“Digital native adalah istilah untuk generasi yang lahir dan tumbuh berkembang dalam dunia digital, di mana mereka berinteraksi secara teratur dengan teknologi sejak usia dini. Generasi ini cenderung lebih akrab dengan terminologi dunia digital“.
Saat ini ramalan John Naisbitt dalam bukunya, Megatren 2000 – Milenium ke tiga (1985) sudah jadi kenyataan. Bahwa Komunikasi dan informasi menjadi panglima dalam kehidupan manusia modern. Terkait dengan kenyataan ini, Thomas L. Friedman dalam bukunya, Thank You For Being Late (2016), teknologi smart phone telah mengubah hidup masyarakat modern. Cara belajar, bekerja, bepergian, berbelanja dan berkawan berubah drastis.
Jika revolusi industri abad ke-17 sangat berjasa membantu kekuatan otot manusia, revolusi teknologi digital saat ini sangat membantu kinerja otak manusia, bahkan cenderung menggantikannya. Munculnya teknologi robot dan perangkat lunak Artificial Intelligence (AI) telah menggantikan kinerja otak manusia yang kerjanya lebih cepat dan akurat. Hanya dalam satu dekade, pengguna teknologi 3G dan 4G sudah mencapai tiga milyar, sehingga smart phone merupakan produk dan bisnis yang cepat menyebar ke seluruh dunia.
Dunia bukan sekedar berubah, tetapi ditata ulang. Orang memiliki dua dunia yang saling terkait, namun kadang saling bertabrakan, yaitu dunia maya dan dunia nyata. Dunia maya menyediakan informasi dan sajian apa saja, dari ilmu pengetahuan, hiburan, politik hingga pornografi.
Penduduk dunia maya merasa saling mengenal dan saling terhubung, namun mereka tetap saja sosok asing. Beberapa penelitian sosial menunjukkan, banyak generasi milenial yang memiliki teman ribuan di dunia maya, namun hidup menyendiri dan asosial di dunia nyata. Salah satu penelitian yang dilakukan terhadap siswa SMA, agar mereka menuliskan tiga hal yang amat penting dalam hidupnya. Jawaban tertinggi adalah : gadget, internet, dan teman dekat.
Jika penelitian ini dilakukan di belahan dunia yang lain (negara manapun), mungkin hasilnya akan sama saja. Remaja Korea menempati angka tertinggi ketergantungan kepada gadget. Para siswa di sana bisa belajar mandiri tanpa guru, lebih nyaman berbagi cerita dengan teman segenerasinya, dan internet membuat mereka merasa terhubung dengan dunia yang lebih luas.
Terjadinya arus perubahan yang teramat cepat ini telah memunculkan disrupsi, sebuah situasi yang membuat gamang karena tidak tahu sesungguhnya apa dan mau kemana gelombang perubahan ini akan membawa umat manusia. Semua akan terbiasa berpikir pendek, tumbuh budaya copas, pengetahuan yang diterima hanya berupa penggalan-penggalan berbentuk selembar meme dan infografis, malas duduk sendiri berlama-lama menikmati buku tebal.
Sehingga semakin mengukuhkan bahwa budaya membaca dan menulis akan segera punah dikalangan generasi digital. Tak ubahnya sindrom dinosaurus, terjadinya kepunahan berbagai bisnis berskala besar, yang harus dipecah-pecah jadi bagian kecil dalam sebuah jejaring aplikasi. Toko dan outlet besarpun berubah menjadi chain store. Hal ini pernah diramalkan oleh John Naisbitt dalam bukunya, The Global Paradox (1994), yang saat ini juga sudah jadi kenyataan.
