Desa Sumberejo: Potensi dan Tantangan Menuju Desa Cerdas di Kabupaten Situbondo

SAMBUNGDESA.COM, Kabupaten Situbondo. Pada hari jum’at, 01 Maret 2024, Team Leader Internet Sambung Desa Hamzah Fathoni, memaparkan Konsep dan berbagai tahapan dalam Implementasi Desa Cerdas kepada Dwi Aris Suryono, S.Pd., Kepala Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbundo, dan Shokhibul Mighfar, Ketua Relawan TIK Kabupaten Situbondo bertempat di Ruang Rapat BPD.

Dalam sesi pemaparan tersebut, langsung dilanjutkan dengan berbagai diskusi terkait regulasi, berbagai potensi, permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh Desa Sumberejo jika dikaitkan dengan berbagai Indikator dan Sub-indikator dari 6 (enam) Pilar Desa Cerdas – Keputusan Menteri Desa PDTT Nomor 55 Tahun 2024.

Diskusi Ruang Lingkup Smart Village

Desa Sumberejo, memiliki 8 (delapan) Dusun, dengan jumlah penduduk sebanyak 21.048. Mengapa jumlah penduduk Desa begitu besar, karena di Desa Sumberejo ada Pondok Pesantren besar Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, yang sudah tua dengan jumlah santri ribuan. Pondok Pesantren ini memiliki lembaga Pendidikan mulai dari SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, MA dan dua Perguruan Tinggi.

Sedangkan hasil pertanian, mulai dari jenis pertanian Pangan, Hortikultura dan Perkebunan ada. Sehingga lahan pertanian di Desa Sumberejo oleh masyarakat banyak ditanami berbagai jenis tanaman, mulai dari padi, cabe, melon, semangka, blewah sampai tanaman kelapa. Selain sebagai petani, masyarakat Desa juga banyak yang menjadi nelayan, di sepanjang pesisir pantai utara Jawa.

Di akhir diskusi, Forum mencoba untuk melakukan pemetaan dan review terkait potensi, permasalahan dan berbagai tantangan yang disampaikan secara detil oleh Kepala Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Hasil review dan pemetaan sementara diperoleh gambaran, khususnya yang berkaitan dengan Upaya mengatasi Perubahan Iklim (Climate Change), yaitu :

(1) Komunitas di Pondok Pesantren, menghasilkan Sampah 4 (empat) ton X 3, yang diangkut oleh 3 (tiga) truk setiap hari, yang seharusnya bisa dikelola dengan dipilah dan diolah oleh BUMDES atau Kelompok Masyarakat untuk produktifitas yang lebih tinggi. Apalagi pihak Pondok Pesantren ternyata memiliki berbagai mesin pengolah sampah plastik menjadi biji-bijian atau pelet. Akan tetapi tidak jalan karena tidak memiliki SDM, Manajemen Tata Kelola yang mendukung. Sehingga hal ini akan dilakukan kerjasama Pemerintah Desa, Kelompok Masyarakat dengan Pondok Pesantren, dan UPN Veteran Jatim, mulai dari pemisahan, pengolahan, sampai dengan Sistem tata Kelola Bank Sampah menggunakan Teknologi Digital .

(2) Masyarakat Desa Sumberejo, merupakan penghasil Kelapa yang sangat besar, sehingga Kulit Kelapa yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah yang dijual murah agar tidak menumpuk. Sehingga perlu adanya pengolahan untuk menjadi produk Sabut kelapa dan Cocopeat. Sehingga diharapkan adanya kerjasama dengan LPPM UPN Veteran Jatim untuk bantuan mesin-mesin pengolah kulit kelapa menjadi serabut dan cocopeat.

(3) Terkait dengan upaya penerapan teknologi penggunaan energi terbarukan, para nelayan kelas menengah yang selama ini jika melaut menggunakan Genset penerangan malam, dengan konsumsi BBM berupa Pertalite sebanyak 8 – 10 liter semalam, sehingga akan setara dengan fixed cost 10lt X Rp. 10.000 = Rp. 100.000. Jika bisa diganti dengan penggunaan Panel Surya akan menghilangkan fixed cost sebesar Rp. 100.000/ hari dikalikan 30 hari dalam sebulan Rp. 3.000.000. Jika Investasi peralatan Panel Surya untuk 4 lampu sebesar Rp. 11juta sampai dengan Rp. 14 juga, hanya butuh waktu 5 (lima) bulan untuk kembali Investasinya. Selebihnya jika umur peralatan sampai 5 (lima) tahun, selama itu akan bebas biaya untuk penggunaan energi. Karena dari BBM digantikan dengan tenaga Surya.

Bersama Ketua RTIK dan Kades Sumberejo, Kab. Situbondo

(4) Masyarakat Desa Sumberejo juga banyak memelihara ternah Sapi/ Lembu. Sehingga kotoran yang selama ini menumpuk bisa dimanfaatkan untuk Pupuk Organik, baik POG (Pupuk Organik Granule) maupun POC (Pupuk Organik Cair), juga bisa dioleh untuk menghasilkan unsur-unsur N, P dan K. Dengan bekerjasama Teknologi dengan Perguruan Tinggi, juga bisa dioleh untuk menjadi energi Biogas.

(5) Sebagian besar petani di Desa Sumberejo menjadi petani Cabe, Melon, Semangka, dan Blewah. Guna efisiensi di Sektor Hulu, agar lebih presisi, akan dilakukan uji coba penerapan Teknologi Internet of Things (IoT) untuk berbagai tanaman dengan pola tumpang sari. Sehingga mulai dari proses irigasi, pemupukan dan treatment tanaman dilakukan dengan penerapan mekanisasi pipa, springkle dan instalasi peralatan sensor dan pengendali ARDUINO.

(6) Sebagai tindaklanjut Pertanian Cerdas Sektor Hilir, Perniagaan pasca panen, serta mempermudah meningkatkan IPM, IDM, Perencanaan Pembangunan, dan Pencapaian SDG’s Desa, perlu segera dilakukan kegiatan update database mikro seluruh masyarakat desa, dengan menggunakan Master Data Kependudukan dan Master data Keluarga. Tentu saja perlu tools berupa Aplikasi https://sitakro.com sebagaimana sedang diimplementasi di Desa Sawentar atau https://sdgsdesa.com juga sedang diimplementasikan di Desa Wates, yang keduanya berada di Wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Diskusi berlanjut saat sesi makan siang di Istana Lele

Guna Implementasi dari apa yang sudah dirumuskan sementara dari hasil diskusi, perlu disusun Term Of Reference untuk seluruh kegiatan tersebut. Juga perlu dimasukkan ke dalam perumusan kembali hasil review RPJMDES, agar bisa dijadikan sebagai Roadmap (Peta Jalan) bagi Implementasinya.

Diterbitkan oleh

rtikablitar

Kabupaten Blitar - Jawa Timur | Indonesia

Toolbar Disabilitas