Sound Horeg: Ketika Budaya Baru dan Tradisi Bertabrakan

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena “sound horeg” telah tumbuh menjadi isu nasional yang kompleks dan memicu perdebatan. Berawal dari acara-acara hiburan sederhana di pedesaan, sound horeg kini telah bertransformasi menjadi gelaran yang masif, lengkap dengan tata suara berkekuatan tinggi dan efek visual yang menyerupai diskotik. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah manifestasi dari budaya baru yang berkembang pesat di kalangan masyarakat, khususnya generasi milenial di wilayah pinggiran dan pedesaan. Namun, kehadirannya yang tanpa batas mulai menimbulkan polemik, memunculkan pertanyaan besar: apakah sound horeg dapat diterima sebagai bagian dari budaya baru, atau justru menjadi ancaman bagi tatanan sosial, tradisi, dan kearifan lokal?

Dari Sound System Sederhana Menjadi Dunia Gemerlap Terbuka

Awalnya, sound horeg adalah sebutan yang merujuk pada sistem tata suara yang kuat untuk memeriahkan acara-acara masyarakat seperti hajatan, karnaval, atau festival desa. Namun, seiring berjalannya waktu, para penyedia jasa sound system berlomba-lomba untuk menghadirkan perangkat yang lebih canggih, dengan dentuman bass yang menggetarkan dada dan treble yang melengking tajam. Ditambah dengan efek lampu laser, asap, dan pencahayaan layaknya panggung diskotik, sound horeg tidak lagi sekadar pengiring acara, melainkan menjadi inti dari hiburan itu sendiri.

Bagi sebagian besar generasi milenial di pedesaan, sound horeg menawarkan pengalaman hiburan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka tidak perlu pergi ke kota atau klub malam untuk merasakan sensasi dunia gemerlap. Dengan biaya yang relatif terjangkau, mereka dapat berkumpul, menari, dan bersenang-senang di lapangan terbuka, menikmati musik dengan volume maksimal yang membuat seolah-olah “terhanyut” dalam euforia. Fenomena ini memberikan ruang ekspresi dan interaksi sosial yang baru bagi kaum muda, yang sering kali merasa terpinggirkan dari akses hiburan modern.

Polemik dan Benturan dengan Nilai Lokal

Namun, di balik euforia tersebut, muncul berbagai permasalahan yang mengundang pro dan kontra. Salah satu isu utama adalah benturan antara budaya sound horeg dengan kearifan lokal dan tradisi yang telah mengakar kuat. Di banyak daerah, acara-acara tradisional seperti wayang kulit, ketoprak, atau pertunjukan musik gamelan yang tenang dan sarat makna mulai tergusur oleh dominasi panggung sound horeg. Musik yang dimainkan sering kali tidak lagi mencerminkan lagu-lagu daerah, melainkan lagu-lagu pop atau remix yang cenderung seragam.

Selain itu, keberadaan sound horeg yang digelar di ruang publik secara terbuka tanpa batasan usia menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat. Anak-anak dan remaja yang seharusnya terlindungi dari konten dewasa kini dengan mudah terpapar oleh atmosfer yang menyerupai dunia diskotik. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang dampak psikologis dan sosial jangka panjang, serta potensi pergeseran nilai-nilai etika dan moral di kalangan generasi muda. Suara yang terlalu keras juga menjadi sumber polusi suara yang mengganggu ketenangan lingkungan, terutama bagi warga lansia atau mereka yang sedang sakit.

Ancaman terhadap Budaya Nusantara dan Solusi Holistik

Dalam skala yang lebih luas, fenomena sound horeg juga bisa menjadi ancaman bagi budaya Nusantara secara nasional. Jika tren ini terus berkembang tanpa kendali, dikhawatirkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia akan semakin terpinggirkan. Kesenian tradisional yang penuh filosofi dan makna bisa kehilangan daya tarik di mata generasi muda, digantikan oleh bentuk hiburan yang lebih instan dan konsumtif.

Untuk menghadapi polemik ini, diperlukan pendekatan yang holistik, tidak hanya sekadar melarang atau membatasi. Pemerintah dan tokoh masyarakat perlu berkolaborasi untuk merumuskan kebijakan yang seimbang. Alih-alih melarang total, mungkin perlu ada regulasi yang mengatur jam operasional, tingkat kebisingan maksimal, dan jenis musik yang boleh dimainkan, terutama di ruang publik.

Selain itu, sangat penting untuk melakukan edukasi dan sosialisasi kepada para penyelenggara dan penikmat sound horeg tentang pentingnya menjaga harmoni sosial dan budaya. Mereka dapat diajak untuk mengintegrasikan unsur-unsur kearifan lokal dalam acara sound horeg, misalnya dengan menyelipkan pertunjukan seni tradisional di sela-sela musik modern atau menggunakan genre musik yang lebih beragam.

Pada akhirnya, sound horeg adalah fenomena sosial yang kompleks, mencerminkan keinginan kaum muda untuk berekspresi dan berinteraksi. Namun, kebebasan berekspresi tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab. Jika tidak dikelola dengan bijak, fenomena ini berpotensi menjadi bumerang, mengikis nilai-nilai luhur bangsa dan menciptakan benturan budaya yang merusak tatanan sosial. Tantangannya adalah menemukan titik temu, di mana budaya baru dapat tumbuh tanpa harus mengorbankan akar-akar tradisi dan kearifan yang telah menjadi jati diri bangsa Indonesia.

Diterbitkan oleh

Hamzah Fathoni

Pandu Literasi Digital, Founder Sambungdesa, Relawan TIK Indonesia

Toolbar Disabilitas