Akhir akhir ini, HP (handphone) tidak lagi sekadar tool atau alat komunikasi jarak jauh, tetapi telah naik kelas menjadi bagian integral dan perpanjangan dari kepribadian seseorang atau extended self. Telepon genggam telah mengganti tradisi ngobrol dan tatap muka yang telah lama mengakar pada masyarakat tradisional, lalu berubah menjadi ngobrol di dunia maya dan gambar. Bersamaan dengan tren masyarakat yang semakin individualistis, baik karena pengaruh kompetisi berebut sumber ekonomi maupun kemacetan lalu lintas, kebutuhan orang berkomunikasi lalu difasilitasi oleh telepon selular yang tidak pernah lepas ke mana pun dan di mana pun seseorang berada. Fenomena ini sangat mudah diamati di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika seseorang kehilangan HP-nya, seakan-akan kehilangan bagian dirinya.
Komunikasi melalui WhatsApp dan Twitter menggabungkan budaya ngobrol dan membaca, chatting and writting dan menghilangkan hierarki. Perasaan dan pikiran apa pun dengan leluasa dituliskan layaknya peristiwa ngobrol, namun dalam format tulisan. Jika seseorang menulis dalam media sosial semacama surat kabar atau majalah, di sana terdapat editor yang menyeleksi dan mengoreksi sebelum disebarkan. Ada redaktur yang bertanggung jawab, jelas orang dan alamatnya. Tetapi, dalam media online, lalu lintas berlangsung bebas hampir-hampir tanpa rambu-rambu dan hierarki. Semua berkedudukan sama. Kita juga sulit mengecek dan tidak mudah percaya, apakah nama pengirim dan penulis itu benar-benar autentik orangnya atau nama samaran. Terlebih jika tulisan itu berupa copas.
Karena itu, ketika informasi dan teks bagaikan hujan lebat yang masuk dan mengguyur pekarangan HP kita, jangan buru-buru dipercaya. Jangan semuanya ditelan. Di situlah kedewasaan emosi, integritas intelektual, serta selera bacaan seseorang akan terlihat. Ada orang yang selektif, menganggap banyak sampah yang masuk ke ruang hati dan pikiran kalau saja dibaca semuanya. Kita menjadi garbage collector, pengumpul sampah, baik sampah tulisan maupun sampah visual. Sikap selektif ini sangat penting, mengingat di sana terdapat nasihat klasik, you are what you read.
Apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang banyak dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dibaca. Mengapa kaum kapitalis sangat peduli kepada iklan, bahkan rela mengeluarkan uang ratusan miliar untuk iklan? Karena, mereka yakin bahwa apa yang dilihat akan memengaruhi pilihan dan menggerakkan tindakan untuk berbelanja. Maka tak heran, belakangan iklan properti Meikarta, misalnya, muncul di berbagai media massa dan sudut-sudut kota Jakarta dengan asumsi bahwa iklan itu akan menstimulasi masyarakat untuk membelinya. Dana Triliunan dibelanjakan untuk iklan.
Saya ingin berbagi cerita. Ada seorang teman bergabung dalam sebuah WAG (WhatsApp Group). Teman tadi setiap kali selesai membaca selalu ngedumel dan kadang hatinya panas, karena isi dalam WAG tidak sejalan dengan pandangan politik dan agamanya. Pendek kata, isinya dianggap sampah, kasar dan tidak etis. Tetapi, anehnya, dia tidak mau keluar dari WAG dan selalu saja postingan yang tidak dia suka. Jadi, dengan setia membaca postingan yang tidak disenangi, sama saja dengan setia mengundang fans memasukkan sampah ke dalam hati dan pikirannya. Mestinya, jika tidak senang cukup keluar dari WAG atau tidak membacanya. Kecuali jika yang dia baca bermutu, maka teks postingan bagaikan vitamin atau cahaya yang membuat hati dan pikiran sehat serta terang dalam memandang hidup.
Membaca berarti juga menulis ulang dalam folder memori mental. Maka, bacalah buku dan postingan yang sehat dan berkualitas, karena bacaan pada gilirannya akan mengkristal dan menjadi ingatan dan referensi ketika seseorang berbicara dan bertindak. Saat ini sudah terlalu banyak sampah visual dan tekstual. Jangan sampai merusak selera kita menjadi rendah dan murahan. Tuhan menciptakan ruang hati dan pikiran begitu mahal dan mulia. Jangankan hati dan pikiran, pakaian yang kotorpun tidak akan kita masukkan dalam lemari pakaian kita. Rumah pun setiap pagi dan sore kita sapu, pel dan bersihkan agar bersih dan kilap. Terlebih cawan hati dan pikiran, mestinya lebih bersih.
