oleh Subana, Wakil Ketua Umum bersama Nuryan Dwi Saputri, Sekretaris Relawan TIK Kabupaten Blitar.

Kegiatan ini diikuti dengan sangat antusias oleh berbagai kelompok masayarakat desa Jimbe, yaitu Karang Taruna, TP PKK, dan Perangkat Desa.

Wakil Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar

Bimtek Smart Governance, Peningkatan Kapasitas Kader Dan Perangkat Desa

Internet Sambung Desa |Kabupaten Blitar, 27 – 28 Januari 2023 Bertempat di Kawasan Wisata Puncak Sekawan, Desa Wisata Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Blitar bekerja sama dengan Pemerintah Desa Wates sebagai salah satu lokus program desa cerdas Kemendes PDTT yang sekaligus menjadi desa dampingan Relawaan TIK Kabupaten Blitar, menyelenggarakan Bimtek implementasi pilar tata kelola cerdas (smart governance).

Dalam kegiatan ini dihadiri secara daring oleh Fajar Eri Dianto Ketua Umum Relawan TIK Indonesia. Secara luring dihadiri oleh Agus Zaenal Camat Wates, Moh. Hamid Almauludi Kepala Desa Wates, Asyik Fauzi Kepala Bidang Aplikasi dan Informatika (APTIKA) Dinas Kominfotik dan Persandian, PPL Dinas Pertanian dan Pangan, serta Pendamping Desa di Kabupaten Blitar.

Peraturan Pemerintah Nomer 96 tahun 2012 menjamin bahwa setiap masyarakat berhak untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan publik. Masalah pelayanan publik adalah persoalan antara sistem, metode dan kapabilitas SDM. Sistem-sistem yang dibangun oleh kebijakan pemerintah daerah berupaya untuk melakukan simplifikasi atau penyederhanaan, mengintegrasikan sumber-sumber data dan resources serta mengurangi intervensi manusia sebagai faktor human error.

Upaya menjawab permasalahan tersebut adalah peningkatan kualitas pelayanan dan berbagai inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Salah satu bentuknya adalah mendekatkan pelayanan administrasi kepada masyarakat. Dengan jalan memanfaatkan teknologi informasi hingga ke desa-desa dan pelayanan secara individu (self-service).

Guna mendukung inovasi pelayanan yang dapat langsung menyentuh masyarakat, maka pemerintah daerah perlu melakukan breakdown pelayanan di level desa agar mampu dijangkau oleh masyarakat secara langsung.

Pemanfaatan layanan media satu data masih menjadi isu yang cukup berkembang di pemerintah daerah yang basisnya di level desa. Output penyatuan data ini untuk pemanfaatan pembuatan kebijakan dan perencanaan pembangunan menggunakan sumber data yang uptodate, akurat, cepat, dan dapat dipercaya. Proses penyempurnaan data melibatkan berbagai stakeholder. Sehingga pemanfaatan data warga untuk menunjang tata kelola pemerintahan desa menuju desa cerdas (smart village) perlu menjadi prioritas utama.

Peningkatan Akses kepada satu data informasi, produk unggulan dan jasa, serta sumber daya desa akan lebih meningkatkan dampak positif yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, serta akurasi perencanaan pembangunan oleh pemerintah desa.

Namun, pemanfaatan Teknologi Digital di perdesaan memerlukan literasi digital dasar, karena tidak semua anggota, maupun kelompok masyarakat memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup dalam memanfaatkan perangkat digital, sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas bagi kader-kader digital, perangkat desa dan kelompok masyarakat secara berkelanjutan.

Berdasarkan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam upaya implementasi pilar tata kelola cerdas (smart governance) tersebut, beberapa materi disampaikan dalam kegiatan Bimtek dan Peningkatan Kapasitas Kader Digital dan Perangkat Desa yang melibatkan beberapa narasumber.

