Program Internet Sambung Desa (ISD), Penerapan IoT Pertanian Cerdas di Lahan Percontohan Kelompok Tani

“Dengan pengolahan pertanian secara modern, saya harapkan pertanian Indonesia dapat tumbuh sebagai pilar penting pertumbuhan ekonomi nasional. Pertanian akan semakin maju. Masyarakat akan semakin lebih sejahtera,” Jokowi – Presiden RI (30/10/2020).

Internet Sambung Desa (ISD)|Hadirnya Teknologi Digital, khususnya konektifitas Internet telah memberikan dampak positif bagi berbagai sektor kehidupan, antara lain pada sektor pertanian dan ekonomi di desa.

Peningkatan Akses kepada Data Informasi Pertanian, dan Perekonomian local desa akan lebih meningkatkan dampak positif, yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat di Desa.

Namun, pemanfaatan teknologi digital di perdesaan memerlukan literasi digital berkelanjutan, karena tidak semua anggota masyarakat memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup dalam memanfaatkan perangkat digital, seperti Smart Phone, Internet dan Teknologi IoT smart farming, sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas (capacity building) yang berkelanjutan.

Melalui program Internet Sambung Desa (ISD), terkait digitalisasi pertanian cerdas (smart farming) secara mandiri kepada petani dan segenap warga masayarakat desa harus memiliki komitmen yang kuat untuk membangun percontohan penggunaan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas pertanian hulu – hilir, dengan pendampingan yang terintegrasi dan berkesinambungan.

Sesuai amanat UU No. 6 Tahun 2014 bahwa kedudukan desa sebagai pemerintahan berbasis masyarakat, yaitu campuran dari komunitas yang mengatur dirinya sendiri (self governing community) dan pemerintahan lokal (local self government), sangat efektif dalam memberdayakan para petani dan pelaku usaha mikro produk hasil pertanian, sebagai kelompok masayarakat terbanyak menuju kehidupan yang lebih sejahtera.

LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

  • Akselerasi transformasi digital di sektor pertanian, koperasi dan UMKM belum optimal. Padahal sektor pertanian telah mendorong perekonomian dasar masyarakat tetap bergerak saat pandemi Covid-19. Sedangkan sektor UMKM telah berkontribusi terhadap PDB sebesar 61,07 persen. Artinya, jika sektor pertanian dan UMKM terus tumbuh akan berimbas terhadap pertumbuhan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat.  
  • Kendala yang dialamai di pedesaan saat ini meliputi rendahnya kualitas SDM dan belum sejalannya agenda strategis di pemerintah daerah dengan pemerintah desa. Krisis pangan dikhawatirkan akan terjadi beberapa tahun kedepan yang disebabkan oleh tingginya jumlah penduduk dan rendahnya produksi pertanian, serta terjadinya alih lahan pertanian. Demikian juga upaya pemerintah daerah dalam membina koperasi dan UMKM yang semakin tumbuh, karena secara konvensional, memiliki keterbatasan rasio jumlah tenaga (SDM).
  • Literasi digital sektor pertanian di Kabupaten Blitar masih rendah, mayoritas tidak mengenyam pendidikan tinggi (65% dari jumlah petani berpendidikan SD) dan sebagian besar petani berusia 45 tahun ke atas (71% dari jumlah petani).
  • Demikian juga dengan sektor koperasi dan UMKM, dimana SDM pengurus koperasi dalam hal kecakapan digital masih sangat rendah. Sedangkan dari pihak Pemerintah Daerah masih belum adanya fasilitasi digitalisasi koperasi. Kapasitas produksi Usaha Mikro (UM) masih rendah, sehingga daya saing UM masih lemah. Sehingga tantangan akses pasar yang belum bisa dioptimalkan meski sebagian sudah masuk dalam ekosistem digital.
  • Dalam transformasi digital, pembangunan infrastruktur teknologi hanya menyumbang 20 persen, sisanya lebih pada aspek politik, kultur, mindset, kompetensi (sumber daya manusia). Sehingga tantangan sektor pertanian di desa saat ini adalah mempertajam pengetahuan dan literasi digital masyarakat secara masif.
  • Di sektor ekonomi dan pertanian masyarakat desa perlu adanya big data yang uptodate agar seluruh potensi hasil produksi pertanian masyarakat desa bisa diakses kapanpun dan di manapun sebagai salah satu dasar utama perencanaan pembangunan desa berbasis data.
  • Pembangunan infrastruktur dalam konteks digitalisasi masih belum merata, masih banyak daerah perdesaan di Kabupaten Blitar belum mendapat akses internet yang terjangkau dan berkualitas. Tidak meratanya akses internet ini berimplikasi besar pada implementasi kebijakan digitalisasi sektor pertanian, baik hulu maupun hilir. Tidak hanya sebagai pondasi dasar dalam sistem tata kelola pemerintahan digital, persoalan infrastruktur ini juga merembet ke permasalahan lainnya, seperti minimnya budaya digital masyarakat petani. Sehingga ketidaksiapan petani karena kesenjangan digital tersebut menjadi alasan utama tata kelola pertanian cerdas (smart farming) berbasis digital belum secara masif dipergunakan.

