Karya Relawan TIK Kabupaten Blitar Kembali Menjadi Nominator WSIS Prize 2024

Begini Caranya Untuk Mendukung Karya Kabupaten Blitar Agar Masuk 5 (lima) Besar Menjadi Champion !!

Kiprah Kabupaten Blitar di kompetisi tingkat dunia ternyata masih ada kesempatan berlanjut. Untuk kedua kalinya, Relawan TIK Kabupaten Blitar masuk sebagai nominator pada ajang penghargaan WSIS Prize, di mana pada tahun ini iinisiatif atau karya unggulannya, yaitu INTERNET SAMBUNG DESA pada Category 15 — AL C8. Cultural diversity and identity, linguistic diversity and local content. Pada WSIS Prize 2024 ini, pada tanggal 11 Maret 2024 kemarin sudah diumumkan, dan inisiasi dari Kabupaten Blitar masuk bersama 19 nominator lain dari seluruh dunia di kategori 15.

Apa Itu WSIS Prizes?

World Summit on the Information Society (WSIS) adalah sebuah forum tingkat tinggi dunia, yang didirikan guna mendukung pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG), dengan mendorong perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Forum yang berlangsung setiap tahun ini diselenggarakan oleh PBB melalui host tetapnya yakni International Telecommunication Union (ITU).

Setiap tahun, WSIS Forum mengadakan ajang WSIS Prizes untuk memberikan
penghargaan bagi proyek-proyek TIK dari berbagai belahan dunia. Tahun ini, WSIS Prizes mengeluarkan 18 kategori nominasi yang berkaitan dengan TIK.

Sistem Penilaian WSIS Prizes

Penilaian dalam ajang WSIS Prizes terbagi dalam beberapa tahap. Pada tahap pertama, para pegiat TIK dari seluruh dunia dipersilakan untuk mengajukan proyek TIK-nya ke ajang WSIS Prizes. Kemudian, komite WSIS akan memilih masing-masing 20 nominasi proyek untuk setiap kategori yang ada.

Pada tahap selanjutnya, komite WSIS akan mengadakan pemungutan suara publik atau voting secara daring untuk memilih proyek yang dinominasikan. Dari tahapan ini akan disaring lima proyek per kategori dengan suara terbanyak.

Kemudian, kelompok pakar TIK akan kembali melakukan proses seleksi untuk memilih proyek terbaik dari masing-masing kategori. Terakhir, para pemenang akan diumumkan di acara puncak, berupa upacara pemberian hadiah pada 14 Maret 2023 mendatang.

Yuk, Ikut Dukung Kabupaten Blitar di Ajang WSIS Prizes

Saat ini, WSIS Prizes telah mengumumkan nominasi dari masing-masing kategori penghargaan. Sedangkan tahap pemungutan suara publik berlangsung pada 11 – 31 Maret  2024. Kita dapat ikut memberikan suara untuk  inisiatif dari Kabupaten Blitar dan Indonesia lainnya dengan cara berikut :

Atau,

  • Buka tautan http://s.id/WSIS2024
  • Kamu akan masuk ke laman log in. Untuk pengguna baru, kamu dapat klik register as a new user.Jika tahun sebelumnya kerabat semua sudah pernah vote, kerabat hanya tinggal log-in.

Setelah itu, kembali pada laman voting dan dukung nominasi pilihanmu dengan klik Vote For This Project. Jangan lupa untuk memilih INTERNET SAMBUNG DESA pada kategori Category 15 — AL C8. Cultural diversity and identity, linguistic diversity and local content.

  • Silahkan vote seluruh project Indonesia pada kategori yang ada (satu kategori hanya boleh dipilih satu project). Suara/penghargaan seluruh anggota STK diberi bobot yang sama. Setiap anggota STK hanya boleh memilih/mengapresiasi satu proyek pada setiap kategori. Pemilih dianjurkan namun tidak diharuskan untuk memberikan suara untuk satu proyek di setiap kategori secara keseluruhan 18 kategori secara lengkap (voting complete).

Nominasi WSIS Prizes 2024 dari Indonesia :

– 1). BAKTI DNA Ecosystem by BAKTI Kominfo

Category 2 – AL C2. Information and communication infrastructure

– 2). Addressing The Digital Divide Challenges In Indonesia by Common Room Networks Foundation

Category 4 – AL C4. Capacity building

– 3). JaWAra Internet Sehat (Cyberwise Champion) by ICT Watch

Category 8 – AL C7. ICT applications: benefits in all aspects of life – E-business
– 4). BAKTI Impact Adventures by BAKTI Kominfo

Category 9 – AL C7. ICT applications: benefits in all aspects of life – E-learning
– 5). School online assessment by RTIK Magetan

Category 10 — AL C7. ICT applications: benefits in all aspects of life — E-health
– 6). Alvori Technology by PT Alvori Satria Anagata

Category 11 — AL C7. ICT applications: benefits in all aspects of life — E-employment
– 7). BAKTI ICT Vocational Training by BAKTI Kominfo

Category 15 — AL C8. Cultural diversity and identity, linguistic diversity and local content
– 8). INTERNET SAMBUNG DESA by RTIK Kabupaten Blitar