Fajar Eri Dianto, Ketua Umum Relawan TIK Indonesia dalam kegiatan Bimtek dan Peningkatan Kapasitas ini selain memberikan sambutan, juga memaparkan materi tentang “Layanan Publik Berbasis Digital, Upaya Relawan TIK Dalam Membentuk Masyarakat Cerdas Dan Tata Kelola Pemerintahan Desa Cerdas“. Dalam kesempatan tersebut Fajar Eri, menyampaikan bahwa peran Relawan TIK selalu mendampingi masyarakat, terutama masyarakat desa dalam melakukan transformasi digital di segala sektor, mulai dari tata kelola pelayanan, sektor kesehatan, ekonomi, lingkungan, pertanian dan perikanan sampai dengan pendidikan.

Fajar Eri Dianto menyampaikan pengarahan secara daring

Dalam sambutan dan pengarahannya Agus Zaenal, Camat Wates Kabupaten Blitar menyampaikan bahwa dari tempat yang dipilih saja sudah merupakan bentuk inovasi tersendiri. Dimana baru Desa wates yang bekerjasama dengan Relawan TIK Kabupaten Blitar menjadi pelopor penyelenggaraan Bimtek dan Peningkatan Kapasitas di luar kantor desanya. Ini akan lebih efektif sebagai wahana diskusi dua arah, yang bisa jadi percontohan bagi desa-desa lainnya khususnya di Kecamatan Wates, umumnya desa-desa yang ada di Kabupaten Blitar. Selanjutnya materi yang akan disampaikanpun sangat konkrit bagi pencapaian pilar tata kelola cerdas menuju desa cerdas (smart village).

“Apa yang dilakukan oleh Kepala Desa beserta Kader dan Perangkat Desa Wates hari ini merupakan upaya Desa Wates mencapai indikator yang telah ditetapkan sebagai lokus desa cerdas program Kemendes PDTT, terutama yang berkaitan dengan tata kelola cerdas (smart governance) pada aspek pelayanan mandiri, pengelolaan publikasi melalui media sosial official, dan layanan data sebagai landasan perencanaan pembangunan di desa”, demikian kata Agus, dalam sambutan dan pengarahannya.

Penyerahkan piagam kepada Pemerintah Kabupaten Blitar

Asyik Fauzi, Kepala Bidang APTIKA Diskominfotik dan Persandian Kabupaten Blitar membawakan materi tentang “Tata Kelola Sistem Informasi Desa (SID), Layanan data dan Server Database RDP (Remote DeskTop)”. Dalam materinya Asyik Fauzi lebih banyak memaparkan secara teknis tentang bagaimana mengelola Website Desa, Sistem Informasi Desa (SID) yang transparan dan bisa diakses oleh seluruh masyarakat desa. Teknis pengelolaan Siskuides, data spasial dan peta wilayah desa berbasis NIK juga akan diimplementasikan di Desa Wates sebagai percontohan.

Teknis layanan Mandiri, yang juga jadi salah satu aspek tata kelola cerdas (smart governance) adalah aplikasi Layanan Mandiri. Asyik Fauzi, Kabid APTIKA Diskominfotik dan Persandian, bersama Dendi Wardana sebagai Kepala Seksi Pemerintahan, Kecamatan Wates menyampaikan paparan tentang implementasi pengembangan aplikasi Jalasutra yang sudah diinisiasi oleh Kecamatan wates, yang saat ini sudah bisa dimanfaatkan oleh Desa Wates dalam pelayanan mandiri masyarakatnya. Aplikasi layanan mandiri ini juga sudah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Hamzah Fathoni, Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar dalam kegiatan ini selain menjadi pemandu (moderator), juga menjadi pemateri tentang “Membangun dan Tata Kelola Layanan Data Terintegrasi”. Dalam pengelolaan layanan data terintegrasi ini menggunakan aplikasi MS Access menggunakan jaringan server Remote Desktop (RDP).

Kegiatan Bimtek dilanjutkan sampai jam 20.30 malam dengan materi Implementasi Internet of Things Pertanian Cerdas yang akan menjadikan tiga lahan kelompok tani sebagai piloting. Dalam pembahasannya melibatkan Hammam Rizki, PPL Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar sebagai inisiator Republik Melon yang telah berhasil memenangkan lomba KRENOTEK yang diselenggarakan BAPPEDA Kabupaten Blitar.