AGRICULTURE 4.0 UNTUK PERTANIAN DI DESA

Disebut bahwa pada abad ke 22 atau lebih tepatnya tahun 2100 jumlah umat manusia diperkirakan akan mencapai angka 10 miliar orang. Sedangkan, produksi pertumbuhan pangan masih jauh untuk mencukupi banyaknya orang pada saat itu tiba. Banyak kendala yang menghambat, seperti lahan, cuaca dan man power.

“Jumlah populasi manusia semakin bertambah, tidak mungkin petani dapat menghasilkan makanan untuk manusia jika masih menggunakan cara-cara yang sama seperti pada saat populasi manusia masih sedikit”

Disinilah peran teknologi sangat dibutuhkan, Internet Of Things (IOT) adalah salah satu hal dari sekian banyak hal yang dapat meningkatkan produktivitas di pertanian kita.

Sektor agrikultur adalah sektor yang jarang tersentuh oleh perkembangan teknologi informasi, oleh karena itu dengan semakin banyak orang di industri teknologi informasi yang mau berkecimpung diharapkan makin memajukan sektor agrikultur di desa.

Walaupun banyak sekali pro dan kontra dalam penerapan IoT pada bidang agrikultur. Tetapi yang namanya kemajuan teknologi, mau tidak mau kita tetap harus menyesuaikannya. Strategi yang perlu dilakukan :

  • Perlu penerapan multidisiplin ilmu.
  • Regenerasi petani muda yang paham teknologi.
  • Membangun komunikasi yang baik dengan para petani.
  • Pembuatan Pilot Project, sehingga dapat memberikan contoh penerapan IoT yang sukses. Itupun masih belum 100% dapat berjalan dengan baik, mengingat sistem tradisional yang masih melekat pada kebudayaan agrikultur di Indonesia (Sumber: AnbiDev).

Dari introduksi dan latar belakang permasalahan sebagaimana telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan teknologi tak dapat terelakkan dan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Sudah saatnya bagi calon perekayasa pertanian untuk mulai bergerak, mengamati keadaan pertanian saat ini, berinovasi serta terus mengembangkan potensi pertanian yang dimiliki. Sekarang saatnya petani muda yang ada di desa membawa perubahan ke arah yang lebih baik demi memajukan pertanian menuju kesejahteraan masyarakat desa.

PRAKTEK PENERAPAN TEKNOLOGI INTERNET OF THING (IOT)

Sarasehan dan Workshop Penggunaan Teknologi Internet of Thing (IoT) Pertanian Cerdas (Smart Farming) Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Menuju Desa Cerdas (Smart Village) :
1) Konsep desa cerdas (smart village) dan pertanian cerdas (smart farming).
2) Komitmen, rekomendasi dan pembentukan komunitas ekosistem pertanian cerdas.
3) Pemetaan dan revitalisasi ekosistem pertanian local di pedesaan.
4) Model bisnis hasil pertanian berbasis komunitas.
5) Tata kelola techno sociopreneur menuju ekonomi cerdas (smart economy).

Praktek Implementasi IoT Smart Farming di Lahan Percontohan Kelompok Tani :
1) Pengolahan lahan konvensional untuk transformasi organic dan instalasi peralatan teknologi Internet of Things (IoT).
2) Mekanisasi irigasi dan treathment tanah lahan pertanian sebagai media tanam.

Instalasi dan alih teknologi Sistem Stasiun Cuaca dan Kontrol Nutrisi Tanaman Hortikultura dan Perkebunan di lahan kelompok tani sebagai percontohan :
1) Sensor Kelembaban Tanah : untuk mendapatkan nilai kelembaban tanah / kadar air dalam tanah.
2) Sensor PH Tanah : untuk mendapatkan nilai pH atau kadar asam/basa di dalam tanah.
3) Sensor Hujan : untuk mendapatkan nilai curah hujan dan mengirim notifikasi jika terjadi hujan di kebun.
4) Sensor Udara : untuk mendapatkan nilai temperatur udara, kelembaban udara, tekanan angin, dan ketinggian permukaan di kebun.

Gambar 1 : Blok Diagram Sistem

Sistem ini juga dapat mengontrol penyiraman secara jarak jauh hanya menggunakan koneksi internet dan aplikasi yang ada pada smartphone petani. Penyiraman pada sistem IoT ini berkolaborasi dengan sistem irigasi tetes sehingga dapat menghemat penggunaan air.

Cara Kerja alat, Kelebihan dan fitur yang tersedia:

1) Semua parameter yang didapatkan dikirim ke smartphone melalui internet, sehingga tercipta stasiun cuaca sekaligus aplikasi pengendali hanya dalam 1 aplikasi.
2) Nilai parameter dapat dilihat oleh pengguna melalui smartphone secara real-time.
3) Tombol-tombol untuk mengendalikan penyiraman tanaman juga tersedia pada smartphone.
4) Ketika terjadi hujan, ataupun perubahan nilai parameter yang signifikan, maka sistem akan mengirim notifikasi ke petani.
5) Terdapat tampilan grafik nilai parameter dalam bentuk visual, sehingga pengguna dapat melihat data histori mereka.
6) Data hasil sensor dapat disimpan dan diunduh dalam bentuk table, sehingga pengguna memperoleh data dokumentasi dan histori sistem.

Gambar 2. Skema Alur Cara Kerja Sistem

Toolbar Disabilitas