Category 16 — AL C9. Media
– 9). Jakarta Lawan Hoaks by Department of Communication, Informatics, and Statistics DKI Jakarta

– 10). Podcast Talkshow Literat, Jujur dan Kreatif (Literate, Honest and Creative Talkshow Podcast) by Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Kota Madiun

Category 17 — AL C10. Ethical dimensions of the Information Society
– 11). Remaja Penggerak Literasi TIK Madiun (The Youth ITC Empowerment Literacy Madiun) by Openmadiun Communicate

Pemilu 2024 Memperburuk Situasi Hak-hak Digital selama 2023

Jakarta, 6 Februari 2024 – Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) baru saja meluncurkan laporan situasi hak-hak digital di Indonesia. Laporan Situasi Hak-hak Digital Indonesia 2023 di Serambi Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mengambil tema “Sudah Jatuh, Tertimpa Pemilu Pula”, peluncuran laporan ini menghadirkan penanggap dari Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) sebagai perwakilan masyarakat sipil.

Setiap tahun sejak 2019, SAFEnet membuat laporan pemantauan atas pelanggaran hak-hak digital di Indonesia. SAFEnet membagi hak-hak digital dalam empat topik yaitu akses internet, kebebasan berekspresi, keamanan digital, dan kekerasan berbasis gender online (KBGO). 

Dalam laporan terbaru ini, SAFEnet mengungkap bahwa sepanjang tahun 2023, terjadi peningkatan pelanggaran hak-hak digital di Indonesia, termasuk yang berkaitan dengan Pemilu 2024. Misalnya, dari sisi akses internet, pelanggaran hak terjadi akibat ketersediaan dan keterjangkauan akses yang kurang merata. Padahal, akses internet menjadi infrastruktur penting untuk informasi Pemilu dan penggunaan teknologi Pemilu. 

Peluncuran Laporan Situasi Hak-hak Digital Indonesia Tahun 2023 di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, 6 Februari 2024

Sebagai contoh, tercatat bahwa sebagian warga Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak dapat mengakses internet dengan lancar. Padahal, KPU DIY akan menggunakan Sistem Informasi Rekapitulasi dalam pemilu 2024. Selama 2023, gangguan akses internet pun terus terjadi. Setidaknya terdapat 63 gangguan akses dengan rincian 49 gangguan pada aspek infrastruktur, 7 kali pada aspek layanan, dan 7 kali pada aspek kebijakan. Gangguan akses internet yang berlarut masih ditambah dengan berbagai keadaan kahar yang terjadi dan berulang.

Sedangkan pada sisi kebebasan berekspresi. Selama 2023, terdapat tren peningkatan pelaporan ke kepolisian dengan motif politik menjelang pemilu. Pada tahun 2023, kriminalisasi terhadap ekspresi di ranah digital meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah terlapor pada 2023 meningkat sebanyak 15,9 persen dengan jumlah total 124 orang yang dilaporkan ke polisi.

Sisi keamanan digital juga semakin mengkhawatirkan. Terjadi peningkatan jumlah serangan digital, baik serangan secara halus (menyasar psikologi korban) maupun secara teknis (menyasar aset-aset digital korban). Secara konteks Pemilu 2024, terdapat beberapa serangan digital yang secara spesifik menyasar akun-akun peserta Pemilu 2024 maupun yang membahas politik. SAFEnet menemukan insiden dan serangan digital pada tahun 2023 sebanyak 323 kali. Angka tersebut meningkat terus dibandingkan tiga tahun sebelumnya, yakni 302 kali (2022), 193 kali (2021), dan 147 (2020).

Kasus KBGO juga meningkat akibat dampak Pemilu 2024. Seorang politisi perempuan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) gagal mencalonkan diri sebagai caleg setelah video intimnya tersebar di beberapa platform media sosial seperti Facebook, Twitter hingga Whatsapp. Selain mundur sebagai kandidat caleg, dia juga mengundurkan diri sebagai anggota partai Nasdem. Serangan terhadap caleg perempuan lain juga terjadi melalui media sosial yang mengeksploitasi gender caleg tersebut. Dari sisi angka, KBGO mengalami peningkatan secara signifikan. Selama tahun 2023, SAFEnet menerima 1.052 aduan KBGO. Jumlah aduan itu meningkat 33,65 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu 677 aduan pada tahun 2021 dan 698 aduan pada tahun 2022. Aduan paling banyak diterima pada Juli 2023 dengan total 120 aduan.

Berkaca dari hasil pemantauan SAFEnet, Ketua Komnas HAM, Dr. Atnike Nova Sigiro mengatakan bahwa fenomena demikian dikarenakan regulasi yang ada (UU ITE) sering terkendala perbedaan interpretasi dan juga dapat diskriminatif. Jadi memerlukan kehati-hatian. “Kebebasan berekspresi memang tidak boleh semaunya, tapi pembatasannya juga sama saja, tidak boleh semaunya,” tekan Atnike.

Nurul Amalia dari Perludem menilai, bahwa terdapat banyak gangguan informasi menjelang Pemilu yang beredar di media sosial. Nurul juga menekankan pembatasan akses akibat pelanggaran hak-hak digital dimulai dari kondisi jaringan internet (yang tidak bisa diandalkan) hingga beragam kriminalisasi dan intimidasi di media sosial.