Terakhir adalah materi ringan tentang pelatihan Penulisan blog, Videografi dan Editing untuk pembuatan konten media sosial official desa, yang disampaikan oleh Dian Triwiyono, Ketua Bidang Komunikasi Publik Relawan TIK Kabupaten Blitar.

Sindrom Dinosaurus, Punahnya Budaya Membaca Detil Pada Digital Native

“Digital native adalah istilah untuk generasi yang lahir dan tumbuh berkembang dalam dunia digital, di mana mereka berinteraksi secara teratur dengan teknologi sejak usia dini. Generasi ini cenderung lebih akrab dengan terminologi dunia digital“.

Saat ini ramalan John Naisbitt dalam bukunya, Megatren 2000 – Milenium ke tiga (1985) sudah jadi kenyataan. Bahwa Komunikasi dan informasi menjadi panglima dalam kehidupan manusia modern. Terkait dengan kenyataan ini, Thomas L. Friedman dalam bukunya, Thank You For Being Late (2016), teknologi smart phone telah mengubah hidup masyarakat modern. Cara belajar, bekerja, bepergian, berbelanja dan berkawan berubah drastis.

Jika revolusi industri abad ke-17 sangat berjasa membantu kekuatan otot manusia, revolusi teknologi digital saat ini sangat membantu kinerja otak manusia, bahkan cenderung menggantikannya. Munculnya teknologi robot dan perangkat lunak Artificial Intelligence (AI) telah menggantikan kinerja otak manusia yang kerjanya lebih cepat dan akurat. Hanya dalam satu dekade, pengguna teknologi 3G dan 4G sudah mencapai tiga milyar, sehingga smart phone merupakan produk dan bisnis yang cepat menyebar ke seluruh dunia.

Dunia bukan sekedar berubah, tetapi ditata ulang. Orang memiliki dua dunia yang saling terkait, namun kadang saling bertabrakan, yaitu dunia maya dan dunia nyata. Dunia maya menyediakan informasi dan sajian apa saja, dari ilmu pengetahuan, hiburan, politik hingga pornografi.

Penduduk dunia maya merasa saling mengenal dan saling terhubung, namun mereka tetap saja sosok asing. Beberapa penelitian sosial menunjukkan, banyak generasi milenial yang memiliki teman ribuan di dunia maya, namun hidup menyendiri dan asosial di dunia nyata. Salah satu penelitian yang dilakukan terhadap siswa SMA, agar mereka menuliskan tiga hal yang amat penting dalam hidupnya. Jawaban tertinggi adalah : gadget, internet, dan teman dekat.

Jika penelitian ini dilakukan di belahan dunia yang lain (negara manapun), mungkin hasilnya akan sama saja. Remaja Korea menempati angka tertinggi ketergantungan kepada gadget. Para siswa di sana bisa belajar mandiri tanpa guru, lebih nyaman berbagi cerita dengan teman segenerasinya, dan internet membuat mereka merasa terhubung dengan dunia yang lebih luas.

Terjadinya arus perubahan yang teramat cepat ini telah memunculkan disrupsi, sebuah situasi yang membuat gamang karena tidak tahu sesungguhnya apa dan mau kemana gelombang perubahan ini akan membawa umat manusia. Semua akan terbiasa berpikir pendek, tumbuh budaya copas, pengetahuan yang diterima hanya berupa penggalan-penggalan berbentuk selembar meme dan infografis, malas duduk sendiri berlama-lama menikmati buku tebal.

Sehingga semakin mengukuhkan bahwa budaya membaca dan menulis akan segera punah dikalangan generasi digital. Tak ubahnya sindrom dinosaurus, terjadinya kepunahan berbagai bisnis berskala besar, yang harus dipecah-pecah jadi bagian kecil dalam sebuah jejaring aplikasi. Toko dan outlet besarpun berubah menjadi chain store. Hal ini pernah diramalkan oleh John Naisbitt dalam bukunya, The Global Paradox (1994), yang saat ini juga sudah jadi kenyataan.

Membangun Layanan Data dan Sistem Informasi Desa, Upaya Mencapai Smart Governance

“Meningkatkan kecakapan digital masyarakat agar memanfaatkan teknologi digital dengan konten-konten positip untuk melawan konten-konten negatip. Internet harus mampu meningkatkan produktifitas masyarakat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri mendampingi masyarakat menuju percepatan masyarakat sebagai bagian dari Ekosistem Digital secara Global.” (Pidato Presiden RI Saat Peluncuran Gerakan Nasional Literasi Digital, 2021)

Peraturan Pemerintah Nomer 96 tahun 2012 menjamin bahwa setiap masyarakat berhak untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan publik. Masalah pelayanan publik adalah persoalan antara sistem, metode dan kapabilitas SDM. Sistem-sistem yang dibangun oleh kebijakan pemerintah daerah berupaya untuk melakukan simplifikasi atau penyederhanaan, mengintegrasikan sumber-sumber data dan resources serta mengurangi intervensi manusia sebagai faktor human error.

Upaya untuk menjawab permasalahan tersebut adalah peningkatan kualitas pelayanan dan berbagai inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Salah satu bentuknya adalah mendekatkan pelayanan administrasi kepada masyarakat. Dengan jalan memanfaatkan teknologi informasi hingga ke desa-desa dan pelayanan secara individu (self-service).

Guna mendukung inovasi pelayanan yang dapat langsung menyentuh masyarakat, maka pemerintah daerah perlu melakukan breakdown pelayanan di level desa agar mampu dijangkau oleh masyarakat secara langsung. Untuk menjamin akses internet sampai ke desa-desa, kemudian masyarakat perlu diberikan hak akses internet lebih mudah, murah dan berkualitas guna memenuhi kebutuhan akses informasi. Baik membuka konten-konten kreatif, sarana belajar dan komunikasi termasuk di dalamnya menciptakan ruang produktif.

Pemanfaatan media satu data masih menjadi isu yang cukup berkembang di pemerintah daerah yang basisnya di level desa. Output penyatuan data ini untuk pemanfaatan pembuatan kebijakan dan perencanaan pembangunan menggunakan sumber data yang uptodate, akurat, cepat, dan dapat dipercaya. Proses penyempurnaan data melibatkan berbagai stakeholder. Sehingga pemanfaatan data warga untuk menunjang tata kelola pemerintahan desa menuju desa cerdas (smart village) perlu menjadi prioritas utama.

Aplikasi Relational Database Desa

Kehadiran konektifitas Internet telah memberikan dampak positif bagi berbagai sektor kehidupan, antara lain pendidikan, pertanian, layanan kesehatan, ekonomi, sosial, budaya dan transaksi pembayaran.

Peningkatan Akses kepada satu data informasi, produk unggulan dan jasa, serta sumber daya desa akan lebih meningkatkan dampak positif yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, serta akurasi perencanaan pembangunan oleh pemerintah desa.

Namun, pemanfaatan Teknologi Digital di perdesaan memerlukan literasi digital dasar, karena tidak semua anggota, maupun kelompok masyarakat memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup dalam memanfaatkan perangkat digital, sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas bagi kader-kader digital secara berkelanjutan.

Melalui berbagai kegiatan literasi digitalisasi secara mandiri, Pemerintah desa  harus memiliki komitmen yang kuat untuk membangun peta jalan (roadmap) dan implementasinya secara terintegrasi dalam berbagai bentuk layanan.

Sesuai amanat UU No. 6 Tahun 2014 bahwa Desa sebagai subyek utama pembangunan, maka yang pertama, pemberian kewenangan berdasarkan azas rekognisi dan subsidiaritas, Rekognisi yang berarti pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan (eksistensi) desa. Sedangkan subsidiaritas berarti penggunaan kewenangan skala lokal.

Akselerasi pemerintahan desa, dari konvensional menjadi berbasis digital belum optimal. Beberapa sektor pelayanan masyarakat mampu beralih, tetapi tidak sedikit yang jalan di tempat. Kendala yang dialami meliputi rendahnya kualitas SDM, dan belum sejalannya agenda strategis di pemerintah daerah, lebih khusus lagi pemerintah desa.

Transformasi tata kelola pemerintahan desa berbasis digital menjadi sebuah keharusan, salah satunya untuk menghindari penyalahgunaan birokrasi. Komitmen pemerintah daerah hingga pemerintah desa dibutuhkan guna mempercepat transformasi ini demi pelayanan masyarakat yang semakin cepat, transparan dan akuntabel.