Koordinator Pemantauan dan Direktur Program SAFEnet, Anton Muhajir merangkum bahwa pelanggaran hak-hak digital pada tahun 2023 terpantau naik. Hal ini mengkhawatirkan dan masyarakat harus berupaya berbuat sesuatu untuk menghindari dampak-dampak Pemilu. Apalagi, tahun 2024 ini dampak Pemilu masih akan terasa. 

Senada dengan itu, kedua penanggap menekankan perlunya kolaborasi berbagai pihak. Mulai dari pemantau, bantuan hukum, advokasi media sosial, juga penindakan hukum terhadap pelaku pelanggaran hak-hak digital.
Pada acara peluncuran, partisipan luring juga menyuarakan pendapatnya dengan “mencoblos” surat suara hak-hak digital di Indonesia tahun 2023. Laporan lengkap Situasi Hak-hak Digital di Indonesia 2023 dapat diunduh pada tautan berikut: .

Perkuat Kompetensi Literasi Digital siswa SD – SMP Mempersiapkan Bonus Demografi 2035

Kompetensi literasi pelajar kita masih (sangat) rendah. Padahal tahun 2030 angka dependency ratio mencapai titik terendah 46,9%. Kelompok usia produktif 2 kali lipat dibanding usia nonproduktif.

Jika usia produktif saat bonus demografi 2030 – 2035 adalah umur 22 – 25 tahun lulus S1 dan S2, maka generasi tersebut saat ini (2023) masih jadi siswa SD dan SMP.

Data terakhir yang disampaikan Menteri Pendidikan bahwa 50% siswa SD/MI tidak mencapai kompetensi minimal literasi. Sehingga sebanyak 15% siswa SD/MI/sederajat masih diperlukan intervensi khusus terkait literasi. Jenjang SMP, 45% siswa dinilai belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi (Jawa Pos 28/02/23).

Sebagian besar siswa dan sekolah SD dan SMP berada di pedesaan, maka dibutuhkan peran Pemerintah Desa dan Kabupaten, khususnya Dinas Pendidikan lebih fokus dalam mempersiapkan Literasi Digital Talent Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) para siswa SD dan SMP saat ini menyongsong bonus demografi di depan.

Mulai sekarang juga kita harus berkolaborasi secara bersama-sama mempersiapkan berbagai bentuk kegiatan untuk mendampingi siswa-siswa SD dan SMP untuk lebih siap sebagai pilar bonus demografi yang mampu menguasai teknologi dan ekonomi secara global. Atau generasi ke depan kita malah akan jadi beban karena tidak kompetitif.

Sindrom Dinosaurus, Punahnya Budaya Membaca Detil Pada Digital Native

“Digital native adalah istilah untuk generasi yang lahir dan tumbuh berkembang dalam dunia digital, di mana mereka berinteraksi secara teratur dengan teknologi sejak usia dini. Generasi ini cenderung lebih akrab dengan terminologi dunia digital“.

Saat ini ramalan John Naisbitt dalam bukunya, Megatren 2000 – Milenium ke tiga (1985) sudah jadi kenyataan. Bahwa Komunikasi dan informasi menjadi panglima dalam kehidupan manusia modern. Terkait dengan kenyataan ini, Thomas L. Friedman dalam bukunya, Thank You For Being Late (2016), teknologi smart phone telah mengubah hidup masyarakat modern. Cara belajar, bekerja, bepergian, berbelanja dan berkawan berubah drastis.

Jika revolusi industri abad ke-17 sangat berjasa membantu kekuatan otot manusia, revolusi teknologi digital saat ini sangat membantu kinerja otak manusia, bahkan cenderung menggantikannya. Munculnya teknologi robot dan perangkat lunak Artificial Intelligence (AI) telah menggantikan kinerja otak manusia yang kerjanya lebih cepat dan akurat. Hanya dalam satu dekade, pengguna teknologi 3G dan 4G sudah mencapai tiga milyar, sehingga smart phone merupakan produk dan bisnis yang cepat menyebar ke seluruh dunia.

Dunia bukan sekedar berubah, tetapi ditata ulang. Orang memiliki dua dunia yang saling terkait, namun kadang saling bertabrakan, yaitu dunia maya dan dunia nyata. Dunia maya menyediakan informasi dan sajian apa saja, dari ilmu pengetahuan, hiburan, politik hingga pornografi.

Penduduk dunia maya merasa saling mengenal dan saling terhubung, namun mereka tetap saja sosok asing. Beberapa penelitian sosial menunjukkan, banyak generasi milenial yang memiliki teman ribuan di dunia maya, namun hidup menyendiri dan asosial di dunia nyata. Salah satu penelitian yang dilakukan terhadap siswa SMA, agar mereka menuliskan tiga hal yang amat penting dalam hidupnya. Jawaban tertinggi adalah : gadget, internet, dan teman dekat.

Jika penelitian ini dilakukan di belahan dunia yang lain (negara manapun), mungkin hasilnya akan sama saja. Remaja Korea menempati angka tertinggi ketergantungan kepada gadget. Para siswa di sana bisa belajar mandiri tanpa guru, lebih nyaman berbagi cerita dengan teman segenerasinya, dan internet membuat mereka merasa terhubung dengan dunia yang lebih luas.

Terjadinya arus perubahan yang teramat cepat ini telah memunculkan disrupsi, sebuah situasi yang membuat gamang karena tidak tahu sesungguhnya apa dan mau kemana gelombang perubahan ini akan membawa umat manusia. Semua akan terbiasa berpikir pendek, tumbuh budaya copas, pengetahuan yang diterima hanya berupa penggalan-penggalan berbentuk selembar meme dan infografis, malas duduk sendiri berlama-lama menikmati buku tebal.

Sehingga semakin mengukuhkan bahwa budaya membaca dan menulis akan segera punah dikalangan generasi digital. Tak ubahnya sindrom dinosaurus, terjadinya kepunahan berbagai bisnis berskala besar, yang harus dipecah-pecah jadi bagian kecil dalam sebuah jejaring aplikasi. Toko dan outlet besarpun berubah menjadi chain store. Hal ini pernah diramalkan oleh John Naisbitt dalam bukunya, The Global Paradox (1994), yang saat ini juga sudah jadi kenyataan.

Membangun Layanan Data dan Sistem Informasi Desa, Upaya Mencapai Smart Governance

“Meningkatkan kecakapan digital masyarakat agar memanfaatkan teknologi digital dengan konten-konten positip untuk melawan konten-konten negatip. Internet harus mampu meningkatkan produktifitas masyarakat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri mendampingi masyarakat menuju percepatan masyarakat sebagai bagian dari Ekosistem Digital secara Global.” (Pidato Presiden RI Saat Peluncuran Gerakan Nasional Literasi Digital, 2021)

Peraturan Pemerintah Nomer 96 tahun 2012 menjamin bahwa setiap masyarakat berhak untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan publik. Masalah pelayanan publik adalah persoalan antara sistem, metode dan kapabilitas SDM. Sistem-sistem yang dibangun oleh kebijakan pemerintah daerah berupaya untuk melakukan simplifikasi atau penyederhanaan, mengintegrasikan sumber-sumber data dan resources serta mengurangi intervensi manusia sebagai faktor human error.

Upaya untuk menjawab permasalahan tersebut adalah peningkatan kualitas pelayanan dan berbagai inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Salah satu bentuknya adalah mendekatkan pelayanan administrasi kepada masyarakat. Dengan jalan memanfaatkan teknologi informasi hingga ke desa-desa dan pelayanan secara individu (self-service).

Guna mendukung inovasi pelayanan yang dapat langsung menyentuh masyarakat, maka pemerintah daerah perlu melakukan breakdown pelayanan di level desa agar mampu dijangkau oleh masyarakat secara langsung. Untuk menjamin akses internet sampai ke desa-desa, kemudian masyarakat perlu diberikan hak akses internet lebih mudah, murah dan berkualitas guna memenuhi kebutuhan akses informasi. Baik membuka konten-konten kreatif, sarana belajar dan komunikasi termasuk di dalamnya menciptakan ruang produktif.

Pemanfaatan media satu data masih menjadi isu yang cukup berkembang di pemerintah daerah yang basisnya di level desa. Output penyatuan data ini untuk pemanfaatan pembuatan kebijakan dan perencanaan pembangunan menggunakan sumber data yang uptodate, akurat, cepat, dan dapat dipercaya. Proses penyempurnaan data melibatkan berbagai stakeholder. Sehingga pemanfaatan data warga untuk menunjang tata kelola pemerintahan desa menuju desa cerdas (smart village) perlu menjadi prioritas utama.

Aplikasi Relational Database Desa

Kehadiran konektifitas Internet telah memberikan dampak positif bagi berbagai sektor kehidupan, antara lain pendidikan, pertanian, layanan kesehatan, ekonomi, sosial, budaya dan transaksi pembayaran.

Peningkatan Akses kepada satu data informasi, produk unggulan dan jasa, serta sumber daya desa akan lebih meningkatkan dampak positif yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, serta akurasi perencanaan pembangunan oleh pemerintah desa.

Namun, pemanfaatan Teknologi Digital di perdesaan memerlukan literasi digital dasar, karena tidak semua anggota, maupun kelompok masyarakat memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup dalam memanfaatkan perangkat digital, sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas bagi kader-kader digital secara berkelanjutan.

Melalui berbagai kegiatan literasi digitalisasi secara mandiri, Pemerintah desa  harus memiliki komitmen yang kuat untuk membangun peta jalan (roadmap) dan implementasinya secara terintegrasi dalam berbagai bentuk layanan.

Sesuai amanat UU No. 6 Tahun 2014 bahwa Desa sebagai subyek utama pembangunan, maka yang pertama, pemberian kewenangan berdasarkan azas rekognisi dan subsidiaritas, Rekognisi yang berarti pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan (eksistensi) desa. Sedangkan subsidiaritas berarti penggunaan kewenangan skala lokal.