Berdasarkan E-Government Development Index (EGDI) yang dirilis PBB, peringkat Indonesia untuk pemerintahan berbasis digital naik signifikan dari peringkat ke-107 pada 2019 menjadi peringkat ke-88 pada 2020.

Survei ini mengukur tingkat kecukupan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), penguasaan SDM pada TIK, dan ketersediaan layanan publik secara daring di 193 negara.

Praktiknya masih banyak ditemukan warga yang kesulitan menggunakan layanan publik berbasis digital, khususnya di masyarakat perdesaan.

Dalam transformasi pemerintahan digital, pembangunan infrastruktur teknologi hanya menyumbang 20 persen, sisanya lebih pada aspek politik, kultur, mindset, kompetensi (sumber daya manusia). Sehingga tantangan birokrasi saat ini adalah mempertajam pengetahuan dan Literasi Digital aparat pemerintahan dan masyarakat secara masif. Kemampuan digital sudah menjadi syarat mutlak, khususnya keamanan siber, kejahatan siber dan kecerdasan tata kelola (smart governance) pemerintahan di tingkat desa.

Starting point kegiatan literasi digital yang berkaitan dengan implementasi pencapaian tata kelola pemerintahan desa harus dimulai dari pengelolaan layanan database sektor kependudukan, kesehatan, pertanian dan bantuan sosial, sedangkan sektor lainnya yang akan menjadi prioritas adalah pendidikan, sosial budaya, aset dan ekonomi masyarakat perdesaan.

Di sektor kesehatan perlu adanya integrasi data kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) baik balita maupun lansia; sehingga rekam medis keluarga berupa master data keluarga dari posyandu, puskendes, puskesmas hingga rumah sakit umum daerah. Sedangkan peta ekonomi, potensi keluarga dan indeks pembangunan manusia (IPM) masyarakat desa perlu big data yang uptodate agar seluruh potensi hasil produksi masyarakat desa bisa diakses kapanpun dan di manapun sebagai basis perencanaan pembangunan desa berbasis data.

Pembangunan infrastruktur dalam konteks digitalisasi pemerintahan masih belum merata, masih banyak masyarakat di daerah perdesaan belum mendapat hak akses internet yang terjangkau dan berkualitas. Tidak meratanya akses internet ini berimplikasi besar pada implementasi kebijakan menuju desa cerdas (smart village). Tidak hanya sebagai pondasi dasar dalam tata kelola pemerintahan yang cerdas (smart governance), persoalan infrastruktur juga merembet ke permasalahan lainnya, seperti minimnya budaya digital masyarakat. Sehingga ketidaksiapan masyarakat karena kesenjangan digital tersebut menjadi alasan utama tata kelola pelayanan pemerintahan desa berbasis digital belum secara masif (bisa) dipergunakan.

Layanan Perpustakaan Digital Desa, Diskusi Program Bersama Dinas Perpustakaan Dan Arsip Kabupaten Blitar

Internet Sambung Desa|Kabupaten Blitar, Kamis 05 Januari 2023|Bertempat di ruang rapat Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Blitar, Relawan TIK Kabupaten Blitar berkesempatan diskusi bersama Kepala Dinas beserta Kepala Bidang Perpustakaan dan staf, terkait rekonstruksi program layanan perpustakaan digital untuk masyarakat desa. Dalam kegiatan ini dihadiri langsung Ir. Krisna Triatmanto, M.Si, Kepala Dinas Perpusip beserta Kepala Bidang Perpustakaan dan Arsip bersama staf. Sedangkan dari Relawan TIK, Ketua umum Hamzah Fathoni, beserta Wakil Ketua umum Subana, S.Kom dan Ketua Bidang SDM. Turut hadir dalam diskusi ini Moh. Hamid Almauludi, S.Pd.I, Kepala Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, mewakili salah satu lokus desa cerdas Kemendes PDTT.