Akselerasi pemerintahan desa, dari konvensional menjadi berbasis digital belum optimal. Beberapa sektor pelayanan masyarakat mampu beralih, tetapi tidak sedikit yang jalan di tempat. Kendala yang dialami meliputi rendahnya kualitas SDM, dan belum sejalannya agenda strategis di pemerintah daerah, lebih khusus lagi pemerintah desa.

Transformasi tata kelola pemerintahan desa berbasis digital menjadi sebuah keharusan, salah satunya untuk menghindari penyalahgunaan birokrasi. Komitmen pemerintah daerah hingga pemerintah desa dibutuhkan guna mempercepat transformasi ini demi pelayanan masyarakat yang semakin cepat, transparan dan akuntabel.

Berdasarkan E-Government Development Index (EGDI) yang dirilis PBB, peringkat Indonesia untuk pemerintahan berbasis digital naik signifikan dari peringkat ke-107 pada 2019 menjadi peringkat ke-88 pada 2020.

Survei ini mengukur tingkat kecukupan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), penguasaan SDM pada TIK, dan ketersediaan layanan publik secara daring di 193 negara.

Praktiknya masih banyak ditemukan warga yang kesulitan menggunakan layanan publik berbasis digital, khususnya di masyarakat perdesaan.

Dalam transformasi pemerintahan digital, pembangunan infrastruktur teknologi hanya menyumbang 20 persen, sisanya lebih pada aspek politik, kultur, mindset, kompetensi (sumber daya manusia). Sehingga tantangan birokrasi saat ini adalah mempertajam pengetahuan dan Literasi Digital aparat pemerintahan dan masyarakat secara masif. Kemampuan digital sudah menjadi syarat mutlak, khususnya keamanan siber, kejahatan siber dan kecerdasan tata kelola (smart governance) pemerintahan di tingkat desa.

Starting point kegiatan literasi digital yang berkaitan dengan implementasi pencapaian tata kelola pemerintahan desa harus dimulai dari pengelolaan layanan database sektor kependudukan, kesehatan, pertanian dan bantuan sosial, sedangkan sektor lainnya yang akan menjadi prioritas adalah pendidikan, sosial budaya, aset dan ekonomi masyarakat perdesaan.

Di sektor kesehatan perlu adanya integrasi data kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) baik balita maupun lansia; sehingga rekam medis keluarga berupa master data keluarga dari posyandu, puskendes, puskesmas hingga rumah sakit umum daerah. Sedangkan peta ekonomi, potensi keluarga dan indeks pembangunan manusia (IPM) masyarakat desa perlu big data yang uptodate agar seluruh potensi hasil produksi masyarakat desa bisa diakses kapanpun dan di manapun sebagai basis perencanaan pembangunan desa berbasis data.

Pembangunan infrastruktur dalam konteks digitalisasi pemerintahan masih belum merata, masih banyak masyarakat di daerah perdesaan belum mendapat hak akses internet yang terjangkau dan berkualitas. Tidak meratanya akses internet ini berimplikasi besar pada implementasi kebijakan menuju desa cerdas (smart village). Tidak hanya sebagai pondasi dasar dalam tata kelola pemerintahan yang cerdas (smart governance), persoalan infrastruktur juga merembet ke permasalahan lainnya, seperti minimnya budaya digital masyarakat. Sehingga ketidaksiapan masyarakat karena kesenjangan digital tersebut menjadi alasan utama tata kelola pelayanan pemerintahan desa berbasis digital belum secara masif (bisa) dipergunakan.

Perlunya Aplikasi Kegiatan Posyandu Balita Berbasis Digital

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), hal pertama yang terlintas adalah timbangan yang cukup unik bentuknya, dan tentu buku kesehatan ibu dan anak Posyandu.

Posyandu sendiri dilaksanakan oleh kader posyandu. Layanan yang diberikan antara lain penimbangan, pemantauan status gizi, serta pemberian vaksin. Semua kegiatan dicatat dan direkap oleh kader melalui pembukuan. Dalam hal ini, tidak jarang kader posyandu mengalami kesulitan dalam hal pencatatan kegiatan dan juga menentukan status gizi. Tidak jarang juga kader kesulitan dalam mencari data.

Karena semua pencatatan kegiatan posyandu dilakukan dengan manual yakni berupa tabel dan tulis. Untuk penyimpanan data kegiatan sendiri disimpan dalam buku besar. Sering hilangnya buku besar karena banyaknya data arsip kegiatan.

Dalam hal tersebut untuk membantu masalah yang sering dialami kader yakni dengan menggunakan sistem serta model penyimpanan data yang baik. Sehingga dibutuhkan sistem informasi, dimana sistem dapat melakukan pencatatan data, menentukan status gizi, dan mencari data. Sehingga diharapkan sekali dapat membantu kader posyandu dalam mengolah data kegiatan posyandu secara cepat dan efisien.

Dalam salah satu upaya pencapaian pilar smart living (kehidupan cerdas) untuk menuju smart village (desa cerdas). Kebutuhan layanan posyandu khususnya untuk ibu hamil dan balita (karena juga ada posyandu lansia) yang berbasis teknologi digital mutlak dibutuhkan.

Dalam penerapan teknologi digitalisasi kegiatan posyandu ini, bisa menggunakan Internet of Things (IoT) berbasi Artificial Inteligent (AI) ataupun yang masih input data dengan cara diisikan pada aplikasi.

Loader Loading…
EAD Logo Taking too long?

Reload Reload document
| Open Open in new tab

You Are What You Read

Akhir akhir ini, HP (handphone) tidak lagi sekadar tool atau alat komunikasi jarak jauh, tetapi telah naik kelas menjadi bagian integral dan perpanjangan dari kepribadian seseorang atau extended self. Telepon genggam telah mengganti tradisi ngobrol dan tatap muka yang telah lama mengakar pada masyarakat tradisional, lalu berubah menjadi ngobrol di dunia maya dan gambar. Bersamaan dengan tren masyarakat yang semakin individualistis, baik karena pengaruh kompetisi berebut sumber ekonomi maupun kemacetan lalu lintas, kebutuhan orang berkomunikasi lalu difasilitasi oleh telepon selular yang tidak pernah lepas ke mana pun dan di mana pun seseorang berada. Fenomena ini sangat mudah diamati di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika seseorang kehilangan HP-nya, seakan-akan kehilangan bagian dirinya.

Komunikasi melalui WhatsApp dan Twitter menggabungkan budaya ngobrol dan membaca, chatting and writting dan menghilangkan hierarki. Perasaan dan pikiran apa pun dengan leluasa dituliskan layaknya peristiwa ngobrol, namun dalam format tulisan. Jika seseorang menulis dalam media sosial semacama surat kabar atau majalah, di sana terdapat editor yang menyeleksi dan mengoreksi sebelum disebarkan. Ada redaktur yang bertanggung jawab, jelas orang dan alamatnya. Tetapi, dalam media online, lalu lintas berlangsung bebas hampir-hampir tanpa rambu-rambu dan hierarki. Semua berkedudukan sama. Kita juga sulit mengecek dan tidak mudah percaya, apakah nama pengirim dan penulis itu benar-benar autentik orangnya atau nama samaran. Terlebih jika tulisan itu berupa copas.

Karena itu, ketika informasi dan teks bagaikan hujan lebat yang masuk dan mengguyur pekarangan HP kita, jangan buru-buru dipercaya. Jangan semuanya ditelan. Di situlah kedewasaan emosi, integritas intelektual, serta selera bacaan seseorang akan terlihat. Ada orang yang selektif, menganggap banyak sampah yang masuk ke ruang hati dan pikiran kalau saja dibaca semuanya. Kita menjadi garbage collector, pengumpul sampah, baik sampah tulisan maupun sampah visual. Sikap selektif ini sangat penting, mengingat di sana terdapat nasihat klasik, you are what you read.

Apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang banyak dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dibaca. Mengapa kaum kapitalis sangat peduli kepada iklan, bahkan rela mengeluarkan uang ratusan miliar untuk iklan? Karena, mereka yakin bahwa apa yang dilihat akan memengaruhi pilihan dan menggerakkan tindakan untuk berbelanja. Maka tak heran, belakangan iklan properti Meikarta, misalnya, muncul di berbagai media massa dan sudut-sudut kota Jakarta dengan asumsi bahwa iklan itu akan menstimulasi masyarakat untuk membelinya. Dana Triliunan dibelanjakan untuk iklan.

Saya ingin berbagi cerita. Ada seorang teman bergabung dalam sebuah WAG (WhatsApp Group). Teman tadi setiap kali selesai membaca selalu ngedumel dan kadang hatinya panas, karena isi dalam WAG tidak sejalan dengan pandangan politik dan agamanya. Pendek kata, isinya dianggap sampah, kasar dan tidak etis. Tetapi, anehnya, dia tidak mau keluar dari WAG dan selalu saja postingan yang tidak dia suka. Jadi, dengan setia membaca postingan yang tidak disenangi, sama saja dengan setia mengundang fans memasukkan sampah ke dalam hati dan pikirannya. Mestinya, jika tidak senang cukup keluar dari WAG atau tidak membacanya. Kecuali jika yang dia baca bermutu, maka teks postingan bagaikan vitamin atau cahaya yang membuat hati dan pikiran sehat serta terang dalam memandang hidup.

Membaca berarti juga menulis ulang dalam folder memori mental. Maka, bacalah buku dan postingan yang sehat dan berkualitas, karena bacaan pada gilirannya akan mengkristal dan menjadi ingatan dan referensi ketika seseorang berbicara dan bertindak. Saat ini sudah terlalu banyak sampah visual dan tekstual. Jangan sampai merusak selera kita menjadi rendah dan murahan. Tuhan menciptakan ruang hati dan pikiran begitu mahal dan mulia. Jangankan hati dan pikiran, pakaian yang kotorpun tidak akan kita masukkan dalam lemari pakaian kita. Rumah pun setiap pagi dan sore kita sapu, pel dan bersihkan agar bersih dan kilap. Terlebih cawan hati dan pikiran, mestinya lebih bersih.

Program Internet Sambung Desa (ISD), Penerapan IoT Pertanian Cerdas di Lahan Percontohan Kelompok Tani

“Dengan pengolahan pertanian secara modern, saya harapkan pertanian Indonesia dapat tumbuh sebagai pilar penting pertumbuhan ekonomi nasional. Pertanian akan semakin maju. Masyarakat akan semakin lebih sejahtera,” Jokowi – Presiden RI (30/10/2020).