Dalam diskusi ini Kepala Dinas memaparkan berbagai bentuk kegiatan yang selama ini telah dilaksanakan dan rencana kerja (renja) tahun 2023. Relawan TIK Kabupaten Blitar menyampaikan perkenalan sekaligus sosialisasi implementasi konsep Desa Cerdas dengan pemaparan detil pilar smart people (masyarakat cerdas) dan Smart living (kehidupan cerdas) yang hendak dicapai dengan program Perpustakaan Digital bagi masyarakat desa menuju desa cerdas (smart village).

Diskusi Bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip

Kepala Desa Wates yang desanya menjadi salah satu lokus desa cerdas Kemendes PDTT, menyampaikan berbagai kegiatan yang telah bekerjasama dengan Relawan TIK dalam implementasi pencapaian pilar-pilar desa cerdas. Mulai dari kegiatan literasi digital dasar untuk membentuk masyarakat cerdas (smart people), tata kelola pemerintahan cerdas (smart governance) terkait Sistem Informasi Desa (SID), kearsipan dan aplikasi layanan data, sampai upaya mewujudkan adanya ruang komunitas yang di dalamnya nanti ada layanan perpustakaan digital, serta ruang baca bagi anak-anak. Kepala Desa Wates berharap, masalah kearsipan ini akan dibantu oleh Dinas Perpusip, sedangkan pengadaan fasilitas taman bacaan dan layanan perpustakaan digital akan disusun bentuk kolaborasi yang efektif.

Sinkronisasi program Dinas Perpustakaan dan Arsip terkait dengan gerakan literasi, inklusi sosial melalui webinar, sarasehan, pembangunan aplikasi dan pengadaan fasilitas peralatan di desa sejalan dengan program pencapaian pilar masyarakat cerdas (smart people) dan kehidupan cerdas (smart living) masyarakat menuju desa cerdas (smart village), disepakati bersama akan menjadi bentuk kolaborasi inovatif antara Relawan TIK, Dinas Perpustakaan, dan Desa yang menjadi lokus desa cerdas.

Dalam diskusi ini disepakati pula perlu adanya tindak-lanjut dengan melibatkan Relawan TIK sebagai team teknis dan Kepala Desa wates mewakili lokus desa cerdas Kemendes PDTT yang akan jadi piloting dalam implementasinya.

Karena pertemuan ini baru merupakan pertemuan awal, maka diskusi ini ditutup dengan beberapa pemahaman bersama yang akan ditindaklanjuti dengan pembentukan team teknis yang melibatkan Bidang Perpustakaan dan Arsip, Relawan TIK dan Kepala Desa Wates sebagai salah satu desa penerima manfaat.

Perlunya Aplikasi Kegiatan Posyandu Balita Berbasis Digital

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), hal pertama yang terlintas adalah timbangan yang cukup unik bentuknya, dan tentu buku kesehatan ibu dan anak Posyandu.

Posyandu sendiri dilaksanakan oleh kader posyandu. Layanan yang diberikan antara lain penimbangan, pemantauan status gizi, serta pemberian vaksin. Semua kegiatan dicatat dan direkap oleh kader melalui pembukuan. Dalam hal ini, tidak jarang kader posyandu mengalami kesulitan dalam hal pencatatan kegiatan dan juga menentukan status gizi. Tidak jarang juga kader kesulitan dalam mencari data.

Karena semua pencatatan kegiatan posyandu dilakukan dengan manual yakni berupa tabel dan tulis. Untuk penyimpanan data kegiatan sendiri disimpan dalam buku besar. Sering hilangnya buku besar karena banyaknya data arsip kegiatan.

Dalam hal tersebut untuk membantu masalah yang sering dialami kader yakni dengan menggunakan sistem serta model penyimpanan data yang baik. Sehingga dibutuhkan sistem informasi, dimana sistem dapat melakukan pencatatan data, menentukan status gizi, dan mencari data. Sehingga diharapkan sekali dapat membantu kader posyandu dalam mengolah data kegiatan posyandu secara cepat dan efisien.

Dalam salah satu upaya pencapaian pilar smart living (kehidupan cerdas) untuk menuju smart village (desa cerdas). Kebutuhan layanan posyandu khususnya untuk ibu hamil dan balita (karena juga ada posyandu lansia) yang berbasis teknologi digital mutlak dibutuhkan.