Internet Sambung Desa (ISD)|Hadirnya Teknologi Digital, khususnya konektifitas Internet telah memberikan dampak positif bagi berbagai sektor kehidupan, antara lain pada sektor pertanian dan ekonomi di desa.

Peningkatan Akses kepada Data Informasi Pertanian, dan Perekonomian local desa akan lebih meningkatkan dampak positif, yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat di Desa.

Namun, pemanfaatan teknologi digital di perdesaan memerlukan literasi digital berkelanjutan, karena tidak semua anggota masyarakat memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup dalam memanfaatkan perangkat digital, seperti Smart Phone, Internet dan Teknologi IoT smart farming, sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas (capacity building) yang berkelanjutan.

Melalui program Internet Sambung Desa (ISD), terkait digitalisasi pertanian cerdas (smart farming) secara mandiri kepada petani dan segenap warga masayarakat desa harus memiliki komitmen yang kuat untuk membangun percontohan penggunaan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas pertanian hulu – hilir, dengan pendampingan yang terintegrasi dan berkesinambungan.

Sesuai amanat UU No. 6 Tahun 2014 bahwa kedudukan desa sebagai pemerintahan berbasis masyarakat, yaitu campuran dari komunitas yang mengatur dirinya sendiri (self governing community) dan pemerintahan lokal (local self government), sangat efektif dalam memberdayakan para petani dan pelaku usaha mikro produk hasil pertanian, sebagai kelompok masayarakat terbanyak menuju kehidupan yang lebih sejahtera.

LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

  • Akselerasi transformasi digital di sektor pertanian, koperasi dan UMKM belum optimal. Padahal sektor pertanian telah mendorong perekonomian dasar masyarakat tetap bergerak saat pandemi Covid-19. Sedangkan sektor UMKM telah berkontribusi terhadap PDB sebesar 61,07 persen. Artinya, jika sektor pertanian dan UMKM terus tumbuh akan berimbas terhadap pertumbuhan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat.  
  • Kendala yang dialamai di pedesaan saat ini meliputi rendahnya kualitas SDM dan belum sejalannya agenda strategis di pemerintah daerah dengan pemerintah desa. Krisis pangan dikhawatirkan akan terjadi beberapa tahun kedepan yang disebabkan oleh tingginya jumlah penduduk dan rendahnya produksi pertanian, serta terjadinya alih lahan pertanian. Demikian juga upaya pemerintah daerah dalam membina koperasi dan UMKM yang semakin tumbuh, karena secara konvensional, memiliki keterbatasan rasio jumlah tenaga (SDM).
  • Literasi digital sektor pertanian di Kabupaten Blitar masih rendah, mayoritas tidak mengenyam pendidikan tinggi (65% dari jumlah petani berpendidikan SD) dan sebagian besar petani berusia 45 tahun ke atas (71% dari jumlah petani).
  • Demikian juga dengan sektor koperasi dan UMKM, dimana SDM pengurus koperasi dalam hal kecakapan digital masih sangat rendah. Sedangkan dari pihak Pemerintah Daerah masih belum adanya fasilitasi digitalisasi koperasi. Kapasitas produksi Usaha Mikro (UM) masih rendah, sehingga daya saing UM masih lemah. Sehingga tantangan akses pasar yang belum bisa dioptimalkan meski sebagian sudah masuk dalam ekosistem digital.
  • Dalam transformasi digital, pembangunan infrastruktur teknologi hanya menyumbang 20 persen, sisanya lebih pada aspek politik, kultur, mindset, kompetensi (sumber daya manusia). Sehingga tantangan sektor pertanian di desa saat ini adalah mempertajam pengetahuan dan literasi digital masyarakat secara masif.
  • Di sektor ekonomi dan pertanian masyarakat desa perlu adanya big data yang uptodate agar seluruh potensi hasil produksi pertanian masyarakat desa bisa diakses kapanpun dan di manapun sebagai salah satu dasar utama perencanaan pembangunan desa berbasis data.
  • Pembangunan infrastruktur dalam konteks digitalisasi masih belum merata, masih banyak daerah perdesaan di Kabupaten Blitar belum mendapat akses internet yang terjangkau dan berkualitas. Tidak meratanya akses internet ini berimplikasi besar pada implementasi kebijakan digitalisasi sektor pertanian, baik hulu maupun hilir. Tidak hanya sebagai pondasi dasar dalam sistem tata kelola pemerintahan digital, persoalan infrastruktur ini juga merembet ke permasalahan lainnya, seperti minimnya budaya digital masyarakat petani. Sehingga ketidaksiapan petani karena kesenjangan digital tersebut menjadi alasan utama tata kelola pertanian cerdas (smart farming) berbasis digital belum secara masif dipergunakan.

AGRICULTURE 4.0 UNTUK PERTANIAN DI DESA

Disebut bahwa pada abad ke 22 atau lebih tepatnya tahun 2100 jumlah umat manusia diperkirakan akan mencapai angka 10 miliar orang. Sedangkan, produksi pertumbuhan pangan masih jauh untuk mencukupi banyaknya orang pada saat itu tiba. Banyak kendala yang menghambat, seperti lahan, cuaca dan man power.

“Jumlah populasi manusia semakin bertambah, tidak mungkin petani dapat menghasilkan makanan untuk manusia jika masih menggunakan cara-cara yang sama seperti pada saat populasi manusia masih sedikit”

Disinilah peran teknologi sangat dibutuhkan, Internet Of Things (IOT) adalah salah satu hal dari sekian banyak hal yang dapat meningkatkan produktivitas di pertanian kita.

Sektor agrikultur adalah sektor yang jarang tersentuh oleh perkembangan teknologi informasi, oleh karena itu dengan semakin banyak orang di industri teknologi informasi yang mau berkecimpung diharapkan makin memajukan sektor agrikultur di desa.

Walaupun banyak sekali pro dan kontra dalam penerapan IoT pada bidang agrikultur. Tetapi yang namanya kemajuan teknologi, mau tidak mau kita tetap harus menyesuaikannya. Strategi yang perlu dilakukan :

  • Perlu penerapan multidisiplin ilmu.
  • Regenerasi petani muda yang paham teknologi.
  • Membangun komunikasi yang baik dengan para petani.
  • Pembuatan Pilot Project, sehingga dapat memberikan contoh penerapan IoT yang sukses. Itupun masih belum 100% dapat berjalan dengan baik, mengingat sistem tradisional yang masih melekat pada kebudayaan agrikultur di Indonesia (Sumber: AnbiDev).

Dari introduksi dan latar belakang permasalahan sebagaimana telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan teknologi tak dapat terelakkan dan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Sudah saatnya bagi calon perekayasa pertanian untuk mulai bergerak, mengamati keadaan pertanian saat ini, berinovasi serta terus mengembangkan potensi pertanian yang dimiliki. Sekarang saatnya petani muda yang ada di desa membawa perubahan ke arah yang lebih baik demi memajukan pertanian menuju kesejahteraan masyarakat desa.

PRAKTEK PENERAPAN TEKNOLOGI INTERNET OF THING (IOT)

Sarasehan dan Workshop Penggunaan Teknologi Internet of Thing (IoT) Pertanian Cerdas (Smart Farming) Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Menuju Desa Cerdas (Smart Village) :
1) Konsep desa cerdas (smart village) dan pertanian cerdas (smart farming).
2) Komitmen, rekomendasi dan pembentukan komunitas ekosistem pertanian cerdas.
3) Pemetaan dan revitalisasi ekosistem pertanian local di pedesaan.
4) Model bisnis hasil pertanian berbasis komunitas.
5) Tata kelola techno sociopreneur menuju ekonomi cerdas (smart economy).

Praktek Implementasi IoT Smart Farming di Lahan Percontohan Kelompok Tani :
1) Pengolahan lahan konvensional untuk transformasi organic dan instalasi peralatan teknologi Internet of Things (IoT).
2) Mekanisasi irigasi dan treathment tanah lahan pertanian sebagai media tanam.

Instalasi dan alih teknologi Sistem Stasiun Cuaca dan Kontrol Nutrisi Tanaman Hortikultura dan Perkebunan di lahan kelompok tani sebagai percontohan :
1) Sensor Kelembaban Tanah : untuk mendapatkan nilai kelembaban tanah / kadar air dalam tanah.
2) Sensor PH Tanah : untuk mendapatkan nilai pH atau kadar asam/basa di dalam tanah.
3) Sensor Hujan : untuk mendapatkan nilai curah hujan dan mengirim notifikasi jika terjadi hujan di kebun.
4) Sensor Udara : untuk mendapatkan nilai temperatur udara, kelembaban udara, tekanan angin, dan ketinggian permukaan di kebun.

Gambar 1 : Blok Diagram Sistem

Sistem ini juga dapat mengontrol penyiraman secara jarak jauh hanya menggunakan koneksi internet dan aplikasi yang ada pada smartphone petani. Penyiraman pada sistem IoT ini berkolaborasi dengan sistem irigasi tetes sehingga dapat menghemat penggunaan air.

Cara Kerja alat, Kelebihan dan fitur yang tersedia:

1) Semua parameter yang didapatkan dikirim ke smartphone melalui internet, sehingga tercipta stasiun cuaca sekaligus aplikasi pengendali hanya dalam 1 aplikasi.
2) Nilai parameter dapat dilihat oleh pengguna melalui smartphone secara real-time.
3) Tombol-tombol untuk mengendalikan penyiraman tanaman juga tersedia pada smartphone.
4) Ketika terjadi hujan, ataupun perubahan nilai parameter yang signifikan, maka sistem akan mengirim notifikasi ke petani.
5) Terdapat tampilan grafik nilai parameter dalam bentuk visual, sehingga pengguna dapat melihat data histori mereka.
6) Data hasil sensor dapat disimpan dan diunduh dalam bentuk table, sehingga pengguna memperoleh data dokumentasi dan histori sistem.

Gambar 2. Skema Alur Cara Kerja Sistem

Toolbar Disabilitas