Dalam penerapan teknologi digitalisasi kegiatan posyandu ini, bisa menggunakan Internet of Things (IoT) berbasi Artificial Inteligent (AI) ataupun yang masih input data dengan cara diisikan pada aplikasi.

Loader Loading…
EAD Logo Taking too long?

Reload Reload document
| Open Open in new tab

Layanan Kesehatan Masyarakat Desa Berbasis Teknologi Digital – Menuju Smart Village (Desa Cerdas)

Internet Sambung Desa | 21 Desember 2022, Bertempat di Aula kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar telah dilaksanakan audiensi sekaligus diskusi antara Relawan TIK Kabupaten Blitar, bersama dr. christine Indrwati, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan, didampingi Sekretaris Dinas dan para Kepala Bidang beserta staf. Sedangkan dari Relawan TIK, Hamzah Fathoni, Ketua umum; Subana, Wakil Ketua Umum, serta Dian Triwiyono, Ketua Bidang Komunikasi Publik.

Dalam pertemuan ini, Hamzah Fathoni, Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Blitar berkesempatan menyampaikan perkenalan, serta paparan program Smart Village (desa cerdas), terutama yang terkait dengan layanan kesehatan dan Posyandu berbasis teknologi digital di desa. Karena bentuk layanan dan kegiatan posyandu merupakan bagian dari pencapaian pilar smart living (kehidupan cerdas) sebagai salah satu pilar implementasi smart village (desa cerdas).

Diskusi update data profil kesehatan Kabupaten Blitar

Ada beberapa hal yang diajukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar agar bisa dilakukan kolaborasi kegiatannya, terutama terkait dengan kegiatan update profile Kabupaten Sehat yang melibatkan kader di seluruh desa; Kegiatan pelaporan kegiatan Posyandu bersifat digital; Kegiatan membangun satu data kesehatan di Kabupaten Blitar; Kegiatan Literasi Digital, bimtek dan sosialisasi penggunaan aplikasi layanan kesehatan bagi masyarakat desa.

Dalam kesempatan yang sama, Luluk S. Ismoyo, Sekretaris Dinas Kesehatan menyampaikan bahwa kegiatan kolaborasi antara Relawan TIK dan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar harus didasari oleh Nota Kesepahaman (MOU) agar lebih kuat dan lebih jelas arah kerjasamanya.

“Karena masing-masing merupakan institusi yang punya landasan legal formal, lebih jelas, lebih konkrit bentuk-bentuk kegiatan dan kerjasamanya, sebaiknya segera dibuat Nota Kesepahaman kerjasama antara Dinas Kesehatan dan Relawan TIK Kabupaten Blitar”. Disampaikan oleh Luluk S. dalam forum diskusi tersebut.

Akhirnya diskusi ditutup dr. Christien Indrawati, M.Kes dengan membacakan poin-poin kerjasama awal yang akan segera ditindaklanjuti – secara teknis oleh masing-masing Kepala Bidang. Ada 5 poin kerjasama yang akan dilakukan pada triwulan I tahun 2023, yaitu: (1) Update data profil di 220 desa dan 28 kelurahan; (2) Update Big Data Kesehatan di 220 desa dan 28 kelurahan; (3) Bimtek dan Literasi Digital layanan kesehatan bagi masyarakat desa; (4) Transformasi digital dan update data Posyandu; (5) Sosialisasi, Literasi digital, dan cara penggunaan aplikasi antrian layanan Puskesmas SATRIO di 10 lokus desa cerdas, di 5 Kecamatan.

You Are What You Read

Akhir akhir ini, HP (handphone) tidak lagi sekadar tool atau alat komunikasi jarak jauh, tetapi telah naik kelas menjadi bagian integral dan perpanjangan dari kepribadian seseorang atau extended self. Telepon genggam telah mengganti tradisi ngobrol dan tatap muka yang telah lama mengakar pada masyarakat tradisional, lalu berubah menjadi ngobrol di dunia maya dan gambar. Bersamaan dengan tren masyarakat yang semakin individualistis, baik karena pengaruh kompetisi berebut sumber ekonomi maupun kemacetan lalu lintas, kebutuhan orang berkomunikasi lalu difasilitasi oleh telepon selular yang tidak pernah lepas ke mana pun dan di mana pun seseorang berada. Fenomena ini sangat mudah diamati di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika seseorang kehilangan HP-nya, seakan-akan kehilangan bagian dirinya.

Komunikasi melalui WhatsApp dan Twitter menggabungkan budaya ngobrol dan membaca, chatting and writting dan menghilangkan hierarki. Perasaan dan pikiran apa pun dengan leluasa dituliskan layaknya peristiwa ngobrol, namun dalam format tulisan. Jika seseorang menulis dalam media sosial semacama surat kabar atau majalah, di sana terdapat editor yang menyeleksi dan mengoreksi sebelum disebarkan. Ada redaktur yang bertanggung jawab, jelas orang dan alamatnya. Tetapi, dalam media online, lalu lintas berlangsung bebas hampir-hampir tanpa rambu-rambu dan hierarki. Semua berkedudukan sama. Kita juga sulit mengecek dan tidak mudah percaya, apakah nama pengirim dan penulis itu benar-benar autentik orangnya atau nama samaran. Terlebih jika tulisan itu berupa copas.

Karena itu, ketika informasi dan teks bagaikan hujan lebat yang masuk dan mengguyur pekarangan HP kita, jangan buru-buru dipercaya. Jangan semuanya ditelan. Di situlah kedewasaan emosi, integritas intelektual, serta selera bacaan seseorang akan terlihat. Ada orang yang selektif, menganggap banyak sampah yang masuk ke ruang hati dan pikiran kalau saja dibaca semuanya. Kita menjadi garbage collector, pengumpul sampah, baik sampah tulisan maupun sampah visual. Sikap selektif ini sangat penting, mengingat di sana terdapat nasihat klasik, you are what you read.

Apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang banyak dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dibaca. Mengapa kaum kapitalis sangat peduli kepada iklan, bahkan rela mengeluarkan uang ratusan miliar untuk iklan? Karena, mereka yakin bahwa apa yang dilihat akan memengaruhi pilihan dan menggerakkan tindakan untuk berbelanja. Maka tak heran, belakangan iklan properti Meikarta, misalnya, muncul di berbagai media massa dan sudut-sudut kota Jakarta dengan asumsi bahwa iklan itu akan menstimulasi masyarakat untuk membelinya. Dana Triliunan dibelanjakan untuk iklan.

Saya ingin berbagi cerita. Ada seorang teman bergabung dalam sebuah WAG (WhatsApp Group). Teman tadi setiap kali selesai membaca selalu ngedumel dan kadang hatinya panas, karena isi dalam WAG tidak sejalan dengan pandangan politik dan agamanya. Pendek kata, isinya dianggap sampah, kasar dan tidak etis. Tetapi, anehnya, dia tidak mau keluar dari WAG dan selalu saja postingan yang tidak dia suka. Jadi, dengan setia membaca postingan yang tidak disenangi, sama saja dengan setia mengundang fans memasukkan sampah ke dalam hati dan pikirannya. Mestinya, jika tidak senang cukup keluar dari WAG atau tidak membacanya. Kecuali jika yang dia baca bermutu, maka teks postingan bagaikan vitamin atau cahaya yang membuat hati dan pikiran sehat serta terang dalam memandang hidup.

Membaca berarti juga menulis ulang dalam folder memori mental. Maka, bacalah buku dan postingan yang sehat dan berkualitas, karena bacaan pada gilirannya akan mengkristal dan menjadi ingatan dan referensi ketika seseorang berbicara dan bertindak. Saat ini sudah terlalu banyak sampah visual dan tekstual. Jangan sampai merusak selera kita menjadi rendah dan murahan. Tuhan menciptakan ruang hati dan pikiran begitu mahal dan mulia. Jangankan hati dan pikiran, pakaian yang kotorpun tidak akan kita masukkan dalam lemari pakaian kita. Rumah pun setiap pagi dan sore kita sapu, pel dan bersihkan agar bersih dan kilap. Terlebih cawan hati dan pikiran, mestinya lebih bersih.

Toolbar Disabilitas